Renungan Harian Kristen Kisah Para Rasul 2:46, Sehati Bersekutu dan Tekun Beribadah
Alpen Martinus February 21, 2026 09:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID- Membaca dan merenungkan Firman tuhan setiap hari menjadi kebutuhan tubuh Rohani kita.

Agar iman kita kepata Tuhan Yesus menjadi semakin kiat.

Berikut rekomendasi renungan harian Kristen berjudul Sehati Bersekutu dan Tekun Beribadah.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Mazmur 5:12, Dilindungi oleh Kasih Tuhan

Bacaan Alkitab dalam Kisah Para Rasul 2:46.

Tiada hari tanpa bersekutu.

Tiada hari tanpa ibadah.

Tiada hari tanpa syukur kepada Tuhan.

Itulah cara hidup umat Tuhan, jemaat mula-mula. Mereka selalu datang ke Bait Suci, untuk bersekutu, beribadah dan memuji Allah.

Seperti kata nats, "lebih baik satu hari di pelataran rumah Allah dari pada seribu hari di tempat lain."

ya, hati umat selalu merindu ada dalam Bait-Nya yang Kudus, sebab di sana mereka hidup semakin erat melekat kepada Allah dan mengikatkan hubungan yang penuh damai dan sukacita dengan sesama orang percaya.

Itulah keadaan dan suasana hati jemaat mula-mula ketika pertama kali menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat umat manusia dan seluruh dunia.

Tak ada satupun hari yang terlewatkan tanpa mencari Tuhan, datang beribadah di rumah-Nya yang Kudus.

Mereka rajin bersekutu, beribadah, berdoa, memuji dan memuliakan Tuhan. Sungguh hati mereka terikat kepada Tuhan.

Sungguh perbuatan mereka melakukan segala kebaikan sesuai dengan hukum kasih yang diajarkan Kristus, melalui para rasul-Nya.

Mereka belajar firman bersama dan kemudian melayani bersama, mengabarkan Injil kepada semua orang.

Selain itu, kehidupan sosial berjemaat mereka secara jasmani, berlangsung dalam tali kasih yang saling peduli, saling menolong dan rela berkorban untuk kebaikan sesama.

Mereka hidup dalam kebersamaan, tanpa membedakan-bedakan apalagi mempertentangkan antara satu dengan yang lain.

Semua yang percaya satu hati, satu pikiran, satu tindakan hidup berkenan kepada Tuhan, melakukan segala firman dan kehendak Kristus dalam kehidupannya bersama.

Itu yang membuat suasana hati jemaat terus ada dalam sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kehidupan umat-Nya.

Mereka sehati sejiwa dan sepenanggungan.

Karena itu, mereka setiap hari saling berkunjung ke rumah masing-masing. 

Dan dalam kunjungan kepada sesama anak Tuhan itu, mereka saling berbagi.

Di setiap rumah yang dikunjungi itu, mereka memecahkan roti dan makan bersama.

Itu dilakukan secara bergilir dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain.

Siapa yang berkekurangan, akan dicukupkan oleh yang berkelebihan.

Sehingga semua kebutuhan makan minum mereka selalu terpenuhi, dan tak berkurang.

Memecahkan roti bersama atau makan bersama yang dilakukan secara bergilir itu, tidak sekedar memenuhi kebutuhan perut, jasmani tubuh manusiawi.

Bukan sekedar soal kenyang.

Tetapi dalam makan bersama itu menunjukkan jalinan kasih yang tulus dan murni, serasa dan tidak merasa yang satu lebih dari yang lain dan yang lain lebih rendah.

Tidak! Justru di situlah terbangun kebersamaan sehati sepikir, hidup dan bertumbuh bersama dalam kedewasaan iman untuk hormat dan kemuliaan Tuhan.

Jadi, dalam makan dan minum itu, terbangun suasana keramah-tamahan di antara semua anggota jemaat.

Dan ini menjadi motivasi bagi mereka untuk hidup semakin dekat dan semakin berkenan serta menyenangkan hati Tuhan.

Yang kaya membantu yang miskin, tanpa pamrih tanpa pencitraan, tapi melakukan dengan gembira, sukacita dan hati yang tulus.

Bukan dalam keterpaksaan apalagi dalam kemunafikan.

Semua terbangun dengan baik karena masing-masing tahu apa yang harus dilakukan untuk persekutuan jemaat dan untuk Tuhan.

Merekapun diberkati oleh Tuhan dengan limpahnya dan mereka terus memuliakan Tuhan.

Dan dari cara hidup mereka, semakin banyak orang menjadi percaya kepada Yesus, bertobat dan mengikuti Dia.

Demikian firman Tuhan hari ini.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah.

Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, (ay 46)

Sahabat Kristus, jemaat mula-mula mengajarkan kita untuk hidup mencari Tuhan, tekun beribadah dan rajin berdoa serta selalu hidup dalam ucapan syukur, memuji dan memuliakan Tuhan.

Mereka selalu saling peduli dan saling menolong. Mereka melakukannya dengan hati yang gembira, sukacita dan hati yang tulus.

Mari kita lakukan itu dalam hidup kita, baik pribadi, dalam keluarga maupun berjemaat dan bermasyarakat.

Tolonglah sesama tanpa berharap balasan, juga bukan karena pencitraan.

Pedulilah dengan sesama.

Rajinlah bersekutu, beribadah, bersaksi dan melayani dengan hati yang gembira dan penuh ucapan syukur.

Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita bersama keluarga. Amin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.