TRIBUN-MEDAN.COM - Kronologi kasus penganiayaan anak tiri di Sukabumi, Jawa Barat, ini memang sangat memilukan.
Sang ayah, Anwar Satibi, bahkan pernah melaporkan istrinya ke polisi tahun lalu, namun kasus berakhir damai setelah adanya permintaan maaf dan surat pernyataan dari sang ibu tiri.
Sayangnya, kesempatan untuk berubah itu tidak dimanfaatkan, hingga akhirnya berujung pada tragedi kematian anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP.
Beberapa poin penting dari kronologi kasus ini:
- Riwayat penganiayaan: NS sudah pernah dianiaya sejak kecil, bahkan sempat dilaporkan ke polisi.
- Upaya damai: Ayah korban memaafkan istrinya setelah permintaan maaf dan surat pernyataan dibuat.
- Kondisi korban: Saat pulang dari pesantren, NS masih sehat. Namun kemudian ditemukan luka-luka yang diduga akibat penganiayaan.
- Pengakuan korban: Sebelum meninggal, NS sempat mengaku dipukul dan disuruh minum air panas oleh ibu tirinya.
- Hasil forensik: Ditemukan luka bakar lama di tubuh korban, serta kejanggalan pada organ dalam (paru-paru membengkak). Sampel organ diambil untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
Rangkaian Kejadian
NS (12) merupakan bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.
Ia kini duduk di bangku kelas 1 SMP dan sekolah di pesantren.
Saat bulan puasa, NS pulang ke rumah dan sempat jalan-jalan bersama ayahnya.
Penganiayaan itu baru diketahui saat sang ayah, Anwar Satibi, yang tiba-tiba ditelepon oleh istrinya.
"Pas pulang (dari pesantren) belum terjadi apa-apa, kulitnya belum ancur. Terus istri saya nelepon, ‘yah pulang, si Raja sakit panas’, saya pulang. Pas saya pulang memang sangat jauh sebelum keberangkatan saya, kondisi anak saya," tutur Anwar.
Menurut Anwar, tahun lalu anaknya itu juga pernah dianiaya oleh sang istri.
Bahkan ia sempat melaporkan kejadian itu ke polisi, namun berakhir damai.
"Sebelumnya juga pernah terjadi penganiayaan, saya laporkan ke polres PPA, istri saya datang, memohon, sujud ke saya," katanya.
Ia memaafkan sang istri dengan harapan bisa berubah jadi lebih baik.
"Akhirnya saya minta saran ke Pak H Isep, kata Pak Haji tidak ada salahnya memaafkan seseorang, siapa tahu dia berubah ke depan," ucap Anwar.
Saat itu, kata dia, sang istri sampai membuat surat pernyataan dan video pernyataan.
"Dibikinkan surat penyataan, video pernyataan, dan sebetulnya laporan itu pun belum saya cabut, itu setahun yang lalu waktu kelas 6 SD, sekarang kelas 1 SMP," jelas dia lagi.
Sementara itu kerabat Anwar, H Isep mengatakan bahwa saat kejadian itu ayah korban sedang bekerja ke luar kota.
"Bapaknya lagi gak ada, lagi di Sukabumi kota, lagi usaha," ucapnya.
Menurut Isep, korban adalah sosok anak yang baik.
"Si anak baik-baik saja, kan lagi pesantren, saya yang masukin pesantrennya juga," kata dia.
Rupanya NS dimasukkan ke pesantren karena Anwar dan istrinya sering cekcok gara-gara anak.
"Sering cekcok keluarga ini, pertama masalah anak tersebut, kata saya daripada ribut terus, udah aja masukin pesantren biar aman. Cuma kemarin waktu puasa pada pulang dulu," tuturnya.
Melihat kondisi NS, Isep pun menduga kalau bocah laki-laki itu dianiaya.
Sebab luka-luka di tubuhnya tidak seperti akibat demam tinggi.
"Ada kemungkinan, ada indikasi ini penganiayaan. Ditanya sama ayahnya gak mau jawab, takut," kata dia.
"Alhamdulillah sebelum meninggal sempat sadar, itu ketahuannya pas bapaknya pulang. Seminggu sebelumnya juga sehat jalan-jalan, dari pesantren juga dipelihatkan videonya, sehat," tutunya lagi.
Pada video yang viral di media sosial, NS mengaku diniaya oleh ibu tirinya.
Selain dipukul, NS juga mengaku kalau dirinya sempat disuruh minum air panas.
"Disuruh makan air panas," kata korban lagi.
Naas setelah membuat pengakuan itu, NS tidak bisa lagi bertahan hingga akhirnya meninggal duni di ruang ICU RS Jampang Kulon.
Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr Carles Siagian mengungkap adanya luka bakar di lengan, kaki kanan, kii, hingga punggung.
Yang paling mencolok, kata dia, ditemukan luka baka lama yang sudah pemanen di area bibir atas dan hidung.
"Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," kata dia.
Namun ada kejanggalan saat tim forensik memeriksa bagian organ dalam.
Ditemukan kondisi paru-paru korban yang sedikit membengkak.
Karena luka di tubuh korban dianggap tidak mematikan, tim forensik kini mencari adanya fakto lain di dalam tubuh korban.
"Kami sudah mengambil sampel organ untuk diuji laboratorium di Jakarta. Kami ingin mengetahui apakah ada zat-zat tertentu di dalam organ," jelasnya.
Meski isu dugaan penganiayaan oleh ibu tiri viral di media sosial, dr Carles menegaskan bahwa pihaknya tidak menemukan tanda-tanda kekeasan akibat benda tumpul.
(*/tribun-medan.com)
Baca juga: TAMPANG Ibu Tiri Penganiaya Anak Hingga Tewas, Dilakukan Selama Setahun, Pernah Sujud Minta Maaf
Baca juga: TERKUAK Remaja 12 Tahun Tewas Dianiaya Ibu Tiri, Paru-Paru Rusak Gegara Dipaksa Minum Air Panas