TRIBUNSUMSEL.COM - NS, bocah 12 tahun di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia dengan luka bakar di sejumlah bagian tubuh.
Sebelumnya NS viral karena kondisinya dipenuhi luka bakar diduga korban kekerasan ibu tiri.
Kini NS telah dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026) sore.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono membenarkan adanya kejadian tersebut.
Ia mengaku bahwa pihaknya masih menunggu hasil autopsi dari pihak forensik.
“Sudah sedang berjalan penyelidikan, sambil nunggu hasil otopsi,” kata Hartono dalam keterangan tertulisnya saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp. Jumat (20/2/2026) siang.
Baca juga: Bocah 6 Tahun Tewas Akibat Pendarahan Kepala, Ini Pengakuan Ibu Tiri yang Menganiayanya di Bogor
Dikonfirmasi pada Ayah korban, Anwar Satibi (38 tahun) memaparkan bahwa ia akan mengambil tindakan hukum jika benar bahwa anaknya menjadi korban KDRT oleh ibu tirinya.
“Jika ada indikasi perlakuan yang diluar saya mohon dihukum yang seberat beratnya,” tutur Anwar saat ditemui awak media di RS. Bhayangkara TK II Setukpa Polri, Jumat (20/2/2026) siang.
Anwar menerangkan bahwa NS memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang kiai agar bisa berdakwah dan mengajak pada kebaikan.
Demi mengejar cita-cita tersebut, korban yang kini duduk di kelas 1 SMP sudah setahun terakhir mengenyam pendidikan di pesantren sembari sekolah formal.
“(Almarhum memiliki cita-cita) beda dengan orang lain, dia ingin jadi kiyai,” kata Anwar saat ditemui awak media di RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi, Jumat (20/2/2026) siang.
Anwar mengenang, lima hari sebelum mengembuskan napas terakhir, putranya itu masih tampak ceria.
Ia bahkan sempat mengajak NS jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama.
Dalam kesehariannya, NS dikenal sebagai anak yang rajin dan sangat berbakti.
Anwar menyebut putranya sering mengungkapkan rasa syukur atas sekecil apa pun yang diberikan oleh ayahnya.
“Sampai kemarin saya pulang terus saya kasih uang Rp 50.000 rupiah, alhamdulillah terus sama dia (Ns) di kesiniin (jidat) alhamdulillah katanya buat nanti bekal di pesantren,” tutur Anwar.
Kini, keceriaan itu sirna dan menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga.
Anwar menegaskan dirinya ingin penyebab kematian sang anak terungkap secara terang benderang.
Itulah alasan ia memberikan izin kepada pihak kepolisian untuk melakukan langkah otopsi.
Anwar berharap jika nantinya terbukti ada unsur tindak pidana dalam kematian anaknya, hukum harus ditegakkan seadil-adilnya.
“Harapan saya kalau memang ini terbukti biar jadi efek jera, kita harus ingat negara kita ini negara hukum, apa pun perlakuan manusia di muka bumi ini tentunya itu harus bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Anwar.
Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan apakah luka bakar pada tubuh korban berkaitan langsung dengan penyebab kematian atau ada faktor lain.