TRIBUNKALTIM.CO - Duka mendalam menyelimuti warga Kabupaten Sukabumi setelah seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun, berinisial NS, meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan.
Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan harapan, NS justru harus meregang nyawa dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, diduga akibat kekerasan yang dilakukan oleh ibu tirinya.
Korban ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, dengan bekas luka bakar di sejumlah bagian tubuh serta pembengkakan pada organ dalam.
Keluarga yang terpukul kemudian menyerahkan jenazah NS ke RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri untuk dilakukan autopsi guna mengungkap penyebab pasti kematiannya.
Baca juga: 6 Fakta Bocah di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri: Kronologi, Bantahan TR, hingga Hasil Visum
Sang ayah, Anwar Satibi (38), mengungkapkan bahwa sebelum meninggal dunia, NS sempat menceritakan luka-luka di tubuhnya kepada kerabat.
Dalam pengakuan polosnya, korban menyebut bahwa dirinya dianiaya oleh ibu tirinya.
Fakta ini memperkuat dugaan keluarga bahwa kekerasan terhadap NS telah berlangsung berulang kali.
Anwar juga menyebut, dugaan kekerasan oleh ibu tiri bukan kali pertama terjadi.
Pada tahun 2025, peristiwa serupa pernah dilaporkan ke pihak kepolisian, namun saat itu berujung mediasi dan perdamaian setelah sang istri memohon maaf dan berjanji bertobat.
“Ini (KDRT) sudah pernah terjadi cuma dimediasi, dia sujud ke saya jangan lapor, katanya mau tobat. Sebetulnya laporan saya di polres belum dicabut,” ujar Anwar kepada awak media.
Kepala RS Bhayangkara Setukpa, Kombes Pol dr. Carles Siagian, memaparkan hasil awal otopsi terhadap NS.
Tim forensik menemukan sejumlah luka bakar yang tersebar di beberapa bagian tubuh korban.
“Dari hasil ditemukan, anak-anak usia 12 tahun dengan luka bakar di anggota gerak di kaki kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung dan luka bakar, juga ada di area bibir dan hidung yang diduga karena luka bakar,” kata Carles, Jumat (20/2/2026), seperti dilansir Kompas.com.
Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan penyebab luka tersebut, apakah murni akibat tindakan kekerasan atau faktor lain.
“Kami tidak bisa menyebutkan apakah itu kekerasan atau bukan. Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar,” tambahnya.
Secara medis, luka bakar yang ditemukan dinilai belum cukup untuk menjadi penyebab tunggal kematian.
Oleh karena itu, tim forensik melakukan pemeriksaan lanjutan dengan mengambil sampel organ penting.
“Sudah dilakukan pemeriksaan dalam, organ-organ diotopsi, dan kami mengirimkannya ke laboratorium di Jakarta untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ,” tegas Carles.
Organ jantung dan paru-paru menjadi fokus pemeriksaan karena ditemukan adanya pembengkakan.
“Jantung dan paru-paru, karena ada sedikit membengkak. Belum tahu apakah itu karena korban punya penyakit sebelumnya atau tidak,” ujarnya, seperti dilansir Kompas.com.
Hasil uji laboratorium diperkirakan baru keluar dalam waktu 5 hingga 7 hari.
Baca juga: Penganiayaan Bocah di Kutim hingga Tewas Terungkap dari Foto, Ayah Kandung dan Ibu Tiri Tersangka
Ibu tiri korban, TR, membantah keras tudingan bahwa dirinya menyiram atau memaksa NS meminum air panas.
Dalam keterangannya kepada Kompas.com, TR menyebut bahwa luka melepuh yang dialami korban bukan akibat kekerasan.
“Kalaupun ada kulit yang melepuh, itu faktor panas dalam, bukan penyiraman air panas. Saya tidak sekejam seperti yang dituduhkan netizen,” ujar TR.
Ia juga mengaku telah merawat NS sejak duduk di bangku kelas 3 SD dan menyerahkan sepenuhnya kebenaran pada proses hukum.
“Biar waktu yang menjawab segalanya,” katanya, seperti dilansir Kompas.com.
Fakta lain yang terungkap, ibu tiri NS ternyata memiliki riwayat kekerasan dalam rumah tangga sebelumnya.
Meski sempat berjanji untuk berubah dan bertobat, kekerasan diduga kembali terjadi hingga berujung pada kematian tragis bocah malang tersebut.
Kini, Anwar hanya berharap keadilan ditegakkan dan penyebab pasti kematian putranya dapat terungkap.
“Saya tidak ingin menuduh atau memfitnah. Saya hanya ingin tahu dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya,” katanya, seperti dilansir Tribuntrends.com.
NS sempat dilarikan ke RS Jampang Kulon pada Kamis (20/2/2026) pagi, namun nyawanya tak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia pada sore hari. Kasus ini masih terus didalami aparat kepolisian sembari menunggu hasil laboratorium pasca-autopsi.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam dan menjadi pengingat pahit bahwa seorang anak berusia 12 tahun seharusnya dilindungi, bukan menjadi korban kekerasan di lingkungan terdekatnya.