Takjil Favorit Ramadan 2026 di Penajam Paser Utara, Bingka Paling Cepat Ludes
Miftah Aulia Anggraini February 22, 2026 09:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO, PENAJAM – Menjelang waktu berbuka puasa, lapak-lapak takjil di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, selalu dipadati pembeli. 

Dari sekian banyak pilihan, satu yang paling cepat ludes, kue bingka.

Di atas meja jualan, loyang-loyang berbentuk bunga berisi bingka warna hijau pandan dan kuning keemasan tersusun rapi.

Teksturnya tampak lembut dan sedikit bergelombang di permukaan, tanda khas kue ini dipanggang hingga bagian atasnya matang sempurna namun bagian dalamnya tetap lembap.

Baca juga: Manisnya Amparan Tatak Resep Warisan, Jadi Primadona di Pasar Ramadhan Balikpapan Permai

Bingka dikenal sebagai kue tradisional khas suku Banjar Kalimantan Selatan.

Berbahan dasar telur, santan, gula, dan tepung.

Di Penajam Paser Utara, varian yang paling digemari adalah pandan dan original.

Aroma santannya kuat, manisnya pas, dan sensasi lembutnya langsung terasa, sejak suapan pertama.

Disajikan dalam potongan besar, kue ini biasa dijual per loyang atau per potong, tergantung permintaan pembeli.

Baca juga: Kisah Kue Amparan Tatak dari Banjar ke Samarinda hingga Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

“Kalau Ramadhan, bingka ini pasti dicari. Sehari bisa habis belasan loyang. Paling cepat habis yang pandan,” ujar Rahma, salah satu penjual bingka di Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam.

Menurutnya, kue bingka mulai dibuat sejak siang hari agar masih hangat saat dijual.

Prosesnya tidak rumit, tapi butuh ketelatenan.

Adonan harus pas takarannya agar teksturnya tidak bantat dan tetap lembut.

Loyang berbentuk bunga juga menjadi ciri khas yang membuat tampilannya menarik.

Baca juga: Manisnya Berbuka, Amparan Tatak dan Kakicak Jadi Primadona Takjil di Penajam Paser Utara

Di tengah ramainya pembeli yang memilih takjil, bingka selalu jadi incaran.

Banyak yang sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan.

Selain rasanya yang cocok untuk berbuka, kue ini juga cukup mengenyangkan.

“Kalau buka puasa tanpa bingka rasanya kurang lengkap. Manisnya itu pas buat balikin tenaga,” kata Ardi, warga Petung.

Tak hanya soal rasa, bingka juga menyimpan nilai nostalgia.

Baca juga: 150 Pedagang Ramaikan Pasar Ramadan Segiri Samarinda, Amparan Tatak Jadi Primadona

Bagi sebagian warga Penajam Paser Utara, kue ini sudah menjadi bagian dari tradisi Ramadhan sejak lama.

Resepnya diwariskan turun-temurun, dengan cita rasa yang tetap dipertahankan.

Harganya pun masih terjangkau.

Satu loyang biasanya dijual mulai dari Rp25 ribu hingga Rp40 ribu, tergantung ukuran dan varian.

Baca juga: Komunitas Sumbu Tengah Samarinda Bahas Amparan Tatak Warisan Budaya Nasional

Dengan harga tersebut, satu loyang bisa dinikmati bersama keluarga saat berbuka.

Di tengah menjamurnya aneka takjil modern, bingka tetap bertahan sebagai favorit.

Sederhana, lembut, dan kaya rasa santan, itulah yang membuatnya tak tergantikan di meja berbuka warga Benuo Taka.

“Banyak kue baru sekarang, tapi tetap saja yang dicari bingka. Sudah dari dulu begini,” tutup Rahma. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.