Sosok TR, Ibu Tiri Diduga Aniaya Anak Sambung Hingga Meninggal di Sukabumi, Pernah Dilaporkan KDRT
Moch Krisna February 22, 2026 11:01 AM

 

 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kasus meninggalnya NS (12) di wilayah Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, menyita perhatian publik.

Korban diduga mengalami penganiayaan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Nama ibu tiri korban, berinisial TR (47), turut menjadi sorotan.

Ia disebut sebagai sosok yang diduga melakukan penganiayaan terhadap anak sambungnya tersebut.

TR merupakan istri dari Anwar Satibi (38) ayah kandung korban.

Baca juga: Lewat Voice Note, Ibu Tiri NS Menangis Harap Mukjizat: Saya Tidak Sekejam yang Dituduhkan Netizen

Anwar menuturkan istrinya memiliki dua anak angkat, masing-masing satu perempuan dan satu laki-laki.

Saat itu, anak laki-laki yang kini duduk di kelas 3 SMA kerap terlibat pertengkaran dengan anak kandungnya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.

"Kalau berantem antara anak saya dengan anak itu, yang dihantam selalu anak saya,” ujar Anwar, Sabtu (21/2/2026), dilansir dari Tribunnewsbogor.com.

Ia mengaku pernah melaporkan istrinya itu dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Sukabumi sekitar satu tahun lalu.

Peristiwa itu dipicu pertengkaran antara korban dan anak angkat tersebut.

Namun, laporan tersebut tidak berlanjut setelah ada mediasi yang difasilitasi seorang tokoh masyarakat setempat bernama Haji Isep.

Saat itu, istrinya disebut memohon agar perkara tidak diteruskan.

“Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya Mama mau tobat dan berperilaku baik. Akhirnya terjadi perdamaian,” tuturnya.

Meski demikian, Anwar menegaskan laporan tersebut sebenarnya belum dicabut secara resmi.

Ia bahkan masih mengingat jelas kondisi anaknya saat itu mengalami luka dibagian tubuhnya dipukul menggunakan benda tumpul olen istrinya.

“Saksi waktu itu Kanit Riki. Kita buka baju anak saya, saya sampai nangis lihatnya,” ucapnya.

Kini, kasus dugaan penganiayaan kembali mencuat setelah korban mengalami kekerasan berat hingga meninggal dunia.

Perkara tersebut tengah dalam penanganan aparat kepolisian.

Anwar berharap apabila nantinya ditemukan unsur pidana, proses hukum dapat berjalan tegas.

“Kalau memang terbukti, saya ingin ini jadi efek jera. Kita ini negara hukum, jangan semena-mena,” tegasnya.

Baca juga: Sebelum NS Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas, Ibu Tiri Pernah Memukulinya Hingga Dilaporkan ke Polisi

 

BOCAH TEWAS DI SUKABUMI - Bocah di Sukabumi Ngaku Disiksa Ibu Tiri Sebelum Tewas, Tubuh Melepuh: Disuruh Minum Air Panas
BOCAH TEWAS DI SUKABUMI - Bocah di Sukabumi Ngaku Disiksa Ibu Tiri Sebelum Tewas, Tubuh Melepuh: Disuruh Minum Air Panas (Tribun Bogor)

 

Hasil Autopsi

Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr. Carles Siagian mengungkapkan hasil autopsi NS (12), seorang bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat tewas dianiaya ibu tirinya.

Diketahui, Tim forensik RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Sukabumi telah melakukan autopsi selama tiga jam pada Jumat (20/2/2026).

Carles mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter forensik, ditemukan luka bakar di sekujur tubuh korban mulai dari lengan, kaki, paha, tangan, hingga punggung. 

Selain itu, luka juga ditemukan di area bibir dan hidung yang diduga akibat paparan panas. 

"Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," ujar dr. Carles, dikutip Tribunjabar.id

Meski ditemukan banyak luka, tim medis belum bisa menyimpulkan apakah luka-luka tersebut merupakan hasil dari tindakan penganiayaan atau bukan.

Tim dokter masih harus melakukan pendalaman terhadap pola luka yang ditemukan di tubuh NS. 

Sementara, saat pemeriksaan organ dalam, tim dokter menemukan kondisi paru-paru korban yang sedikit membengkak.

Baca juga: Momen Pilu Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tunjuk Ibu Tiri Sebelum Meninggal Dunia, Videonya Viral

Karena luka luar dianggap tidak mematikan, tim forensik kini mencurigai adanya faktor lain di dalam tubuh korban.

Kini tim dokter forensik masih menunggu hasil laboratorium dari sampel paru-paru dan jantung milik korban yang dibawa ke Jakarta. 

Pemeriksaan sampel ini krusial untuk mengetahui apakah pembengkakan yang terjadi berkaitan dengan zat tertentu atau riwayat penyakit. 

Pemeriksaan sampel tersebut diperkirakan memerlukan waktu sekitar 5 hingga 7 hari kerja.

"Kami sudah mengambil sampel organ untuk diuji laboratorium di Jakarta. Kami ingin mengetahui apakah ada zat-zat tertentu di dalam organnya," tambahnya.

 

Tidak Ada Tanda Kekerasan Benda Tumpul

Meski isu dugaan penganiayaan oleh ibu tiri viral di media sosial, dr. Carles menegaskan bahwa pihaknya tidak menemukan tanda-tanda kekerasan akibat benda tumpul. 

Fokus penyelidikan kini beralih pada hasil uji laboratorium untuk memastikan apakah korban meninggal karena penyakit bawaan atau pengaruh zat eksternal.

Pengakuan Santri Dianiaya Ibu Tiri

Sebelum meninggal dunia, saat berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), NS sempat mengungkap kejadian sebenarnya.

Hal ini diungkap sang ayah, Anwar Satibi (38).

"Jawabnya di IGD. Katanya disuruh minum air panas,” ungkap Anwar.

Pengakuan tersebut menjadi komunikasi terakhir mereka.

Tak lama setelah dipindahkan untuk perawatan intensif, nyawa NS tak lagi tertolong.

“Dari IGD masuk ICU, habis dari ICU meninggal,” tuturnya lirih.

Ibu Tiri Bantah Aniaya

Mengenai NS yang disiram air panas atau meminum air panas hingga membuat tubuh ada luka bakar.

TR mengaku tidak sekejam itu terhadap NS seperti yang dituduhkan publik kepadanya.

 "Saya berharap semoga ada kemukjizatan dari yang Mahakuasa karena bukan seperti ini yang saya harapkan, dan tidak sekejam itu seperti yang dituduhkan oleh para netizen," kata TR dalam keterangan voice-nya saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp, Sabtu (21/2/2026) malam.

TR mengeklaim bahwa luka melepuh yang ada pada beberapa bagian tubuh NS disebabkan akibat panas yang melanda NS.

"Terkait penyiraman yang kaya gitu, itu tidak benar dan tidak ada, jujur itu kalaupun ada kulit yang melepuh (pada NS), itu faktor dari panas dalam gitu, terus akibat (ada dugaan penyakit yang diderita NS), jadi tidak ada yang namanya penyiraman air panas, ataupun minum air panas tidak pernah ada, saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen," lanjut TR.

TR mengaku bahwa telah merawat NS sejak duduk di kelas 3 SD.

Kini, TR pasrah atas apa yang telah terjadi. TR kemudian menegaskan kembali, bahwa ia tidak melakukan soal penyiraman air panas seperti yang dituduhkan itu.

Dia berujar bahwa kini tinggal waktu yang menjawab.

 "Biar waktu yang menjawab semuanya, biar waktu yang menjawab segalanya seperti apa kebenaran dan keasliannya," ujar TR.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.