Kampala Maros Terendam Banjir, Warga Gunakan Perahu untuk Beraktivitas
Ari Maryadi February 22, 2026 11:20 AM

 

TRIBUNMAROS.COM, MAROS — Banjir merendam Dusun Kampala, Desa Bontomatene, Kecamatan Marusu, usai diterjang hujan intensitas tinggi, Minggu (22/2/2026).

Ketinggian air sekitar 30 Cm hingga mencapai satu meter.

Air juga merendam akses jalan menuju kota Kabupaten Maros.

Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.

Akibatnya, aktivitas warga pun terganggu.

Warga terpaksa mengevakuasi kendaraan ke tempat lebih tinggi dan berjalan kaki menembus banjir.

Tak sedikit pengendara yang hendak melintas memilih memutar balik.

Sebagian warga yang memiliki perahu menggunakannya untuk keluar rumah.

Sementara yang tidak memiliki perahu memilih menembus bajir dengan berjalan kaki atau bertahan di dalam rumah demi menjaga barang berharga.

Salah seorang warga, Sangkala, mengatakan banjir mulai terjadi sejak sore hari setelah hujan deras terus mengguyur wilayah tersebut.

“Banjir bahkan menutup akses jalan, jadi sulit dilalui kendaraan. Warga sekarang banyak pakai perahu untuk beraktivitas,” katanya.

Warga lainnya, Paharuddin, menyebut banjir sudah empat kali terjadi sepanjang Januari hingga Februari tahun ini.

Ia menyebut, selain melumpuhkan aktivitas, banjir juga merusak tanaman padi dan tambak ikan warga akibat meluapnya Sungai Maros.

“Baru dipupuk padinya sudah terendam, tambak juga rusak. Ini sangat berdampak ke ekonomi warga,” katanya.

Selain Dusun Kampala, Dua desa di Kecamatan Tompobulu, terendam banjir akibat tingginya intensitas hujan, Minggu, 22 Februari 2026.

Dua wilayah terdampak yakni Desa Tompobulu, Dusun Tombolo, serta Desa Pucak yang meliputi Dusun Pucak dan Dusun Bontosunggu.

Berdasarkan video yang beredar di media sosial, ketinggian air mencapai betis orang dewasa dan menggenangi sejumlah rumah warga.

Camat Tompobulu, Hamril, mengatakan wilayah tersebut memang kerap terdampak banjir setiap tahunnya.

“Memang daerah ini hampir tiap tahun terdampak,” katanya.

Meski demikian, pihak kecamatan masih melakukan pendataan jumlah kepala keluarga (KK) yang terdampak.

“Masih kami pantau dan kumpulkan dulu data-datanya,” katanya.

Bendung Leko Pancing di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan berstatus Siaga, Minggu (22/2/2026).

Petugas Operasi Bendung Leko Pancing, M Syamsir mengatakan ketinggian air saat ini mencapai 160 CM di atas mercu (bagian dari bendung yang berfungsi untuk mengatur tinggi air) pada pukul 03.40.

Ia menyebutkan normalnya debit air normal adalah 0-50 CM di atas mercu.

Status waspada ditetapkan apabila ketinggian air berada di 50-100 CM di atas mercu.

Sementara, status siaga jika air berada 100-200 CM di atas mercu dan jika lebih dari 200 CM maka status menjadi awas.

"Saat ini ketinggian air itu mencapai 160 CM di atas mercu, status siaga," kata Syamsir dikonfirmasi wartawan Tribun Timur via WhatsApp.

Ia menyebutkan debit air yang melewati mercu mencapai 473.738 L/detik.

Sementara debit air yang masuk ke pintu pengambilan atau intake mencapai 2.389
L/detik.

"Debit air di intake Inilah yang ke saluran yang dimanfaatkan air baku dan irigasi," ujarnya.

Ia menyebutkan tepat pukul 01.00 Wita dini hari, kondisi bendungan sempat berstatus awas.

Sebab ketinggian air mencapai 300 cm di atas mercu.

"Namun saat ini sudah mulai surut, ketinggian air sudah 160 cm dengan status siaga," bebernya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.