Bocah 12 Tahun di Sukabumi Meninggal dengan Luka Bakar Misterius, Diduga Dianiaya Ibu Tiri
M Zulkodri February 22, 2026 12:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Duka mendalam menyelimuti warga Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, setelah seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun berinisial NS meninggal dunia usai menjalani perawatan intensif selama dua hari di rumah sakit.

Peristiwa tragis ini menyita perhatian masyarakat karena kondisi korban yang ditemukan penuh luka serta adanya dugaan kekerasan yang kini tengah didalami aparat penegak hukum.

NS pertama kali diketahui dalam kondisi memprihatinkan ketika tubuhnya terlihat dipenuhi luka melepuh.

Warga yang mengetahui kondisi tersebut segera membawanya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat.

Saat tiba di IGD, korban dalam keadaan sangat lemah, dengan sejumlah luka bakar tampak jelas di beberapa bagian tubuhnya.

Tim medis yang menangani menemukan tidak hanya luka luar, tetapi juga indikasi gangguan serius pada organ dalam.

Dari pemeriksaan awal, diduga terdapat pembengkakan pada paru-paru korban. Kondisi itu membuat dokter harus memberikan penanganan intensif di ruang perawatan khusus.

Selama kurang lebih 48 jam, tenaga medis berupaya menstabilkan kondisi NS.

Berbagai tindakan dilakukan untuk mempertahankan fungsi vitalnya.

Namun, kondisinya terus menurun. Rasa sakit yang diderita korban disebut sangat hebat hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir.

Sebelum meninggal dunia, NS sempat menyampaikan pernyataan yang kemudian menjadi perhatian serius.

Disuruh Minum Air Panas oleh Ibu Tiri

Kepada ayahnya, Anwar Satibi (38), saat berada di IGD, korban mengaku disuruh meminum air panas oleh ibu tirinya.

Pengakuan singkat tersebut memicu dugaan adanya tindak penganiayaan di balik luka-luka yang dialaminya.

Anwar mengaku tidak menyangka kondisi anaknya berubah drastis dalam waktu singkat.

Ia menuturkan, sebelum berangkat bekerja, NS dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Dua hari kemudian, sang istri menghubunginya dan menyampaikan bahwa anaknya mengalami demam tinggi hingga mengigau.

Namun saat ia tiba di rumah, kondisi yang dilihatnya sangat berbeda dari yang diceritakan.

Kulit anaknya tampak melepuh di sejumlah bagian tubuh. Penjelasan yang diterimanya menyebutkan bahwa luka tersebut akibat demam tinggi.

Alasan itu membuat Anwar merasa janggal, karena menurutnya demam tidak lazim menyebabkan luka bakar pada kulit.

Kondisi tersebut membuat korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Di IGD, sebelum kondisinya semakin memburuk, NS sempat memberikan keterangan mengenai dugaan air panas tersebut. 

Tak lama setelah itu, ia dipindahkan ke ruang perawatan intensif karena kondisinya semakin kritis.

Tim forensik dari RS Bhayangkara Setukpa Polri kemudian melakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian.

Proses autopsi berlangsung selama beberapa jam untuk meneliti secara menyeluruh kondisi tubuh korban.

Hasil sementara menunjukkan adanya luka bakar akibat paparan panas di sejumlah bagian tubuh, termasuk lengan, kaki kanan dan kiri, punggung, serta area bibir dan hidung.

Temuan luka di sekitar bibir dan hidung dinilai selaras dengan pengakuan korban mengenai air panas.

Selain luka luar, pemeriksaan organ dalam menemukan kondisi paru-paru korban dalam keadaan membengkak.

Pembengkakan tersebut menjadi perhatian khusus karena berpotensi menjadi faktor yang memperburuk kondisi korban.

Dokter forensik menjelaskan bahwa luka bakar yang ditemukan, berdasarkan teori medis, tidak secara otomatis menyebabkan kematian mendadak.

Oleh karena itu, penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat faktor lain, seperti kemungkinan zat asing atau racun yang masuk ke dalam tubuh.

Sampel organ korban telah dikirim ke laboratorium di Jakarta untuk menjalani uji toksikologi.

Pemeriksaan ini bertujuan memastikan ada atau tidaknya kandungan zat berbahaya yang dapat menjelaskan pembengkakan paru-paru maupun penurunan kondisi korban secara cepat.

Di sisi lain, pihak kepolisian dari Polres Sukabumi telah melakukan penyelidikan intensif.

Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk keluarga dan pihak yang berada di sekitar korban dalam beberapa hari terakhir sebelum kejadian.

Penyidik menegaskan proses hukum akan dilakukan secara profesional dan berdasarkan bukti ilmiah.

Hingga saat ini, aparat masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar penentuan langkah hukum selanjutnya.

Kasus ini menjadi sorotan masyarakat luas. Warga Desa Bojongsari mengaku terkejut dan tidak menyangka tragedi tersebut terjadi di lingkungan mereka.

Banyak pihak berharap kebenaran segera terungkap agar tidak menimbulkan spekulasi yang berkepanjangan.

Ayah Minta serahkan pada Proses Hukum

Ayah korban menyatakan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat.

Ia mengaku tidak ingin berspekulasi ataupun menuduh tanpa dasar yang jelas.

Menurutnya, autopsi dan penyelidikan mendalam penting dilakukan agar penyebab pasti kematian anaknya terungkap.

Ia juga berharap, apabila nantinya ditemukan unsur pidana, proses hukum dapat berjalan tegas agar memberikan efek jera.

Baginya, kejelasan fakta adalah hal utama yang dibutuhkan untuk memberikan keadilan bagi anaknya.

Secara garis besar, terdapat beberapa poin yang menjadi perhatian dalam kasus ini.

Pertama, perubahan kondisi korban yang sangat cepat, dari sehat menjadi kritis dalam waktu sekitar 48 jam.

Kedua, lokasi luka bakar yang spesifik di area bibir dan hidung yang selaras dengan pengakuan korban mengenai air panas.

Ketiga, temuan pembengkakan paru-paru tanpa adanya tanda kekerasan benda tumpul.

Fakta-fakta tersebut kini masih dirangkai oleh penyidik untuk membentuk kronologi yang utuh.

Aparat juga mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi demi menjaga kondusivitas.

Kasus meninggalnya NS sekaligus menjadi pengingat pentingnya perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikis.

Anak-anak merupakan kelompok rentan yang membutuhkan pengawasan dan perhatian khusus dari lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Sementara itu, suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga korban.

Warga berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Proses hukum masih berjalan dan hasil uji laboratorium diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab kematian.

Pihak kepolisian memastikan setiap perkembangan akan disampaikan secara terbuka sesuai hasil penyelidikan resmi.

Masyarakat kini menanti kepastian hukum atas kasus ini, sembari berharap tragedi serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

Tribuntrend.com/SerambiNews.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.