Janji Ibu Tiri ke Ayah NS Diingkari, Anak di Sukabumi yang Meninggal Penuh Luka Sering Dihajar Kakak
Fadhila Rahma February 22, 2026 03:27 PM

SRIPOKU.COM - Kabar bocah laki-laki berinisial NS (12), warga Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia di RS Jampang Kulon pada Kamis (19/2/2026) sore masih jadi sorotan. 

Pasalnya korban mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis di ruang ICU.

Kepergiannya memunculkan tanda tanya besar lantaran tubuhnya dipenuhi luka bakar di berbagai bagian, seperti lengan, kaki, paha, punggung, hingga area bibir dan hidung.

Sebelum meninggal, NS sempat menyampaikan keterangan kepada keluarganya.

Dalam kondisi lemah, ia mengaku dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya.

Pernyataan tersebut memunculkan dugaan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diduga berujung pada kematiannya.

Ayah kandung korban, Anwar Satibi, mengatakan bahwa dugaan kekerasan itu bukan kali pertama terjadi dalam keluarganya.

 Ia menyebut sang istri memiliki dua anak angkat yang kini duduk di bangku SMA.

Setiap kali terjadi perselisihan antara NS dan kedua anak angkat tersebut, menurutnya, anaknya kerap menjadi pihak yang disalahkan dan mengalami perlakuan kasar dari istrinya.

“Kalau berantem anak saya dengan anak angkatnya itu, yang dihantam anak saya,” ujar Anwar.

Ia juga mengungkapkan bahwa setahun lalu pernah melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Polres Sukabumi setelah anaknya dipukul menggunakan benda.

Namun, proses hukum sempat tertunda karena adanya mediasi dari tokoh masyarakat serta janji dari istrinya untuk berubah.

“Dia sampai sujud ke saya minta jangan lapor, katanya mau tobat. Sebenarnya laporan itu belum saya cabut. Saat saya buka baju anak saya, saya sampai menangis,” tutur Anwar mengenang kejadian tersebut.

BOCAH MENINGGAL DUNIA- Kolase. Bocah di Sukabumi meninggal diduga karena ibu tiri
BOCAH MENINGGAL DUNIA- Kolase. Bocah di Sukabumi meninggal diduga karena ibu tiri (Tribunbogor)

Baca juga: Kebohongan Ibu Tiri Usai Siksa Anak di Sukabumi, Tipu Suami soal Kondisi Anak: Melepuh karena Demam

Alibi Ibu Tiri

TR mengaku tidak pernah menyiram air panas atau meminta meminumkannya kepada almarhum seperti yang dituduhkannya saat ini terhadap dirinya. 

"Saya berharap semoga ada kemukjizatan dari yang Mahakuasa karena bukan seperti ini yang saya harapkan, dan tidak sekejam itu seperti yang dituduhkan oleh para netizen. Netizen itu memang yang mahabenar segalanya, tetapi kan tidak seperti itu sebenarnya, bukan kaya begitu," kata NS dalam keterangan voice-nya saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp, Sabtu (21/2/2026) malam. 

TR mengeklaim bahwa luka melepuh yang ada pada beberapa bagian tubuh NS disebabkan akibat panas yang melanda NS. 

"Terkait penyiraman yang kaya gitu, itu tidak benar dan tidak ada, jujur itu kalaupun ada kulit yang melepuh (pada NS), itu faktor dari panas dalam gitu, terus akibat (ada dugaan penyakit yang diderita NS), jadi tidak ada yang namanya penyiraman air panas, ataupun minum air panas tidak pernah ada, saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen," lanjut TR. 

TR mengaku bahwa telah merawat NS sejak duduk di kelas 3 SD. 

Kini, TR pasrah atas apa yang telah terjadi.

TR kemudian menegaskan kembali, bahwa ia tidak melakukan soal penyiraman air panas seperti yang dituduhkan itu. 

Dia berujar bahwa kini tinggal waktu yang menjawab. 

"Biar waktu yang menjawab semuanya, biar waktu yang menjawab segalanya seperti apa kebenaran dan keasliannya," ujar TR. 

Hasil Otopsi
Hasil otopsi menunjukkan bahwa pada tubuh korban terdapat luka bakar di sekujur tubuh, lengan, kaki, paha, tangan, serta punggung. 

Selain itu, luka pada korban juga terdapat di area bibir dan hidung, yang diduga karena luka bakar.

Dari luka tersebut, dokter forensik belum bisa memastikan apakah hal itu terjadi karena penganiayaan atau bukan. 

Namun, ada dugaan terkena panas yang kemudian menyebabkan luka bakar. 

Kini, tim dokter forensik masih menunggu hasil laboratorium dari sampel paru-paru dan jantung milik korban yang dibawa ke laboratorium. 

Pemeriksaan sampel itu juga memerlukan waktu sekitar 5 hingga 7 hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.