TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG – Minggu pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah, harga jual getah karet kering di sebagian wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus bergerak naik.
Dibeberapa wilayah seperti Kecamatan Mesuji Raya dan sekitarnya harga jual karet mingguan kini dibanderol di kisaran Rp 14.000 per kilogram.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 13.000 perkilo.
"Alhamdulillah di awal ramadan ini harga getah kembali naik menjadi Rp 14.000 perkilo. Atau naik sedikit dibandingkan minggu lalu yaitu Rp 13.000," ujar petani, Nawawi saat dihubungi pada Minggu (22/2/2026) siang.
Meski sedang ada kenaikan harga ini. Ia tetap waspada karena harga komoditas sering kali dapat berubah-ubah tanpa kepastian (fluktuatif).
Dalam beberapa bulan terakhir, harga karet di pasaran bak roller coaster dengan rentang antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 perkilonya.
"Memang harga sedang tidak menentu. Akhir tahun 2025 sempat naik hingga Rp 15.000 dan awal Januari 2026 lalu saja sempat jatuh diangka Rp 10.000 perkilo. Jadi kenaikan kali ini sangat di syukuri," sambungnya.
Baca juga: Akhir Pekan, Harga Karet Ditutup Menguat Tipis Pada Angka Rp32.451 Per Kilogram
Baca juga: Harga Karet Menguat Tipis Hari Ini di Angka Rp32.369 Per Kilogram, Petani Makin Optimis
Menjelang datangnya hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah, mewakili petani karet Awi berharap harga akan terus meroket dan mampu memenuhi kebutuhan lebaran.
"Supaya bisa memenuhi keperluan keluarga saat lebaran nanti. Ya, kami pengennya harga jual karet di tingkat petani bisa lebih mahal atau sampai Rp 20.000 perkilonya," ujarnya, saat lebaran cukup banyak kebutuhan wajib dipenuhi.
Namun, kenaikan harga ini belum sepenuhnya menjadi berkah bagi petani. Tingginya intensitas hujan di wilayah OKI belakangan ini menjadi kendala utama. Hujan deras membuat para petani sering kali gagal menyadap (nderes) karena getah karet bisa hanyut terbawa air.
"Bukan cuma harganya yang naik turun, tapi hasilnya juga berkurang. Dari satu hektar lahan, sekarang saya cuma dapat sekitar 100 kilo setiap dua minggu sekali panen," keluhnya.
Bagi petani seperti Awi, berapa pun harga jual yang ditetapkan pasar, mereka terpaksa menerima demi bisa menyambung hidup keluarga.
"Karena pekerjaan memahat karet pendapatan utama dan satu-satunya. Jadi hasil inilah dipakai memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari, membiayai kebutuhan keluarga," tandasnya.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com