TRIBUNBANTEN.COM - Tahun 2026 menjadi periode penuh tantangan bagi emiten sektor minyak dan gas (migas). Arah harga komoditas, khususnya minyak dan gas, akan sangat menentukan kinerja perusahaan.
Para analis menilai prospek saham migas masih berpeluang positif, meski terdapat risiko dari surplus pasokan global, volatilitas harga, dan ketidakpastian kebijakan energi.
Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, menegaskan bahwa harga minyak yang relatif tinggi masih menopang revenue dan cash flow produsen minyak.
Aktivitas jasa migas cenderung stabil mengikuti belanja eksplorasi, sementara segmen gas masih tertahan sehingga pertumbuhan tidak merata.
Baca juga: Prediksi IHSG Senin, 23 Februari 2026: Berpotensi Rebound ke 8.503
Menurutnya, kenaikan harga minyak akan meningkatkan margin dan arus kas emiten berorientasi minyak. Sebaliknya, pelemahan harga gas menekan profitabilitas emiten berbasis gas.
Hal ini membuat kinerja sektor berpotensi positif, tetapi dengan perbedaan antar emiten yang lebih lebar.
“Kinerja sektor akan sangat dipengaruhi oleh arah harga minyak, kebijakan produksi global, realisasi investasi hulu domestik, pergerakan rupiah, serta disiplin capital expenditure dan struktur biaya emiten,” ucap Sukarno kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Sukarno menyebut kenaikan harga minyak meningkatkan margin dan cash flow emiten berorientasi minyak.
Sementara pelemahan harga gas menekan profitabilitas emiten berbasis gas. Akibatnya, kinerja sektor berpotensi positif namun dengan dispersion antar emiten yang lebih lebar.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, harga minyak yang menguat berdampak positif pada emiten migas menimbang kontrak yang relatif sangat pendek, di bawah 1 tahun.
Sedangkan gas, harganya cenderung lebih stabil karena durasi kontrak biasanya mencapai 10 tahun. Jadi, untuk kuartal I – 2026 harusnya positif untuk emiten migas Indonesia.
“Kinerja emiten migas pada kuartal I - 2026 diperkirakan sedikit lebih kuat dibandingkan kuartal IV - 2025 didorong penguatan harga minyak dunia sekitar 5 persen. Penguatan ini cukup terbatas menimbang kontribusi pendapatan dari penjualan minyak hanya sebatas sekitar 20 % ,” ujar Harry kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Harry melihat tantangan yang perlu dicermati investor terhadap emiten migas adalah penurunan volume alami pada bisnis gas sejauh sekitar 1 % hingga 2 % setiap tahunnya.
Oleh karena itu, emiten migas yang cukup lemah dalam melakukan inisiatif ekspansi memiliki risiko penurunan pendapatan akibat volume yang lebih rendah.
Menurut Harry, emiten yang menarik untuk dicermati adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). MEDC kini berpotensi pulih akibat profitabilitas PT Amman Mineral Internasional (AMMN) yang dipercaya akan membaik.
Sedangkan ENRG adalah emiten migas yang paling gencar dalam melakukan ekspansi blok.
Sementara itu, Head of Equity Research DBS Vickers Sekuritas Indonesia, William Simadiputra menyoroti perusahaan minyak besar terus mengungguli harga minyak. Pihaknya memproyeksikan harga minyak mentah Brent rata-rata antara US$ 62 – US$ 67 per barel pada tahun 2026.
Level yang bukan merupakan keuntungan besar maupun krisis bagi para pemain di sektor hulu dan terintegrasi.
Operasi hilir juga kemungkinan akan melihat spread yang lebih kuat untuk distilat menengah untuk sementara waktu, mengingat potensi gangguan pada jenis minyak mentah berat Venezuela.
Keseimbangan permintaan-penawaran pada tahun 2026 tampak tidak menguntungkan, dengan potensi kelebihan pasokan dari peningkatan produksi OPEC+ sejak semester kedua tahun 2025.
Oleh karena itu, jeda OPEC+ pada kuartal pertama tahun 2026, memberikan kelegaan yang disambut baik bagi pasar dan memberi kelompok tersebut waktu untuk menilai dampak sanksi Barat yang lebih ketat terhadap perusahaan minyak besar Rusia.
“Kami percaya bahwa sektor minyak dan gas berfungsi sebagai tempat berlindung (safe haven) yang relatif aman di tengah ketidakpastian terkait perang dagang dan lingkungan dolar AS yang melemah,” kata William.
Terkait rekomendasi saham, William merekomendasikan Buy saham MEDC dengan target harga Rp 1.800 per saham.
Harry Su merekomendasikan Buy saham ENRG dengan target harga Rp 2.300 per saham dan saham MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham. Sedangkan Sukarno merekomendasikan Buy saham ENRG dengan target harga Rp 2.000 per saham.