SERAMBINEWS.COM, SUKABUMI – Kasus kematian bocah berinisial NS (12) di Sukabumi masih dalam penyelidikan Polres Sukabumi.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik setelah viral video rekaman pengakuan NS sebelum meninggal, yang diduga menunjukkan adanya penganiayaan oleh ibu tirinya.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, menyampaikan bahwa hingga kini ibu tiri korban masih berstatus sebagai terlapor.
Pihak penyidik tengah menyelaraskan keterangan dari 16 saksi dengan fakta yang ditemukan di lapangan.
“Terkait sebab pasti kematian, kami masih menunggu hasil laboratorium Patologi Anatomi dan Toksikologi Forensik terhadap sampel organ dalam korban,” ujar AKP Hartono, dilansir Kompas.com, Minggu (22/2/2026).
Luka di Seluruh Tubuh Korban
Hasil visum menunjukkan NS mengalami luka lecet di beberapa bagian wajah, leher, serta anggota gerak.
Selain itu, ditemukan luka bakar derajat 2A di beberapa titik tubuh dan lebam merah keunguan yang mengindikasikan trauma tumpul.
Autopsi yang dilakukan oleh Tim Forensik RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Sukabumi pada Jumat (20/2/2026) selama tiga jam mengungkapkan adanya luka bakar di lengan, kaki, dan punggung korban.
Luka permanen juga terlihat di bibir atas dan hidung.
“Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian,” jelas Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr. Carles Siagian.
Baca juga: VIDEO - Tragis! Bocah 12 Tahun di Sukabumi Diduga Tewas Dianiaya Ibu Tiri
Dugaan Penyebab Kematian
Keanehan muncul saat pemeriksaan organ dalam, khususnya paru-paru yang sedikit membengkak.
Karena luka luar tidak mematikan, tim forensik menduga adanya faktor lain di dalam tubuh korban.
Sampel organ korban kini sedang diuji laboratorium di Jakarta untuk memastikan apakah ada zat tertentu yang berkontribusi pada kematian.
Meski dugaan penganiayaan oleh ibu tiri ramai dibahas di media sosial, dr. Carles menegaskan pihaknya tidak menemukan tanda kekerasan akibat benda tumpul.
Fokus penyelidikan kini beralih pada hasil uji laboratorium untuk mengetahui apakah kematian disebabkan oleh penyakit bawaan atau pengaruh zat eksternal.
Polres Sukabumi masih menunggu hasil uji lab untuk menentukan langkah hukum selanjutnya dalam kasus ini.
Baca juga: Kejam! Ibu Tiri di Bogor Tega Siksa Anak hingga Tewas Cuma Gegara Uang Jajan
NS diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh ibu tirinya.
Kejanggalan muncul saat ayah korban, Anwar Satibi (38), mendapatkan kabar telepon dari istrinya bahwa NS sakit
Anwar mengaku saat itu sudah dua hari dua malam meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai jasa panggilan pemasangan gigi.
“Saya ditelepon istri, katanya, ‘Yah pulang, si Raja tidak damang, sudah ngelantur, panas,’” ujar Anwar, Jumat (20/2/2026) sambil berlinang air mata di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi.
Mendapat kabar tersebut, ia langsung bergegas pulang.
Namun setibanya di rumah, ia terkejut melihat kondisi anak sulungnya yang disebutnya sudah tidak seperti biasanya.
Padahal sepulang libur sekolah dari pondok pesantrennya ia baik-baik saja.
“Faktanya sebelum saya berangkat ke Sukabumi, anak saya sehat-sehat saja. Pas saya pulang, kulitnya sudah pada melepuh,” katanya dikutip dari Tribunnews.com.
Anwar sempat menanyakan kondisi tersebut kepada istrinya.
Ia mengaku mendapat jawaban bahwa lepuhan itu disebabkan demam tinggi.
“Saya tanya, ‘Mah, kenapa kulitnya seperti ini?’ Dijawab karena sakit panas,” ucapnya.
Awalnya ia mengira kondisi itu akibat panas biasa.
Namun karena kondisi tak kunjung membaik, NS kemudian dibawa ke RS Jampang Kulon.
Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), menurut Anwar, anaknya sempat memberikan keterangan saat ditanya mengenai penyebab luka yang dialaminya.
“Jawabnya di IGD. Katanya disuruh minum air panas,” ujar Anwar.
NS kemudian menjalani perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU.
Namun tak lama setelah itu, nyawanya tidak tertolong.
“Dari IGD masuk ICU, habis dari ICU meninggal,” katanya lirih.
Dengan dugaan kejanggalan pada kondisi anaknya yang memburuk dalam waktu singkat, Anwar kemudian memutuskan agar jenazah NS diautopsi.
Baca juga: Aliansi Muda Dukung BPK Audit Pengadaan Seragam Sekolah Rp 1,7 Miliar di Aceh Singkil
Baca juga: Puluhan Anak Korban Banjir dan Kurang Mampu Dikhitan Massal di KlinikMu Lhokseumawe