Pabrik Kelapa Terpadu Rp 66,6 Miliar Segera Dibangun di Cilacap
Daniel Ari Purnomo February 22, 2026 08:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Pemerintah Kabupaten Cilacap terus menggenjot masuknya investasi berskala besar pada tahun 2026 melalui rencana pembangunan industri kelapa terpadu.

Industri ini digadang-gadang bakal menjadi motor penggerak ekonomi baru di kawasan pesisir selatan Jawa Tengah.

Langkah strategis ini diambil mengingat besarnya potensi komoditas kelapa di wilayah Cilacap, yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambahnya belum maksimal dirasakan oleh para petani.

Baca juga: Nekat Beraksi Saat Warga Sahur, Pelaku Curanmor di Desa Tayem Cilacap Diringkus Polisi

Peminat Investor Baru

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cilacap, Arida Puji Hastuti, mengungkapkan bahwa ketertarikan para penanam modal terhadap proyek hilirisasi kelapa mulai menguat setelah dipromosikan dalam ajang Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2025 lalu.

“Di awal tahun ini sudah ada dua investor yang mengajukan peminatan, mereka sudah melakukan pengecekan lokasi dan memaparkan rencana bisnis di hadapan tim terpadu PTSP bersama OPD terkait,” ujar Arida.

Proyek industri kelapa terpadu tersebut rencananya akan didirikan di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kesugihan, tepatnya berlokasi di Kawasan Peruntukan Industri Bulupayung. Lahan seluas kurang lebih 12.000 meter persegi atau sekitar 1,2 hektare telah disiapkan untuk merealisasikan rencana tersebut.

Kapasitas Produksi Harian

Menurut Arida, pemilihan lokasi tersebut sangat mempertimbangkan kesiapan kawasan industri sekaligus kemudahan akses distribusi, baik untuk ketersediaan bahan baku maupun produk olahan ke berbagai wilayah.

Kabupaten Cilacap sendiri tercatat sebagai salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Ketersediaan bahan bakunya mampu mencapai sekitar 177 ribu butir per hari, sehingga dinilai sangat layak untuk pengembangan industri pengolahan terpadu berbasis hilirisasi.

Nilai investasi awal yang ditawarkan dalam proposal diperkirakan mencapai angka sekitar Rp 66,6 miliar. Skema pembiayaan ini murni berasal dari pihak swasta tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Konsep Olahan Menyeluruh

Konsep industri yang diajukan mengusung pengolahan menyeluruh dari hulu ke hilir. Seluruh bagian kelapa nantinya akan dimanfaatkan agar memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi dan tidak ada satu pun bagian yang terbuang percuma.

Produk turunan yang akan diproduksi direncanakan sangat beragam, meliputi coco fiber dan coco peat dari sabut, arang serta briket dari tempurung, santan dan nata de coco dari air kelapa, hingga produksi asap cair serta berbagai turunan minyak kelapa yang menyasar pasar ekspor.

“Satu investor saat ini masih menghitung nilai riil kebutuhan investasinya, sedangkan satu investor lainnya masih dalam pembahasan internal dan dijadwalkan kembali memaparkan detail lanjutan setelah Lebaran,” jelas Arida.

Dari sisi infrastruktur, kawasan tersebut dipastikan telah didukung akses jalan provinsi yang memudahkan mobilitas logistik. Pasokan listrik juga terjamin dari PLTU Adipala dan Karangkandri, suplai air bersih dari PDAM Tirta Wijaya, serta jaringan telekomunikasi yang mumpuni dari PT Telkom Indonesia.

Harapan Serap Pekerja

Arida menilai kesiapan infrastruktur tersebut menjadi faktor penting yang mampu meningkatkan daya tarik investasi di Kabupaten Cilacap, karena dapat memberikan jaminan kepastian dan efisiensi operasional bagi pelaku usaha.

Ia sangat berharap kehadiran industri kelapa terpadu ini tidak hanya sekadar memperkuat struktur ekonomi daerah. Lebih dari itu, industri ini diharapkan mampu mengerek harga jual kelapa di tingkat petani lokal serta membuka peluang kerja bagi ratusan bahkan ribuan tenaga kerja di Cilacap. (ray)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.