WARTAKOTALIVE.COM, Jakarta — Nama Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya mengenai status kewarganegaraan sang anak memicu perdebatan di media sosial.
Alumnus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu sebelumnya viral karena mengungkapkan kebanggaannya atas keputusan anaknya menjadi warga negara asing (WNA) di Inggris.
Dalam sebuah konten yang beredar luas, Tyas sempat melontarkan kalimat yang mengundang polemik, “cukup aku saja yang WNI, anak aku jangan.”
Pernyataan tersebut memantik reaksi beragam, mulai dari kritik tajam hingga pembelaan dari warganet.
Di tengah gelombang komentar yang belum sepenuhnya mereda, unggahan lain Tyas kembali menyita perhatian.
Melalui akun Threads pribadinya pada 2 Februari 2026, ia mengungkapkan pengalaman kurang menyenangkan selama tinggal di Inggris, khususnya terkait akses layanan kesehatan gigi.
“Mau tau enggak enaknya tinggal di luar negeri di Inggris?” tulis Tyas membuka curahan hatinya.
Ia bercerita telah menghabiskan waktu sekitar satu jam dalam kondisi sambungan telepon tertahan (on hold) hanya untuk melakukan registrasi ke dokter gigi yang ditanggung asuransi di Inggris.
Namun, proses tersebut belum tentu menjamin dirinya memperoleh jadwal kunjungan.
“Sudah satu jam telepon on hold buat registrasi dokter gigi (yang cover by insurance) di UK. Ini juga belum tentu bisa dapat jadwal appointment,” tulisnya.
Tyas kemudian membandingkan pengalamannya dengan masa ketika ia tinggal di Belanda.
Menurutnya, proses membuat janji temu dengan dokter gigi di negeri tersebut relatif lebih teratur dan pasti.
“Dulu tinggal di Belanda enggak gini-gini amat sih. Iya nunggu appointment 2-5 hari, tapi dicover insurance dan ada jadwalnya,” ujarnya.
Kesulitan mendapatkan layanan kesehatan gigi di Inggris, menurut Tyas, bahkan sempat membuat suaminya memilih pulang ke Indonesia untuk menjalani perawatan saluran akar (root canal filling).
Ia menilai prosedur di Indonesia lebih mudah dan secara keseluruhan tetap lebih efisien, meski harus menempuh perjalanan jauh.
“Suami aku pernah pulang ke Indonesia karena mau root canal filling. Ya karena tiket pulang ke Indonesia + root canal filling di Indonesia lebih mudah daripada di Inggris,” tulisnya.
Ia juga menggambarkan proses registrasi yang harus dilakukan berulang kali.
Jika kuota penuh, namanya akan dicatat dan pihak layanan akan menghubungi dalam kondisi darurat.
Jika tidak ada kabar, ia harus kembali menelepon keesokan harinya hingga persoalan dianggap tuntas.
“Ujungnya registrasinya penuh, didata dan akan ditelepon sama emergency. Kalau enggak ada kabar, besok disuruh coba telepon lagi, setiap hari sampai kasusnya tuntas,” imbuh Tyas.
Rasa frustrasi itu pun diluapkannya secara terbuka.
“Yakaleeeeeee setiap hari menelepon tiga jam for nothing. Lo pikir gue pengangguran?” tulisnya dengan nada emosional.
Unggahan tersebut segera menyebar dan kembali memicu perbincangan.
Sejumlah warganet menilai curahan hati Tyas bertolak belakang dengan sikapnya yang sebelumnya terkesan membanggakan kehidupan di luar negeri.
Ada pula yang menilai pengalaman tersebut merupakan dinamika wajar dalam sistem layanan kesehatan di negara manapun.
“Yah itu, akhirnya kan ngeluh sendiri si Saset hidup di UK wkwkw,” tulis akun @teka*** dalam kolom komentar.
Perbincangan tentang Tyas memperlihatkan bagaimana isu kewarganegaraan, identitas, hingga perbandingan layanan publik antarnegara menjadi topik sensitif di ruang digital.
Di satu sisi, pengalaman pribadi kerap dibagikan sebagai bentuk ekspresi.
Namun di sisi lain, publik figur atau sosok yang memiliki latar belakang tertentu termasuk sebagai penerima beasiswa negara sering kali tak luput dari sorotan tajam ketika pernyataannya dinilai menyentuh aspek kebangsaan.
Hingga kini, diskursus mengenai pernyataan Tyas masih berlangsung di media sosial, mencerminkan kuatnya resonansi isu identitas nasional di tengah mobilitas global yang kian terbuka.