Ekonom UI: Program MBG Buka Ruang Pemberdayaan Perempuan
Acos Abdul Qodir February 22, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Fithra Faisal Hastiadi, menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka ruang pemberdayaan perempuan melalui keterlibatan mereka di sektor kuliner dan pengelolaan dapur.

Pandangan ini disampaikan seiring meningkatnya partisipasi perempuan dalam rantai nilai ekonomi yang terbentuk dari program tersebut.

Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,39 persen (yoy). Salah satu penopangnya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,12 persen (yoy).

Fithra menjelaskan, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan 5,33 persen (yoy), tertinggi dalam tiga tahun terakhir, yang menunjukkan adanya peningkatan penyerapan produk termasuk untuk kebutuhan MBG.

“Program MBG relatif inklusif. Di sektor kuliner, peran perempuan cukup dominan. Ini membuka peluang ekonomi yang nyata dan memperluas partisipasi mereka di sektor formal maupun informal,” ujar Fithra dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Data Badan Gizi Nasional menunjukkan hingga 20 Februari 2026 terdapat 23 ribu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Sekitar 1,4 juta tenaga kerja terserap langsung dalam operasional dapur MBG, dengan 55 persen di antaranya perempuan, setara dengan 770 ribu tenaga kerja perempuan.

Keterlibatan tersebut dinilai berkontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga serta memperkuat posisi ekonomi perempuan di tingkat komunitas.

Di tingkat hilir, terutama UMKM kuliner, program ini ikut memperkuat rantai nilai ekonomi dan membuka peluang usaha baru.

Selain dampak pada perempuan, MBG juga disebut mendorong investasi di sektor hulu seperti pertanian dan peternakan.

Pertumbuhan sektor pertanian pada 2025 mencapai 5,33 persen, meningkat tajam dibanding 2024 yang hanya 0,68 persen dan 2023 sebesar 1,31 persen.

Baca juga: Kritik INDEF: Perjanjian Dagang Indonesia-AS Korbankan Regulasi Halal dan Konsumen Muslim

Kisah Samuel Surodadi, petani asal Desa Kadiwano, Kecamatan Umalulu Timur, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu gambaran dampak tersebut.

Sebelumnya, sebagian hasil panennya kerap tidak terserap pasar. Sejak adanya MBG, hasil taninya lebih mudah tersalurkan, dengan pendapatan meningkat dari rata-rata Rp100 ribu menjadi sekitar Rp300 ribu per hari.

Di sisi rumah tangga, survei Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) terhadap 1.800 orang tua menunjukkan MBG turut membantu efisiensi anggaran keluarga.

Sebanyak 36 persen responden mencatat penurunan pengeluaran harian, terutama dari pos bekal dan uang saku anak. Tingkat dukungan terhadap keberlanjutan MBG juga cukup tinggi, yakni 81 persen di kalangan rumah tangga rentan.

Sementara itu, Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menyampaikan bahwa banyak orang tua merasa lebih tenang karena anak-anak mereka tidak lagi pulang sekolah dalam kondisi lapar.

Sebanyak 72 persen responden menilai anak-anak kini lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak menerima MBG.

Secara keseluruhan, MBG dinilai bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan katalis penguatan sektor pertanian, pemberdayaan perempuan, serta stabilitas ekonomi keluarga di berbagai daerah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.