BANGKAPOS.COM - Di bulan suci Ramadan 1447 H/ 2026 ini, mengisi jeda antara sholat tarawih atau menjelang berbuka dengan nasihat agama menjadi tradisi yang menyejukkan hati.
Namun, tantangan terbesar bagi penceramah atau pengisi kegiatan di masjid adalah menyajikan materi yang padat namun tetap berkesan dalam waktu yang terbatas.
Bagi Anda yang sedang mencari referensi dakwah, kumpulan 15 kultum Ramadan singkat 7 menit ini hadir sebagai solusi praktis.
Setiap draf kultum dirancang dengan alur yang jelas—pembukaan, isi yang berbobot, dan penutup yang menyentuh—sehingga mudah disampaikan oleh siapa saja, baik pengurus masjid, pelajar, maupun masyarakat umum.
Dengan durasi ideal sekitar 7 menit, pesan-pesan moral ini dipastikan tidak membosankan dan sangat relevan dengan problematika kehidupan sehari-hari di tahun 2026.
Simpan dan bagikan daftar kultum ini untuk memperkaya khazanah dakwah Anda selama bulan Ramadhan. Berikut adalah materi pilihan yang bisa Anda gunakan:
Berikut adalah 7 pilihan materi kultum Ramadhan terbaik tentang puasa:
Banyak yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga (HR. Ahmad).
Hal ini disebabkan oleh:
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Jamaah yang berbahagia,
Di bulan Ramadhan ini, seorang muslim yang memenuhi syarat, wajib melaksanakan ibadah puasa. Dengan bertambahnya jumlah umat Islam, tentu semakin banyak pula yang menjalankan ibadah puasa. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah setiap orang yang menjalankan ibadah puasa akan diterima Allah, atau sebaliknya ibadah puasanya menjadi sia-sia di sisi Allah, sebagaimana disinyalir Rasulullah "Betapa banyak orang yang berpuasa, dan bagian dari puasanya (yang ia dapat hanya) lapar dan dahaga." (HR. Ahmad).
Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Di antara perbuatan yang bisa menyia-nyiakan ibadah puasa kita adalah berpuasa bukan karena Allah, atau salah niat. Niat adalah pokok dari segala amal. Salah niat akan menjadikan puasa sia-sia. Termasuk salah niat adalah kita berpuasa bukan karena Allah. Diam-diam ada niat terselinap di dalam hati kita yang bukan karena Allah. Ada riya', maupun ada pengharapan kepada selain Allah. Riya adalah salah satu bentuk kesyirikan yang sangat dibenci Allah. Karenanya, ibadah semacam itu akan tertolak dan akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam api neraka. Allah berkalam, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (al-Kahfi: 110). Niat adalah roh amal, inti, dan sendinya. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Sebaliknya, amal jadi rusak karena niat yang rusak. Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, "Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya."
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Salah satu perkara yang dapat menyia-nyiakan puasa kita adalah percaya dengan "klenik". Karena orang yang percaya kepada dukun, pembaca nasib, paranormal dan sejenisnya, ia telah menyekutukan Allah. Ketika seseorang telah menyekutukan Allah, maka seluruh amal ibadahnya menjadi sia-sia. Allah berkalam, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (az-Zumar: 65). Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad" (HR. Abu Daud dan an-Nasâ'i).
Ma'âsyiral muslimin rahimakumullâh,
Salah satu hal yang bisa menjadikan ibadah puasa kita sia-sia adalah menyakiti tetangga. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah "Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah disebut-sebut banyak mengerjakan shalat, puasa, dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya." Rasulullah menjawab, "Dia di neraka." Laki-laki tadi bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah disebut-sebut sedikit mengerjakan puasa, sedekah, dan shalat, hanya saja ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya." Rasulullah berkomentar, "Dia di surga." (HR. Ibnu Hibbȧn).
Di samping itu, memutus silaturahim juga menjadi penyebab tertolaknya semua amal ibadah, termasuk ibadah puasa. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, "Allah tidak menerima amalan orang yang memutus tali silaturrahim." (HR. Ahmad). Ketika seluruh amal ibadah itu tertolak, bisa dipastikan ia tidak akan masuk surga. Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Seorang pemutus silaturahim tidak akan masuk surga." (HR. Bukhari Muslim). Hukuman bagi orang yang memutus tali silaturahim, tidak hanya akan dirasakan di akhirat, namun di dunia pun ia akan merasakannya. la bisa mati dalam kondisi yang mengenaskan atau su'ul khatimah. Naudzubillah. Diriwayatkan dari Nabi "Barang siapa memutus tali kekeluargaan atau bersumpah palsu, maka ia akan melihat akibat buruknya sebelum ia meninggal." (Silsilah al-Ahâdits ash-Shahihah, al-Albâni).
Demikianlah beberapa hal yang bisa menjadikan ibadah puasa menjadi sia-sia alias tidak mendapatkan pahala sedikit pun dari Allah. Maka perlu diperhatikan, bahwa puasa tidak hanya sebatas menjaga diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa secara lahiriah seperti makan dan minum dengan sengaja, tetapi juga harus menjaga diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan pahala puasa di sisi Allah SWT.
Puasa adalah ibadah abstrak yang tidak menonjolkan gerakan fisik seperti shalat
Keistimewaannya meliputi:
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa puasa memiliki beberapa keistimewaan dibanding ibadah-ibadah pada umumnya. Salah satu hadits yang menjelaskan kelebihan puasa dibanding ibadah lainnya adalah hadits qudsi berikut,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ
Artinya, "Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”
Secara substansi hadits qudsi tersebut ingin menyampaikan bahwa ibadah puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Kata “untuk-Ku” adalah bentuk penyandaran ibadah puasa kepada Allah swt yang menunjukkan betapa puasa merupakan ibadah yang memiliki kedudukan lebih dibanding ibadah lainnya.
Dalam beberapa hal, penyandaran sesuatu kepada Allah swt juga terjadi. Seperti kata Ka’bah yang memiliki nama lain Baitullah (rumah Alllah). Kata bait disandarkan pada kata Allah. Ini menunjukkan bahwa Ka’bah merupakan tempat yang memiliki kedudukan tinggi dibanding tempat-tempat lainnya.
Dari hadits tersebut, ada satu hal yang perlu kita garis bawahi yaitu kalimat “karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya”. Kalau kita cermati, pasti muncul sebuah pertanyaan besar; bukankah semua ibadah itu akan dibalas oleh Allah swt? Lalu mengapa dalam hadits di atas seolah hanya puasa yang langsung dibalas oleh-Nya? Seolah menegasikan ibadah-ibadah yang lainnya.
Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan hadits tersebut. Mengapa puasa memiliki keistimewaan di sisi Allah swt dibanding amal ibadah lainnya? Berikut beberapa pendapat di antaranya.
Pertama, puasa adalah ibadah yang tidak bisa terjerumus dalam riya (pamer). Puasa merupakan ibadah yang bersifat abstrak. Artinya ibadah puasa tidak memiliki gerakan yang bisa membedakan antara orang yang sedang berpuasa dengan yang tidak.
Berbeda dengan ibadah lainnya. Seperti shalat, haji, zakat dan lainnya. Antara orang yang sedang shalat dengan yang tidak, bisa kita bedakan dengan mudah, karena shalat bisa dilihat dengan gerakan yang bisa membedakan mana yang sedang shalat dan mana yang bukan.
Antara orang yang sedang melaksanakan haji dengan yang tidak juga demikian, karena haji memiliki gerakan yang bisa membedakan antara mana yang sedang haji dan mana yang bukan. Meskipun puasa bisa terjerumus dalam sifat riya (pamer), itu pun hanya bisa diungkapkan dengan ucapan. Misal ada orang berpuasa, dengan maksud memamerkan puasanya, ia berkata, “Saya ini sedang berpuasa, loh.” Tapi, sekali lagi, itu hanya bisa diperlihatkan dengan ucapan. Berbeda dengan ibadah lainnya yang bila terjerumus dalam riya melalui gerakan atau pun ucapan.
Kedua, puasa mampu melumpuhkan setan. Saat sedang berpuasa, maka kita akan menahan diri untuk tidak makan dan minum sampai waktu magrib tiba.
Ketika makanan dan minuman tidak masuk dalam tubuh, maka nafsu (syahwat) dalam diri akan terkendali. Sementara nafsu (syahwat) merupakan pintu masuk utama bagi setan untuk menjerumuskan manusia dalam lembah maksiat.
Ketiga, pahala puasa lebih besar dibanding ibadah lainnya. Menurut Al-Qurtubi, setiap amal ibadah sudah ditentukan besar pahala yang diperoleh, dari mulai dilipatkan 10 kali, 700 kali, dan sampai yang Allah kehendaki.
Keempat, pahala melihat Allah SWT. Dalam kitab Durrah an-Nashihin (hal. 13), Syekh Utsman Syakir dengan mengutip pernyataan Abul Hasan menjelaskan, bahwa semua amal ibadah akan mendapatkan balasan berupa surga. Berbeda dengan puasa, pahalanya adalah bersua langsung dengan Allah swt di akhirat nanti, tanpa ada penghalang apapun.
Sesuai QS. Al-Baqarah: 183, tujuan akhir puasa adalah Taqwa.
Taqwa diuji saat kita mampu menahan hal-hal halal (makan/minum) di siang hari demi kepatuhan, sehingga lebih mudah menahan hal yang haram di luar Ramadan.
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Saudara muslimku yang berbahagia, sesungguhnya kita mendapatkan rahmat dan berkat yang luar biasa dari Allah SWT, yang mana hingga pada hari ini, kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kenikmatan ibadah di bulan suci ramadhan.
Berpuasa menjadi ibadah yang wajib untuk kita lakukan. Tujuan menjalankan puasa ramadhan yaitu untuk mendapat derajat taqwa di sisi Allah. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 18).
Dari ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa kewajiban berpuasa telah ada bahkan sejak zaman dahulu. Bahkan, puasa sudah dikenal bahkan sejak zaman Mesir Kuno dan bahkan meluas sampai ke Yunani hingga Romawi. Allah pun mengabarkan kepada umat Rasulullah, bahwa puasa hukumnya wajib. Ketika tahu bahwa puasa hukumnya wajib, maka hal ini akan terasa ringan dilaksanakan.
Bentuk ketaqwaan seorang muslim juga dapat dilihat dari caranya berpuasa. Pertama, orang yang berpuasa wajib meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah, entah itu makan, minum, jima’ dan lain-lain.
Kedua, orang berpuasa sebenarnya mampu melakukan kesenangan-kesenangan yang bersifat duniawi. Akan tetapi, orang yang memahami hakikat bulan ramadhan tentu akan lebih memilih untuk memperbanyak amal ibadah dibanding melakukan sesuatu yang tidak berfaedah. Hal ini juga dapat menjadi latihan emosional sekaligus spiritual yang berguna untuk mengasah ketaqwaan.
Ketiga, orang yang berpuasa dan kuat imannya akan lebih sadar bahwa Allah SWT mengawasinya. Sehingga, mereka akan lebih mampu mengendalikan diri untuk menahan hawa nafsu dan meninggalkan perkara yang membuat Allah murka.
Selain itu, berpuasa di bulan ramadhan juga dapat memberikan hikmah tersendiri bagi muslim yang taat menjalankannya. Hikmah tersebut yaitu:
Mendekatkan diri kepada Allah, mengendalikan hawa nafsu, membiasakan hidup teratur, disiplin waktu, melatih rasa empati dan menumbuhkan kasih sayang, kesetaraan bagi yang kaya dan miskin, melatih berakhlak mulia, dan melatih kecerdasan emosional.
Ramadhan adalah bulan kesabaran (Syahrus Sabr).
Terdapat tiga dimensi sabar:
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh.
Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT yang sudah memberikan limpahan nikmat yang tak terkira sampai hari ini. Hingga akhirnya kita bisa bertemu kembali di Bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Tidak lupa, selawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, hingga sampai kepada kita semua selaku umatnya.
Melalui kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan sebuah kultum yang singkat mengenai tujuan puasa di bulan Ramadan.
Sebelumnya, mari kembali kita ucapkan rasa syukur terhadap Allah, sebab kita masih diberi kesempatan umur oleh Allah untuk bertemu dengan bulan yang penuh kenikmatan ini. Mari sama-sama ucapkan bacaan hamdalah "Alhamdulillahirabbil alamin,"
Mengenai anjuran berpuasa di bulan Ramadan, sesungguhnya sudah Allah firmankan lewat ayat Al-Qur’an Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:
"Yaa ayuhaladzi na aamanuu kutiba alaikumusyiam kamaa kutiba alalladzina min khoikikum laallakum tatakuun"
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dari penggalan ayat di atas jelas, Allah mewajibkan berpuasa bagi setiap orang yang beriman. Melalui ayat tersebut, Allah ingin kita menjalani puasa dengan maksud agar kita menjadi orang yang bertakwa.
Maka dari itu, sebelum ketakwaan dicapai bagi setiap orang yang berpuasa mereka untuk menahan diri dari segala nafsunya selama satu bulan penuh, selain makan dan minum.
Kelak di akhirat, manusia yang berhasil dan benar-benar memaknai puasa dengan sebaik-baiknya, maka ia akan sampai pada derajat ketaqwaan yang paling tinggi terhadap Allah.
Semoga kita semua yang dengan ikhlas menjalani ibadah puasa sanggup untuk sampai ke tujuan hakiki bulan puasa. Pada dasarnya sesuatu yang dijalani dengan hati yang lapang dan ikhlas akan diberikan kemudahan dan keberkahan dari setiap langkahnya oleh Allah SWT. Maka dari itu jalani puasa selama satu bulan dengan penuh keikhlasan dalam hati sehingga puasa yang kita jalani pada akhirnya tidaklah sia-sia.
Itulah kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Segala manfaat dan pengetahuan semua datangnya dari Allah, sementara jika ada salah ucap atau perbuatan datanya dari saya, sebagai manusia biasa. Semoga dengan lapang hati bisa dibukakan pintu maaf dengan lapang.
Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Fase awal adalah fase adaptasi yang berat namun penuh Rahmah (rahmat).
Inilah saatnya membangun pondasi ibadah sunnah seperti tahajud, tilawah, dan pembiasaan shalat berjamaah agar istiqamah hingga akhir bulan.
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Saudaraku Seiman.
Alhamdulillāh dihadapan kita ada sebuah bulan yang mulia bulan Ramadhān, bulan Ramadhān merupakan bulan kita bershaum yaitu berpuasa. Bulan Ramadhān adalah bulan untuk menempa kesabaran kita.
Pada saat kita berpuasa ditempa kesabaran kita di mana kesabaran yang ditempa di bulan Ramadhān ada 3 macam:
Sabar untuk Mentaati Allāh
Karena kita berpuasa untuk mentaati perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sabar untuk Meninggalkan Maksiat
Karena saat kita berpuasa kita dianjurkan untuk meninggalkan perbuatan maksiat.
Sabar Menghadapi Musibah
Karena dahaga, lapar dan haus kita adalah musibah yang menimpa kita.
Maka di bulan Ramadhān ini kesabaran kita betul-betul ditempa, makanya bulan Ramadhān disebutkan juga dengan شَهْرُ الصبر yaitu bulan kesabaran.
Karena kesabaran itu saudaraku sekalian, merupakan pokok keimanan artinya modal keimanan.
Ali bin Abi Thālib berkata:
الصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ، بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ
“Sabar di dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan kita.”
Sebagaimana badan kita tidak akan hidup tanpa kesabaran artinya badan kita tidak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman kita tidak akan hidup tanpa kesabaran.
Karena untuk masuk Surga itu berat, perintah-perintah Allāh tidak sesuai dengan hawa nafsu kita, sementara larangan-larangan Allāh sering kali sesuai dengan syahwat kita.
Di situlah kesabaran sangat kita butuhkan.
Maka saudaraku sekalian, terlebih betapa agungnya pahala kesabaran.
Allāh Ta’āla berfirman dalam Al-Qur’ān:
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu diberikan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
Bayangkan!
Oleh karena itu pahala shaum (puasa) itu tanpa batas. Kalau amalan-amalan lain ditulis oleh Allāh 10 sampai 700 kali lipat. Tapi untuk shaum karena ia berhubungan dengan kesabaran maka pahalanya hanya Allāh yang Maha Tahu.
Betapa agungnya saudaraku sekalian shaum dan betapa kita sangat membutuhkan shaum, karena di situlah kesabaran kita sangat ditempa.
Di bulan Ramadhān ini kita akan ditempa kesabaran kita, sabar untuk berpuasa, sabar untuk shalat tarawih, sabar untuk membaca Al-Qur’ān, sabar untuk selalu di atas kebaikan, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan yang bisa merusak shaum kita.
Saudaraku Seiman
Maka kita berharap, mudah-mudahan di bulan Ramadhān ini kesabaran kita semakin meningkat, kita tidak lagi berkata bahwa kesabaran saya ada batasnya, tapi dengan adanya bulan Ramadhān kesabaran kita menjadi tidak terbatas. Kita terus bersabar di atas keimanan kita dan ketakwaan sampai kita meninggal dunia.
Semoga Allāh memberikan kepada kita kekuatan dengan datangnya bulan Ramadhān ini, dan dijadikan kita sebagai hamba Allāh yang sabar menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan yang menerpa. Sabar untuk mentaati Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan sabar untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Allāh Azza wa Jalla.
Celakalah orang yang bertemu Ramadan namun dosanya tidak terampuni hingga Ramadan berakhir (HR. Tirmidzi).
Kerugian ini menimpa mereka yang meremehkan kualitas puasa dan tidak memaksimalkan malam Lailatul Qadar.
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan penuh ampunan, bulan penuh keberkahan.
Setiap ibadah pasti memiliki keutamaan masing-masing. Demikian pula dengan puasa Ramadhan.
Hal ini wajib kita syukuri, karena Allah SWT masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan.
Bersyukur akan nikmat sehat, sehingga kita dapat menunaikan ibadah pada bulan yang sangat mulia ini.
Keutamaan Rukun Islam ketiga yang hanya ada di bulan Ramadhan ini telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh rahmat dan keistimewaan.
Pada bulan Ramadhan, semua amal ibadah dilipatgandakan, pintu surga terbuka lebar dan pintu neraka ditutup serta setan dibelenggu.
Tentunya setiap umat muslim tidak ingin melewatkan kesempatan dalam meningkatkan kualitas ibadah agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bulan Ramadan dibagi menjadi 3 fase antara lain 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari terakhir. Pada fase 10 hari pertama menjadi fase terberat bagi umat muslim dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, sebab pada fase 10 hari pertama merupakan masa peralihan dan beradaptasi dari pola makan biasa hingga puasa.
Namun, jangan sampai melalaikan ibadah pada 10 hari pertama di bulan Ramadan. Seluruh rahmat dan pahala dari Allah SWT akan terbuka lebar bagi siapa saja yang menjalankan amalan-amalannya.
Tentunya pada 10 hari pertama di bulan Ramadan memiliki keutamaan-keutamaan. Apa sajakah keutamaan-keutamaan itu?
Terbukanya Pintu Rahmat
Pada 10 hari pertama di bulan Ramadan, Allah SWT membuka seluruh pintu rahmat-Nya bagi hamba yang berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya 'Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)."
Memberi Keberuntungan
Bagi umat muslim yang menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya akan selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu berad dalam pentunjuk-Nya.
Setiap perintah dalam al-Quran pasti mengandung kebaikan, kemaslahatan, keberuntungan, manfaat, keindahan, keberkahan.
Sedangkan setiap larangan dalam al-Quran pasti mengandung kerugian, kebinasaan, kehancuran, keburukan (disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir (1/200)
Menjaga Diri dari Perbuatan Buruk
Dalam menjalankan puasa Ramadhan, umat muslim akan secara tidak sadar akan menjauhi dari perbuatan buruk sehingga ibadahnya menjadi berkah dan mendapatkan banyak pahala dari Allah SWT.
Dapat Melatih Diri melakukan Ibadah Sunnah
Siapapun umat muslim yang melakukan ibadah puasa akan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Secara tidak langsung umat muslim akan mengerjakan amalan-amalan sunnah seperti shalat tahajud, shalat dhuha, shalat tarawih, membaca Al-Quran serta amalan-amalan lainnya.
Membiasakan Diri untuk Shalat Berjamaah
Setiap malam di bulan Ramadhan, umat muslim melaksanakan ibadah shalat tarawih secara berjamaah.
Dengan melaksanakan shalat isya dan tarawih berjamaah, umat muslim akan terbiasa melakukan shalat secara berjamaah setiap harinya.
Semoga setiap umat muslim yang melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan ini diberikan kelancaran serta keberkahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Puasa bukan hanya menahan perut, tapi melatih kecerdasan emosional.
Hikmahnya meliputi empati terhadap sesama (fakir miskin), disiplin waktu (sahur/buka), dan pembersihan jiwa dari akhlak tercela.
Berikut contoh isi kultum ramadhannya :
Tentu satu hal yang tidaklah kita ragukan bahwasanya berjumpa dengan Ramadhan adalah satu nikmat yang besar. Akan tetapi orang yang mendapatkan nikmat yang besar ini, belum tentu dia menjadi manusia yang beruntung. Boleh jadi ada orang berjumpa dengan Ramadhan dan dia menjadi manusia yang celaka. Dan sungguh betapa celakanya orang yang semacam ini. Allah berikan kepadanya nikmat yang besar, namun dia malah menjadi manusia yang celaka dalam nikmat besar dalam nikmat besar yang Allah berikan kepadanya.
Siapakah orang yang menjadi manusia yang celaka, manusia yang merugi, pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat besar kepadanya?
Hal ini telah Nabi jelaskan dalam satu hadits yang shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sungguh celaka seorang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berakhir dalam keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala belum mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Tirmidzi)
Demikian yang Nabi sampaikan.
Manusia yang celaka di bulan Ramadhan, manusia yang celaka dalam keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang besar untuk dirinya adalah orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan namun ketika Ramadhan berakhir ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala belum mengampuni dosa-dosanya.
Padahal selama bulan Ramadhan terdapat banyak amal yang jika dikerjakan akan menyebabkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semisal amal berupa puasa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa dengan motivasi yang benar karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah ampuni dosa-dosanya yang lewat.”
Demikian juga Qiyam Ramadhan, Nabi katakan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang shalat tarawih di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah ampuni dosa-dosanya yang lewat.”
Demikian juga shalat dimalam hari saat Lailatul Qadar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِسَاباً، غُفِر لَهُ مَا تقدَّم مِنْ ذنْبِهِ
“Siapa yang mengerjakan shalat dimalam hari dan malam tersebut bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni dosa-dosa yang lewat.”
Terdapat banyak amal yang disyariatkan di bulan Ramadhan yang menjadi sebab terampuninya dosa. Namun ternyata ada orang yang Ramadhan berakhir dan Allah Subhanahu wa Ta’ala belum mengampuni dosa-dosanya. Maka sungguh dia adalah orang yang teledor, sungguh dia adalah orang yang ceroboh.
Waktu yang Allah berikan demikian panjang. Satu bulan lamanya, boleh jadi 29 hari, menjadi 30 hari. Ternyata dari sekian waktu lamanya ini dengan terdapat berbagai macam amal didalamnya yang itu adalah amal-amal yang menghapus dosa, ternyata tidak mendapatkan bagian dari orang-orang yang mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka berarti, sungguh puasanya adalah puasa yang sangat tidak berkualitas, shalat malamnya adalah shalat malam yang betul-betul tidak ada nilainya dan tidak ada harganya, shalat tarawihnya adalah shalat tarawih yang tidak ada faidahnya, dia hanya mendapat capek saja dari shalat tarawih yang dia lakukan tersebut. Yang dia dapatkan dari puasa yang dia kerjakan hanya lapar dan dahaga semata.
Inilah manusia yang celaka pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepadanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita semuanya dari keadaan tragis semacam ini.
Berikut adalah pilihan teks kultum ramadhan tentang sabar yang bisa Anda gunakan:
Berikut isi kultum ramadhannya :
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillaah, wasyukurillaah. Washolatu wassalaamu alaa Rosuulillaah. Laa nabiyya ba’dah. Amma ba’du.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua.
Selawat beserta salam tidak lupa kita curahkan kepada junjungan nabi besar kita baginda Nabi Muhammad saw., juga kepada keluarga dan pengikutnya sampai akhir zaman. Amin.
Dalam kesempatan kali ini izinkan saya memberikan ceramah singkat berjudul, "Sabar dan Keutamaannya". Allah Swt. berfirman dalam surah Az Zumar ayat 10, yang artinya:
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini, (akan) memperoleh (balasan) kebaikan (dari-Nya). Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah, yang dicukupkan pahala tanpa batas."
Sungguh kesenangan dan kesusahan yang kita alami di dunia ini adalah cobaan dari Allah Swt. Bahkan, kehidupan dunia ini semuanya adalah cobaan.
Agar mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat maka setiap muslim harus memahami hakikat kehidupan dunia ini dan mengambil bekal utama dalam menjalaninya, di antara bekal tersebut adalah sikap sabar.
Sabar mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam, bahkan urusan agama berdiri di atas sabar tersebut yaitu:
Sabar dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala.
Sabar dalam menjauhi larangan-Nya.
Sabar dalam menghadapi musibah yang menimpa.
Dan orang-orang yang bersabar dialah orang yang beruntung karena telah melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Adapun di antara janji Allah bagi orang mukmin yang bersabar adalah:
Allah akan memberikan ganjaran kepadanya tanpa terhitung.
Dengan musibah tersebut (jika bersabar dan mengharapkan balasan dari Allah) maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.
Allah akan mengangkat derajat orang yang bersabar dalam menghadapi cobaan dari Allah.
Demikianlah ceramah singkat yang dapat saya sampaikan. Akhir kata, wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Contoh isi kultum ramadhannya :
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbil Alamin, mari kita ucapkan rasa syukur pada Allah SWT. yang telah memberi kita kesempatan, untuk bisa berkumpul di Masjid dan sama-sama mengkaji isi ceramah yang akan disampaikan.
Di dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan dan menjelaskan sedikit tentang makna sabar, sifat, dan keutamaan sabar di dalam kehidupan. Pada dasarnya kata sabar ini berasal dari kata sobaro yasbiru yang artinya adalah menahan.
Pengertian dari menahan ini sangat luas, dan pengertian dari sabar itu sendiri bisa diartikan seperti ketika kita puasa dalam menahan nafsu. Atau bersabar pada saat kita menahan lapar, yang artinya kita harus bisa menahan diri untuk tidak makan dan minum sampai adzan maghrib tiba.
Sabar juga dapat diartikan ketika kita harus bersikap sabar, saat menghadapi orang yang berperilaku buruk terhadap kita. Kita harus menghadapinya dengan sikap sabar, bukan dengan amarah atau membalasnya. Tidak semua orang bisa mendapatkan suatu kenikmatan dari sikap sabar tersebut. Karena memang sejak awal orang tersebut sudah bisa menahannya dengan baik.
Penting bagi kita untuk selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. dan meminta pada-Nya agar selalu diberikan kesabaran yang tidak ada batasnya. Kita pun akan mendapat pahala sebanyak-banyaknya dari Allah, ketika kita bersikap sabar terhadap segala sesuatu. Allah SWT. berfirman di surat Al-Baqarah Ayat 153, yang isinya tentang kesabaran.
Di dalam ayat tersebut Allah menerangkan bahwa, Ia akan selalu memberi pertolongan kepada setiap hambanya yang menjalani perintahnya dengan baik. Pertolongan akan diberikan oleh Allah pada setiap hambanya yang sedang mengalami kesusahan, tapi tetap melaksanakan shalat wajib serta bisa menahan diri dengan sikap sabar. Itulah keistimewaan dari sikap dan rasa sabar itu sendiri.
Semoga apa yang saya sampaikan hari ini, dapat memberi manfaat untuk kehidupan para jamaah sekalian.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Contoh isi kultum ramadhannya :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam serta kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari akhir.
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, salah satu bentuk kesabaran yang sering dilupakan di bulan Ramadan adalah kesabaran dalam menjaga lisan. Banyak orang mengira bahwa puasa hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sebenarnya puasa juga menuntut kita untuk menjaga perkataan agar tetap baik dan tidak menyakiti orang lain. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa puasa tidak akan bernilai jika kita masih berkata dusta, menggunjing, atau menyebarkan fitnah. Karena itu, menjaga lisan merupakan bagian penting dalam kesempurnaan ibadah puasa kita.
Allah SWT juga mengingatkan dalam Alquran:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat Raqib dan Atid (yang selalu mencatat)." (QS. Qaf: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap perkataan kita dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Oleh karena itu, di bulan Ramadan ini, kita harus lebih berhati-hati dalam berbicara. Jangan sampai kita berpuasa seharian, tetapi justru kehilangan pahala karena perkataan yang tidak baik.
kita belajar bahwa satu kata saja bisa menentukan nasib kita di akhirat. Oleh karena itu, di bulan Ramadan ini, mari kita perbanyak perkataan yang baik, seperti berdzikir, membaca Alquran, dan berbicara dengan lemah lembut kepada sesama.
Sebagai penutup, marilah kita berusaha menjaga lisan kita selama Ramadhan ini, agar puasa kita tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT. Semoga kita semua menjadi hamba yang lebih sabar dalam berbicara dan selalu berkata baik dalam kehidupan sehari-hari.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Contoh isi kultum ramadhannya :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umat Islam yang istiqamah dalam menjalankan ajarannya.
Hadirin yang dirahmati Allah, bulan Ramadan adalah bulan ibadah. Di bulan ini, kita diperintahkan untuk berpuasa, memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan bersedekah. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa menjalankan ibadah secara konsisten membutuhkan kesabaran. Ada kalanya kita merasa malas, lelah, atau bahkan tergoda untuk meninggalkan amalan-amalan yang seharusnya dilakukan.
Allah SWT berfirman dalam Alquran:
وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
"Dan bersabarlah atas segala sesuatu yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS. Luqman: 17)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran dalam ketaatan adalah bagian dari perjuangan hidup seorang muslim. Setiap ibadah pasti memiliki tantangannya, tetapi dengan kesabaran, semua itu bisa dijalani dengan ikhlas dan penuh keikhlasan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”
Dari hadits ini, kita memahami bahwa dunia penuh dengan godaan yang dapat melalaikan kita dari ibadah. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran untuk tetap istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Hadirin yang dirahmati Allah, mari kita manfaatkan Ramadan ini untuk membiasakan diri dalam ketaatan kepada Allah SWT. Semoga kita diberikan kesabaran dan kekuatan untuk terus beribadah dengan ikhlas dan istiqamah.
Sebagai penutup, marilah kita berdoa agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba yang selalu sabar dalam menjalankan ketaatan. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Contoh isi kultum ramadhannya :
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin yang saya muliakan, pada kesempatan kali ini, mari kita berbicara tentang sebuah sifat mulia yang sangat penting dalam kehidupan kita, yaitu sabar dalam menghadapi fitnah.
Fitnah merupakan ujian yang tak dapat kita hindari. Namun, dengan kesabaran, kita dapat menghadapinya dengan kukuh dan tegar.
Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perbedaan pendapat, iri hati, dan cobaan. Terkadang, orang-orang yang kita anggap dekat bisa menjadi sumber fitnah bagi kita.
Fitnah bisa berupa rumor, tuduhan palsu, atau penghinaan terhadap kita. Namun, di dalam agama Islam, Allah Swt. telah menekankan pentingnya sikap sabar dalam menghadapi fitnah.
Allah Swt. berfirman dalam surah Al-A'raf (7:200):
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Dan jika kamu ditimpa sesuatu fitnah maka bertakwalah kamu kepada Allah dengan ketakwaan yang lebih, niscaya Dia akan memberi (karunia)-Nya kepadamu dengan pertolongan yang jelas."
Dalil Al-Qur'an ini menunjukkan bahwa ketika kita dihadapkan pada situasi fitnah, kita harus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dan mengandalkan-Nya sepenuhnya.
Allah menjanjikan pertolongan yang nyata bagi orang-orang yang bersabar dan bertakwa dalam menghadapi ujian fitnah ini.
Sabar adalah kunci dalam menghadapi fitnah. Dalam situasi ini, kita harus mengendalikan emosi kita, menjaga lidah agar tidak berkata-kata yang merugikan, dan memercayakan hasilnya kepada-Nya.
Sabar bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan dan keimanan kita sebagai hamba-Nya.
Hadirin yang saya muliakan,
Ingatlah bahwa setiap ujian yang kita hadapi adalah kesempatan untuk meningkatkan derajat kita di hadapan Allah Swt.
Berikut adalah draf kultum Ramadan singkat dengan tema "Menjaga Lisan" yang bisa Anda bawakan :
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya kita dipertemukan kembali dengan Ramadan 2026 dalam keadaan sehat walafiat. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Sahabat jemaah yang dirahmati Allah, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Salah satu tantangan terbesar kita adalah menjaga lisan. Lidah yang tidak bertulang ini sering kali lebih tajam dari pedang. Tanpa sadar, pahala puasa kita bisa gugur hanya karena satu ucapan ghibah, fitnah, atau kata-kata kotor.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Mengapa? Karena lisannya tidak ikut berpuasa dari kemaksiatan. Menjaga lisan bukan berarti diam seribu bahasa, melainkan memastikan setiap kata yang keluar mengandung manfaat atau lebih baik diam.
Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum "detoks lisan". Gunakan lidah kita untuk berzikir dan menebar kedamaian, agar puasa kita mencapai derajat takwa yang sempurna.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Berikut adalah draf kultum Ramadan singkat dengan tema Bersyukur yang bisa Anda bawakan :
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Hadirin yang berbahagia, di tengah hiruk-pikuk dunia tahun 2026 ini, sering kali kita lupa menghitung nikmat karena terlalu sibuk menghitung beban.
Padahal, napas yang kita hirup saat ini adalah hadiah gratis dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Bersyukur adalah kunci ketenangan hati.
Di bulan Ramadan ini, mari kita syukuri kesempatan beribadah yang belum tentu didapatkan orang lain. Syukur tidak hanya di lisan dengan ucapan Alhamdulillah, tapi juga dengan perbuatan—yakni menggunakan nikmat sehat dan harta kita untuk membantu sesama yang membutuhkan.
Semoga dengan bersyukur, Allah memberkahi sisa usia kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang beruntung dunia akhirat.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pertama-tama mari kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala hal yang kita terima saat ini dan di tempat ini.
Hanya karena-Nya kita bisa bersama-sama mendengarkan kultum hari ini dengan keadaan sehat wal afiat.
Nikmat Allah SWT telah diberikan kepada kita secara berlimpah. Bahkan tanpa kita minta, Allah dengan kemurahan hatinya selalu menganugerahkan kebaikan bagi kita semua.
Terkadang, terlalu terlenanya kita terhadap duniawi membuat kita lupa bersyukur kepada Allah SWT.
Kita sebagai umat-Nya harus selalu bersyukur atas segala hal yang telah kita terima hingga saat ini. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nahl:18).
Allah SWT mencintai hamba-Nya yang bersyukur. Ketika kita bersyukur, kita menyadari bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah SWT semata.
Sekian kultum singkat tentang bersyukur,
Wassalamualaikum Wr. Wb.
(Sonora/ Tribunnews/ Bangkapos.com)