Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Mohammad Romadoni
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Banjir setinggi 20 sentimeter merendam delapan rumah warga di kawasan Perumdam, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Minggu (22/2/2026) dini hari.
Genangan terjadi saat warga bersiap santap sahur di bulan Ramadan.
Kalaksa BPBD Kota Mojokerto, Ganesh Kresnawan menjelaskan, banjir genangan dipicu akibat curah hujan tinggi yang berlangsung lebih dari 2 jam, pada Sabtu (21/2) sekira pukul 18.15 WIB.
Dampaknya, sungai meluap tidak mampu menampung air hujan sehingga menggenangi area persawahan hingga masuk ke pemukiman warga di Perumdam.
Baca juga: Daftar Lokasi Pasar Takjil Ramadan 2026 di Mojokerto yang Paling Diburu Warga untuk Ngabuburit
"Genangan air membanjiri akses jalan Perumdam saat sahur, sekitar pukul 03.30 WIB," ujar Ganesh.
Menurut Ganesh, sebanyak 8 rumah warga terdampak banjir dengan ketinggian rata-rata mencapai 20 sentimeter.
"Jalan perumahan terendam dan 8 rumah yang tergenang ketinggian air kurang lebih 20 CM," jelasnya.
Ganesh menambahkan, petugas mengoperasikan rumah pompa untuk mempercepat banjir surut.
Baca juga: 104 Perumahan di Jember Rawan Banjir, Satgas Tata Ruang Siapkan Penertiban Pengembang
Genangan air masih terdapat di sejumlah jalan, banjir surut perlahan diperparah hujan hingga malam ini.
Aliran sungai sungai di perumahan terhambat lantaran debit Sungai Brantas meluap.
"Sudah kami tindaklanjuti dengan pompa banjir dan kami berikan bantuan logistik kepada warga terdampak," tukasnya.
Kawasan Perumdam telah menjadi daerah langganan banjir setiap musim hujan.
Warga setempat, Amirudin (60) mengaku, air luapan sungai masuk ke kawasan perumahan saat sahur sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.
"Hujannya malam kemarin, banjirnya pas waktu sahur tadi pagi. Banjir meluber ke jalan dan taman Perumdam itu sampai tidak kelihatan tergenang air," kata Amirudin saat dijumpai di lokasi.
Menurutnya, warga sudah mengantisipasi banjir dengan meninggikan teras rumahnya.
Terdapat sungai kecil persis di samping perumahan yang kondisinya meluap.
Dampak banjir juga menghambat aktivitas warga menuju tempat ibadah saat Ramadan.
"Airnya terjebak di sini, posisinya paling rendah. Ya sudah biasa kalau musim hujan seperti ini, kalau terganggu pastinya karena kita mau ke musala jalannya terendam air," imbuhnya.
Warga telah terbiasa dengan bencana banjir yang seolah tanpa solusi dari pemerintah daerah.
Dirinya berharap penanganan banjir di kawasan tersebut bisa dilakukan secara permanen.
"Harapan kami kalau hujan tidak banjir, sudah itu saja. Sudah ada rumah pompa, tapi sungainya (Brantas) meluap jadi surutnya lambat," tandasnya.