Prof. Dr. Hj. Darmawati, S.Ag., M.Pd.
Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab IAIN Parepare
RAMADAN 1447 Hijriah telah tiba.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan suci ini disambut dengan gegap gempita spiritual di seluruh Indonesia.
Masjid kembali dipenuhi jamaah, lantunan ayat suci menggema dalam salat tarawih, dan target khatam 30 juz menjadi resolusi pribadi banyak orang.
Namun di tengah semarak itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan, apakah interaksi dengan Al-Qur’an sudah sampai pada tahap pemahaman, atau masih berhenti pada pengulangan bunyi bacaan?
Padahal, Al-Qur’an sendiri tidak hanya diturunkan untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan.
Allah menegaskan “tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24).
Dalam ayat lain juga disebutkan “kitab yang kami turunkan kepadamu penuh keberkahan agar mereka mentadaburi ayat-ayatnya.” (QS. Shad:29).
Kata kuncinya adalah tadabur, yang berarti membaca dengan kesadaran makna, menyelami pesan, dan membiarkan ayat berdialog dengan kehidupan.
Antara Khataman dan Pemahaman
Fenomena khataman Al-Qur’an selama Ramadan adalah tradisi yang patut diapresiasi.
Ia menunjukkan kecintaan umat kepada kitab sucinya.
Namun tanpa tadabur, ibadah ini berisiko menjadi aktivitas lisan yang tidak sepenuhnya menyentuh dimensi intelektual dan moral.
Kita sering mendengar kata taqwa, sabr, ‘adl, rahmah berulang-ulang dalam salat tarawih.
Tetapi berapa banyak yang memahami kedalaman makna kata-kata tersebut dalam konteks ayatnya?
Dalam bahasa Arab, satu akar kata bisa melahirkan spektrum makna yang luas, bergantung pada struktur kalimat dan konteksnya.
Tanpa pemahaman dasar kebahasaan, ayat-ayat itu mudah berlalu tanpa bekas, tidak ada rasa, sebagaimana sering saya ungkapkan ketika berceramah di bulan Ramadan.
Di era digital, tantangan ini semakin kompleks.
Media sosial dipenuhi potongan ayat yang dikutip secara parsial.
Terjemahan harfiah sering dijadikan dasar kesimpulan teologis yang luas.
Video singkat berdurasi satu menit sering menghadirkan tafsir instan tanpa penjelasan struktur bahasa yang memadai.
Apalagi sekarang kita sering disuguhi short video yang terkadang langsung di scroll tanpa menonton sampai akhir.
Akibatnya, pemahaman agama kerap tereduksi menjadi slogan.
Di sinilah urgensi literasi bahasa Al-Qur’an menjadi semakin penting.
Kecuali dracin (drama Cina) yang sering muncul di beranda, biasanya orang betah nonton, meski ending-nya sudah diketahui bahwa ternyata dia CEO.
Tadabur di Era Digital
Teknologi digital sebenarnya bukan musuh spiritualitas.
Ia bisa menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih baik, jika digunakan secara tepat.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan analisis teks Arab secara cepat: identifikasi akar kata, pola morfologi, hingga perbandingan makna dalam berbagai ayat.
Konsep “Tadabur Digital” yang saya maksud bukanlah menggantikan peran ulama atau tradisi tafsir klasik.
Sebaliknya, ia adalah pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu literasi awal, memberikan akses kepada masyarakat untuk memahami struktur dasar bahasa ayat yang mereka baca.
Metode pembelajaran bahasa Arab kontemporer menekankan pemahaman fungsional dan kontekstual, bukan sekadar hafalan kaidah.
Prinsip ini dapat diterapkan dalam platform digital yang memungkinkan pengguna memahami makna kata dalam konteks kalimatnya.
Dengan pendekatan ini, bahasa Arab tidak lagi terasa eksklusif atau menakutkan.
Bayangkan jika selama Ramadan, umat Islam tidak hanya menargetkan khatam 30 juz, tetapi juga memahami beberapa kata hingga ayat dalam Al-Qur’an secara mendalam.
Satu hari satu kata atau ayat, jadi satu malam satu refleksi.
Gerakan sederhana ini bisa dilakukan melalui aplikasi, website/channel otoritatif dan kredibel, atau sesi singkat sebelum atau sesudah tarawih.
Lima hingga sepuluh menit penjelasan makna kata yang muncul dalam ayat malam itu dapat membuka perspektif baru.
Bahasa Al-Qur’an menjadi lebih dekat, lebih hidup, dan lebih relevan.
Literasi sebagai Benteng Moderasi
Tadabur Digital juga memiliki implikasi sosial yang luas.
Kemampuan memahami teks secara lebih presisi membantu umat membedakan antara pesan utama Al-Qur’an dan interpretasi yang bias.
Banyak polarisasi keagamaan bermula dari pembacaan tekstual yang terlepas dari konteks kebahasaan.
Ketika satu kata diterjemahkan secara sempit tanpa mempertimbangkan nuansa semantik, kesimpulan yang lahir bisa jauh dari maksud ayat.
Dengan literasi linguistik yang lebih baik, umat memiliki pondasi yang lebih kokoh dalam menyikapi perbedaan.
Namun perlu ditegaskan, teknologi hanyalah alat. AI tidak memiliki otoritas moral atau keilmuan.
Ia membantu membuka pintu, tetapi kedalaman tafsir tetap memerlukan bimbingan tradisi keilmuan yang panjang.
Oleh karena itu, Tadabur Digital harus dipahami sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Momentum Perubahan
Ramadan selalu menjadi bulan transformasi.
Ia mendidik disiplin melalui puasa, empati melalui lapar, dan solidaritas melalui zakat.
Mengapa tidak kita tambahkan satu dimensi lagi, peningkatan literasi bahasa wahyu?.
Ramadan tahun ini bisa menjadi titik balik.
Bukan hanya kompetisi khatam, tetapi juga komitmen mengerti.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari program raksasa.
Ia bisa berawal dari keputusan sederhana: memahami satu kata dengan sungguh-sungguh setiap hari.
Karena pada akhirnya, Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dilantunkan.
Ia diturunkan untuk dipahami, direnungkan, dan dihidupkan dalam tindakan.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya dengan jujur, Ramadan tahun ini akan kita jadikan sekadar repetisi bunyi, atau momentum kebangkitan makna?.
Jawabannya ada pada kesediaan kita mentadaburi dengan hati, dengan akal, dan kini, dengan dukungan teknologi yang bijak. (*)