SURYA.co.id – Seringkali kita melihat konten YouTube hanya sebagai hiburan atau ajang pamer kemewahan.
Namun, di tangan Ipda Purnomo, seorang polisi asal Lamongan, platform video ini berubah menjadi jembatan keselamatan bagi ratusan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan warga kurang mampu.
Lewat konten yang jujur, apa adanya, dan penuh empati, ruang digital ia ubah menjadi sumber daya sosial yang berdampak nyata.
Mengurus ratusan ODGJ jelas membutuhkan biaya besar, dari makan, obat, hingga kebutuhan dasar harian.
Ipda Purnomo tak menutup-nutupi sumber dananya. Pada awal perjuangan, ia bahkan merelakan tunjangan pribadinya sebagai anggota kepolisian untuk menolong ODGJ yang terlantar.
Kisah ini bermula saat ia masih berdinas di Polsek Babat dan menjabat Bhabinkamtibmas Kelurahan Banaran.
"Awalnya itu, saat saya masih dinas di Polsek Babat, dan jadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran."
"Melihat ada ODGJ keliaran jadi kasihan, makanya muncul inisiatif menolongnya," kata Pak Pur, Minggu (1/2/2026), dikutip SURYA.CO.ID dari Kompas.com.
Dari pengalaman di lapangan itu, kebutuhan pembiayaan makin kompleks. Saat mencoba menitipkan ODGJ ke rumah sakit dan yayasan swasta, realitas biaya menjadi tantangan besar.
"Oleh pihak rumah sakit ditolak, karena enggak ada KTP keluarga."
"Kemudian saya ditawari, agar ditaruh di yayasan swasta dengan biaya Rp 3,5 juta per bulan."
"Saya langsung dimarahi sama istri," kenang Pak Pur.
Baca juga: Sosok Istri Ipda Purnomo yang Setia Dukung Kebaikan Suami Rawat ODGJ hingga Bantu 39 Guru PPPK Tuban
Di titik inilah pendekatan ekonomi digital berperan.
Ipda Purnomo memanfaatkan YouTube bukan untuk menjual kesedihan, melainkan menjual solusi.
Konten-kontennya berfungsi sebagai laporan pertanggungjawaban visual kepada publik, apa yang ia temui di lapangan, apa yang ia lakukan, dan bagaimana donasi atau pendapatan iklan digunakan.
Ia juga aktif memanfaatkan Facebook untuk melacak keluarga ODGJ yang terpisah.
Pendekatan transparan ini membangun kepercayaan, menjaga engagement, dan membuat penonton bertahan.
Hasilnya, AdSense menjadi pemasukan tambahan yang relatif stabil untuk menopang misi sosialnya.
Dukungan keluarga menjadi fondasi penting.
"Bulan Maret besok itu, tahun kesembilan (menekuni menolong ODGJ), yayasan masuk tahun kelima."
"Istri mendukung, saat awal itu sampai ikut memandikan ODGJ yang saya bawa pulang ke rumah," katanya.
Hasil dari strategi digital itu bukan angka semata.
Di lapangan, dampaknya terasa langsung.
Baru-baru ini, Ipda Purnomo membantu 39 guru PPPK di Kabupaten Tuban yang kontraknya tak diperpanjang, sekaligus merangkul warga rentan lainnya, mulai dari pemulung di Lamongan hingga ODGJ yang hidup terlantar di jalanan.
Semua aktivitas ini terhimpun di bawah Yayasan Berkas Bersinar Abadi, yang kini merawat ratusan ODGJ.
Keputusan mendirikan yayasan pun lahir dari pengalaman pahit menghadapi mahalnya biaya perawatan.
"Kemudian, istri usul kepada saya agar bikin sendiri (mendirikan yayasan)," katanya.
"Awalnya itu disuruh ikut bernaung di bawah Dinas Kesehatan karena merawat ODGJ butuh obat."
"Tapi, karena tidak sekadar obat dan butuh keperluan lain yang dibutuhkan ODGJ, maka disarankan untuk ikut Dinas Sosial," ujar Pak Pur.
Perasaan yang ia rasakan campur aduk, antara sedih dan bahagia.
"Saya itu sedih namun bahagia. Sedih ketika melihat ODGJ dipasung seperti di Blitar, yang hendak saya ajak tapi ibunya menolak."
"Namun bahagia, ketika anak itu akhirnya sembuh dan memeluk ibunya saat dijemput di Lamongan," kata Pak Pur.
Kisah Ipda Purnomo memberi pelajaran penting bagi ASN dan pejabat publik, keterbatasan anggaran negara bukan alasan berhenti berbuat baik.
Dengan kreativitas, integritas, dan pemanfaatan ekonomi digital yang transparan, masalah sosial bisa didekati dengan solusi mandiri, tanpa membebani negara, namun tetap akuntabel di mata publik.
Menjadi polisi bukan hanya soal menegakkan hukum.
Lewat kamera, jaringan digital, dan ketulusan, Ipda Purnomo menunjukkan bahwa kemanusiaan bisa diperjuangkan dengan cara-cara modern, memanusiakan manusia, satu konten jujur pada satu waktu.
Kepedulian Ipda Purnomo tak berhenti pada isu kesehatan mental.
Baru-baru ini, Ipda Purnomo membagikan bantuan uang tunai kepada puluhan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Tuban yang sebelumnya diputus kontraknya.
Total bantuan yang diberikan mencapai Rp11.700.000 dan disalurkan kepada 39 guru PPPK terdampak.
Yang berarti masing-masing menerima Rp 300 ribu.
Bantuan tersebut merupakan bentuk empati sekaligus dukungan moral agar para guru tetap semangat menjalani aktivitas sehari-hari meski menghadapi kondisi sulit.
Ipda Purnomo mengatakan, aksi sosial itu dilakukan secara pribadi sebagai wujud kepedulian terhadap dunia pendidikan, khususnya para tenaga pendidik yang sedang mengalami persoalan pekerjaan.
"Semoga dengan bantuan ini bisa memberikan keringanan kepada mereka. Dan bisa untuk membeli kebutuhan masuk bulan puasa ini," kata Purnomo, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, guru memiliki peran besar dalam membentuk generasi penerus bangsa sehingga sudah selayaknya mendapat perhatian bersama ketika mengalami kesulitan.
"Alhamdulillah hari ini saya serahkan apresiasi ke pada 39 guru yang tidak diperpanjang SK mengajarnya," katanya.
Bantuan apresiasi diberikan untuk kebutuhan persiapan bulan Romadan diterimakn kepada Lilik Rri Hidayati yang mewakili 39 teman yang tertimpa musibah putus kontrak PPPK sebagai tenaga pendidik.
“Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban dan menjadi penyemangat bagi para guru untuk terus berkarya,” ujarnya.
Lilik Rri Hidayati mewakili para guru penerima bantuan menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diberikan.
Mereka mengaku terharu karena masih ada pihak yang peduli terhadap kondisi yang mereka alami setelah pemutusan kontrak.
Aksi sosial tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak dan diharapkan dapat menginspirasi masyarakat lain untuk turut membantu sesama, terutama di bidang pendidikan.
Selain itu, Ipda Purnomo juga seorang ibu berjalan kaki sambil memanggul dua karung besar berisi barang bekas, Jumat (20/2/2026).
Ibu tersebut diketahui bernama Muntama (56), warga Desa Suci, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Sehari-hari ia berjalan kaki sejak subuh hingga selepas Asar untuk mencari rongsokan di sepanjang jalan.
Tanpa ragu, Purnomo bergegas menghentikan kendaraan yang dikendarainya dan menghampiri sang ibu.
Melihat beban berat yang dipikulnya, Ipda Purnomo kemudian menawarkan bantuan dan mengantarkan Ibu Muntama pulang ke rumahnya.
“Beliau sudah puluhan tahun keliling jalan kaki mencari barang bekas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujar Purnomo anggota Polres Lamongan ini kepada SURYA.co.id.
Tak hanya mengantar pulang, polisi tersebut juga memberikan sejumlah uang agar Muntama bisa segera membeli kebutuhan pokok di rumanya.
"Saya terenyuh dan saya beri Rp 1 juta untuk belanja keperluan selama Ramadan," kata Purnomo.
Suasana haru pun tak terelakkan. Muntama memeluk dan mendoakan para anggota polisi dengan mata berkaca-kaca.
Tangis bahagia pecah sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang datang di hari itu.
Aksi sederhana namun penuh makna ini menjadi pengingat tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama.
Di tengah rutinitas tugas, empati dan rasa kemanusiaan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pengabdian aparat kepada masyarakat.
“Ya Allah Ya Rabb, jaga hati kami agar selalu pandai bersyukur atas segala nikmat ini. Aamiin,” ucap Ipda Purnomo penuh harap.
Ipda Purnomo, Kanit Binpolmas Polres Lamongan, Polda Jawa Timur, dikenal berkat dedikasi kemanusiaannya merawat ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan terlantar.
Ia mendirikan Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Desa Nguwok, Lamongan, untuk memberikan tempat tinggal, perawatan, dan rehabilitasi gratis selama lebih dari 7 tahun.
(Hanif Manshuri/Putra Dewangga/SURYA.co.id)