TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jembrana menyoroti fenomena maraknya masyarakat yang dengan sengaja membuang atau menelantarkan anak anjing maupun kucing di tempat sepi.
Hal ini disebut menjadi salah satu pemicu banyaknya hewan penular rabies (HPR) kategori liar di lapangan.
Dengan banyaknya anjing liar, praktis bisa menjadi salah satu pemicu melonjaknya kasus rabies di Gumi Makepung.
Menurut data yang berhasil diperoleh, di wilayah Jembrana sedikitnya ada sekitar 40.000 ekor lebih hewan penular rabies (HPR) yakni anjing maupun kucing.
Baca juga: 49 Ekor Hewan Penular Rabies Disterilisasi, Upaya Tekan Peningkatan Kasus Rabies & Kontrol Populasi
Dan hingga awal Februari 2026 kemarin, tercatat sudah ada 11 kasus hewan positif rabies dari puluhan sampel yang diperiksa.
Sebarannya hampir sama seperti tahun lalu yakni didominasi oleh Kecamatan Mendoyo.
"Sesuai pengamatan kami, tempat yang kebanyakan digunakan sebagai pembuangan anak anjing atau kucing itu di pantai," jelas Koordinator Wilayah (Korwil) PDHI Jembrana, drh Gusti Putu Suasnawa saat dikonfirmasi.
Menurutnya, selain Pantai juga kadang menyasar di dekat pasar.
Sehingga, di wilayah pasar biasanya banyak ditemukan anjing liar yang berpotensi sebagai HPR.
Bahkan, hampir 90 persen anjing liar yang ditemukan adalah betina.
Dan usia anakan tersebut masih di bawah tiga bulan, sehingga belum divaksinasi dan sangat berisiko meningkatkan kasus rabies ke depannya.
"Kami mengimbau masyarakat janganlah membuang anjing dan kucing sembarangan. Fenomena ini harus dihentikan karena memicu ledakan populasi HPR liar yang secara otomatis meningkatkan risiko rabies. Jangan sampai kita hanya memelihara yang jantan, sementara yang betina dibuang," tegasnya.
"Sebaiknya, ketika memiliki hewan peliharaan diberikan vaksinasi dan disterilisasi, dipelihara dengan baik atau diberikan ke orang lain yang mau memelihara," imbuhnya.
Pihak PDHI mengajak masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam pemeliharaan hewan.
Ketika hewan peliharaan masyarakat sehat, praktis risiko kasus gigitan serta penularan penyakit rabies pada manusia juga menurun.
"Ancaman zoonosis ini sangat nyata. Sehingga, ketika melindungi anjing dari penyakitnya sama dengan menyelamatkan keluarga kita dari penyakit serta kasus gigitan," pesannya.