Renungan Hari Ini Senin 23 Februari 2026, Kasih Sekecil Apa pun Tidak Pernah Sia-sia di Mata Tuhan
Gordy Donovan February 23, 2026 10:47 AM

Oleh: Pastor John Lewar, SVD

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan hari ini Senin 23 Februari 2026.

Tema renungan hari ini  "Kasih sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di mata Tuhan" .

Renungan hari ini untuk HARI SENIN PRAPASKAH I, Perayaan fakultatif Santo Polikarpus, Uskup dan Martir, Santo Willigis, Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Senin 23 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Katolik Hari Ini Senin 23 Februari 2026, Domba dan Kambing

Bacaan Pertama Imamat 19:1-2.11-18

"Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran."

Tuhan berfirman kepada Musa, “Berbicaralah kepada segenap jemaat Israel, dan katakan kepada mereka: Kuduskanlah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya.

Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia, dan janganlah merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

Janganlah kaukutuki orang tuli, dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan; engkau harus takut akan Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;

janganlah membela orang kecil secara tidak wajar, dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran.

Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan.

Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hati, tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu, dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 19:8,9,10,15
Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan.

Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati, perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.

Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.

Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku dan berkenan akan renungan hatiku, ya Tuhan, Gunung Batu dan penebusku.

Bait Pengantar Injil 2 Korintus 6:2b
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Waktu ini adalah waktu perkenanan, hari ini adalah hari penyelamatan!

Bacaan Injil Matius 25:31-46

"Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan dan semua malaikat datang bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing; Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya, dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Maka Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Dan ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk iblis dan malaikat-malaikatnya.

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Lalu mereka pun akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Kasih sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di mata Tuhan" 

Bacaan Injil Matius 25:31–46, sering dikenal sebagai perumpamaan 
penghakiman terakhir. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai Anak 
Manusia yang datang dalam kemuliaan, duduk di takhta-Nya, dan 
memisahkan manusia seperti gembala memisahkan domba dari 
kambing.Penghakiman Tuhan bukan pertama-tama soal keberhasilan, 
reputasi, atau pencapaian rohani yang terlihat. Penghakiman itu justru 
menyentuh hal yang sangat konkret dan sederhana: “Ketika Aku lapar, 
kamu memberi Aku makan…” “Ketika Aku haus, kamu memberi Aku 
minum…” “Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan…” 
Yesus tidak menyebut soal berapa kali kita tampil di depan umum, berapa 
banyak orang mengenal nama kita, atau seberapa aktif kita di media 
sosial rohani. Ia berbicara tentang tindakan kasih yang nyata. 

Sering kali kita merasa sudah cukup beriman karena: Kita rutin mengikuti 
Misa, Kita tahu banyak ajaran Gereja, Kita membaca Kitab Suci, Kita aktif 
dalam kegiatan-kegiatan lingkungan. Yesus tidak bertanya: “Apakah 
kamu hafal doa-doa?” “Apakah kamu rajin berdiskusi teologi?” Ia 
bertanya melalui tindakan: Apakah kamu mengasihi? Dalam tradisi 
Gereja, iman tanpa perbuatan kasih adalah iman yang belum matang. 
Santo Yakobus menegaskan: “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Dan 
dalam bacaan hari ini, Yesus sendiri yang menegaskan bahwa kasih 
konkret adalah ukuran iman yang sejati. Inilah inti dari iman dan 
perbuatan Katolik: Kasih bukan teori, tetapi tindakan.  

Kalimat paling mengguncang dalam Injil hari ini adalah: “Segala sesuatu 
yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina 
ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Betapa radikalnya pernyataan 
ini. Yesus tidak berkata bahwa Ia sekadar mewakili orang miskin. Ia 
berkata bahwa Ia hadir dalam diri mereka. 

Dalam refleksi Injil hari ini, kita diajak melihat wajah Kristus dalam: Anak 
kecil yang kurang perhatian, Orang tua yang kesepian, Rekan kerja yang 
tertekan, Tetangga yang mengalami kesulitan ekonomi, Orang yang 
berbeda pandangan dengan kita. Spiritualitas Kristiani bukan hanya soal 
relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama. 
Kasih kepada sesama adalah bentuk paling nyata dari kasih kepada Allah. 
Tindakan kasih yang disebut Yesus sangat sederhana:Memberi makan, 
Memberi minum, Memberi tumpangan, Memberi pakaian, Mengunjungi 
orang sakit, Mengunjungi orang dalam penjara. Tidak ada yang 
spektakuler. Tidak ada yang luar biasa di mata dunia. Namun justru 
dalam kesederhanaan itu tersimpan keselamatan. Inilah keindahan 
spiritualitas Prapaskah Katolik: pertobatan bukan sekadar menahan diri, 
tetapi membuka diri untuk mengasihi lebih nyata. 
Puasa yang sejati tidak hanya soal menahan lapar, tetapi juga soal 
memberi makan yang lapar. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk 
menghadirkan belas kasih secara konkret: melalui pelayanan lingkungan, 
dukungan nyata, kepekaan terhadap keluarga, dan keterlibatan dalam 
karya sosial Gereja. 

Belas kasih bukan sekadar perasaan. Ia perlu dilatih. Beberapa langkah 
praktis: Mulai dari rumah – Perhatikan anggota keluarga yang mungkin 
lelah atau terluka. Latih kepekaan – Jangan tunggu diminta. Belajar 
membaca kebutuhan orang lain. Berbagi dari kekurangan – Tidak perlu 
menunggu kaya untuk memberi. Doakan yang sulit dikasihi – Kasih 
terbesar justru kepada mereka yang tidak mudah kita cintai. 
Di akhir perikop, Yesus berkata kepada mereka yang berbelas kasih: 
“Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang 
telah disediakan bagimu.” Kerajaan Allah ternyata diwariskan kepada 
mereka yang mengasihi. Bukan yang paling populer. Bukan yang paling 
sukses. Bukan yang paling dipuji. Tetapi yang paling setia dalam kasih. 
Itulah inti dari kasih kepada sesama menurut Yesus. 

Ada satu pertanyaan untuk Refleksi Pribadi: Jika hari ini adalah hari 
penghakiman, apakah hidupku sudah mencerminkan kasih?  
Doa: Tuhan Yesus, Engkau hadir dalam mereka yang kecil dan terluka. 
Bukalah mataku agar aku melihat-Mu. Lunakkan hatiku agar aku 
tergerak. Kuatkan tanganku agar aku bertindak. Ajarlah aku mengasihi 
bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan nyata setiap 
hari. Amin . 

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Senin Pekan I Prapaskah. Salam 
doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam 
nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin . (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.