SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Periode 2009-2019 Soekarwo berbicara tentang situasi ekonomi nasional.
Dalam wawancara bersama SURYA.co.id, pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu menegaskan ekonomi Indonesia kini telah memasuki babak baru.
“Kondisi saat ini menjadi penanda penting ketika ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,11 persen. Angka ini bukan hanya menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, tetapi juga mencerminkan bahwa mesin konsumsi dan investasi nasional masih bekerja relatif baik,” kata Pakde Karwo kepada SURYA.co.id, Senin (22/2/2026).
Lebih dari itu, Indonesia juga mencatat tonggak sejarah baru ketika Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita untukpertama kalinya menembus angka 5.000 dolar AS per tahun.
Pencapaian ini menandai bahwa struktur ekonomi nasional sedang bergerak menuju fase yang lebih matang dan berpotensi memperluas kelas menengah.
Baca juga: Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya Soroti Peran Masjid dalam Penguatan Ekonomi Umat
“Namun, di balik capaian makro tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yaitu sejauh mana pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan rata-rata tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, terutama kelompok bawah dan rentan?,” ujarnya.
Di sinilah, dikatakan Pakde Karwo, pentingnya melihat daya beli rakyat sebagai indikator yang lebih substantif daripada sekadar angka pertumbuhan.
“Daya beli masyarakat merupakan cerminan langsung dari kemampuan ekonomi rumah tangga. Ketika daya beli menguat, konsumsi meningkat, sektor produksi bergerak, dan lapangan kerja terbuka,” tegasnya.
Sebaliknya, ketika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan fondasi terpentingnya, yaitu permintaan domestik.
Ia pun mengulas pengalaman berbagai negara yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti penguatan daya beli hanya akan menghasilkan kemajuan semu.
Statistik makro membaik, tetapi kesejahteraan riil masyarakat berjalan lambat.
“Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik bruto. Artinya, kekuatan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk membelanjakan pendapatan secara sehat dan berkelanjutan,” urainya.
Oleh sebab itu, dikatakannya, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi sektor informal.
Sebagian besar masyarakat bekerja dengan pendapatan tidak tetap dan perlindungan sosial yang terbatas.
Dalam situasi seperti ini, kenaikan harga pangan, energi, atau transportasi dapat dengan cepat menggerus kemampuan konsumsi rumahtangga.
“Karena itu, keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen harus dibaca sebagai momentum yang perlu dijaga, bukan sekadar angka yang disyukuri. Pertumbuhan yang baik harus diikuti dengan kebijakan yang mampu memperkuat daya beli masyarakat secara nyata,” tegasnya.
Menurutnya, pencapaian PDB per kapita di atas 5.000 dolar AS juga membawa konsekuensi baru.
Secara ekonomi, capaian ini menandai pergeseran struktur konsumsi masyarakat.
Rumah tangga tidak lagi hanya membelanjakan pendapatan untukkebutuhan dasar, tetapi mulai meningkatkan konsumsi barang dan jasa bernilai tambah lebih tinggi.
Kondisi ini membuka peluang pertumbuhan sektor industri, jasa, dan ekonomi kreatif.
Namun, pada saat yang sama, kenaikan pendapatan rata-rata tidak selalu berarti distribusi pendapatan menjadi lebih merata. Tanpa kebijakan yang tepat, kesenjangan justru dapatmelebar.
Oleh karena itu, penguatan daya beli harus bersifat inklusif, memastikan bahwa kelompok miskin, hampir miskin, dan rentan tidak tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi.
“Dalam konteks inilah peran negara menjadi sangat penting. Negara tidak cukup berfungsi sebagai penjaga stabilitas makro, tetapi harus hadir aktif melalui kebijakan publik yang berpihak pada rakyat,” ujarnya.
Prinsip ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asaskekeluargaan dan diarahkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Arah pembangunan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ekonomi domestik, kemandirian pangan, energi, dan industri nasional merupakan langkah yang tepat dalamkonteks ini.
Penguatan sektor riil dan konsumsi domestik akanmenjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.
Untuk memperkuat daya beli masyarakat secara berkelanjutan, Soekarwo menyebut terdapat beberapa langkah strategis yang perlu terus didorong.
“Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kenaikan PDB per kapita merupakan capaian yang patut disyukuri. Namun, ukuran keberhasilan pembangunan tidakberhenti pada angka statistik,” tuturnya.
Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan tersebut dirasakan oleh rakyat dalam bentuk pekerjaan yang layak, harga yang terjangkau, dan kehidupan yang semakin sejahtera.
“Menjaga daya beli rakyat berarti menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat kohesi sosial, dan memastikan bahwa arah pembangunan nasional tetap berada di jalur yang benar yaitu ekonomi yang tumbuh, adil, dan berkeadilan sosial,” pungkasnya.