Menapak Jejak Islam di Bumi Tenguyun, Kisah Syekh Ahmad Al Maghribi dan Karomah Senja yang Tertahan
Junisah February 23, 2026 01:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN– Semilir angin pagi berembus pelan di kawasan makam keramat yang berada di Desa Salimbatu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Rimbun pepohonan menaungi sebuah kompleks pemakaman yang sepi dari peziarah hingga Ramadan 1447 Hijriah hari ke 4 ini.

Di sanalah, terbaring sosok ulama yang diyakini sebagai salah satu penyiar awal agama Islam di Bumi Tenguyun, yakni Syekh Ahmad Al Maghribi.

Lokasinya strategis karena tepat dibawah jembatan penyebrangan Tanjung Palas - Salimbatu yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam dari Tanjung Selor melalui Jalan Meranti Desa Bulu Perindu Tanjug Selor menggunakan kendaraan baik roda 2 maupun 4.

Bangunan makam sederhana yang berada tepat dipinggir aliran sungai kayan ini menyimpan sederet kisah bagaimana islam untuk pertama kali masuk ke wilayah Kabupaten Bulungan.

Baca juga: Ziarah ke Makam Sultan Bulungan, Pjs Bupati dan Forkopimda Kirimkan Doa Bagi Para Pendahulu

Makam yang dikenal sebagai makam keramat Syekh Ahmad Al Maghribi ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir.

Bagi masyarakat sekitar, tempat ini menjadi penanda awal jejak peradaban Islam di wilayah pesisir utara Kalimantan tersebut.

Petugas Penjaga Keamanan Makam, Aping, menuturkan bahwa kedatangan Syekh Ahmad Al Maghribi ke Salim Batu tidak tercatat secara pasti dalam sejarah lisan masyarakat.

“Kalau tahun berapa beliau datang, kami tidak tahu pasti. Tidak ada yang mengingat awal masuknya beliau ke Desa Salimbatu. Yang jelas, beliau inilah yang membawa dan memperkenalkan agama Islam di sini,” ujar Aping saat ditemui TribunKaltara, Minggu (22/2/2026).

Menurut cerita turun-temurun, Syekh Ahmad Al Maghribi tidak datang seorang diri. Ia disebut bagian dari rombongan berjumlah sekitar 12 orang yang berpencar di sejumlah wilayah.

“Rombongannya itu katanya ada 12 orang. Karena berpencar, beliau sampai ke Salim Batu. Di sinilah beliau menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat,” ungkap Aping.

Dari penuturan yang berkembang, Syekh Ahmad Al Maghribi disebut berasal dari Brunei. Namun, perjalanan hidupnya sebelum menetap di Salimbatu masih menyisakan banyak misteri.

Baca juga: Situs Makam Raja Lencau Ingan di Malinau Kaltara: Jejak Historis dan Kekayaan Seni Apau Kayan

Nama “Al Maghribi” sendiri, lanjut Aping, bukanlah nama asli sejak lahir. Awalnya ia dikenal hanya dengan nama Ahmad.

Gelar tersebut diyakini muncul seiring besarnya pengaruh dan peran beliau dalam membimbing masyarakat.

“Karena pengaruhnya besar di Desa Salimbatu, beliau kemudian dikenal sebagai Syekh Ahmad Al Maghribi,” jelasnya.

Di balik perannya sebagai penyiar Islam, masyarakat juga mempercayai adanya karomah yang menyertai wafatnya sang ulama.

Aping menceritakan sebuah kisah yang hingga kini masih dipercaya warga setempat. Saat prosesi pemakaman berlangsung sekitar pukul 18.00 wita yqng mana seharusnya hari itu sudah gelap karena memasuki batas senja.

Namun sebuah peristiwa mengejutkan pun membelah kesunyian masyarakata kala itu, Matahari disebut tak kunjung terbenam sebagaimana biasanya.

“Beliau dimakamkan sekitar jam 6 sore. Tapi matahari masih terang sampai jam 7. Setelah pemakaman selesai dan orang-orang pulang, barulah matahari terbenam dan kondisi sekitar makam langsung gepal,” tuturnya.

Peristiwa itulah yang diyakini menjadi salah satu karomah Syekh Ahmad Al Maghribi, sekaligus menguatkan sebutan “Al Maghribi” yang identik dengan waktu senja.

Makam Keramat di Bulungan 02 23022026.jpg
MAKAM KERAMAT - Kondisi makam keramat wisata religi Syekh Ahmad Al Magribi di Desa Salimbatu Tanjung Palas Tengah Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Ulama penyiar agama islam di Bulungan

Berdasarkan catatan dan penelitian yang beredar di masyarakat, Syekh Ahmad Al Maghribi disebut wafat pada tahun 1883 Masehi.

Melihat waktu wafat sang ulama, diyani bahwa keberadaanya di Bumi Tenguyun jauh sebelum berdirinya Kesultanan Bulungan kala itu.

// Masyarakat Desa Salimbatu Mayoritas Masih Belum Mengenal Tuhan

Saat sang ulama hadir di Desa Salimbatu yang merupakan Desa Tertua di Bulungan ini tidak ada penolakan sama sekali dari masyarakat mengenai ajaran yang dibawa oleh Syekh Ahmad Al Magribi.

Meskipun saat itu kondisi keyakinan masyarakat mengenai agama masih sangat terbatas. Bahkan banyak yang belum mengenal keberadaan tuhan.

"Beliau disambut positif, dulunya masyarakat kepercayaanya yang semacam percaya pada alam. Sehingga saat beliau hadir itu akhirnya mendapat pencerahan," kata Aping.

Jika melihat kondisinya, keberadaan makam Syekh Ahmad Al Magribi ini jauh dari kata mewah.

Bangunan sederhana seperti pendopo tembok yang dikelilingi kain berwatna kuning hijau yang mulai kusam serta makam yang yang hanya terbuat dari tehel berwarna hitam-abu tanpa pernak pernik lainnya.

Bahkan saat tim TribunKaltara.com berkunjung tampak bunga-bunga bekas peziarah sudah mengering. 

Namun dibalik itu, ternyata keajaiban pernah terjadi dimakam ini.

Disampaikan Aping bahwa mulanya makan berlokasi tepat dibawah tepat dibibir sungai, tetapi tanpa sepengetahuan warga saat terjadi banjir ditahun lampau makam tiba-tiba berpindah naik keatas.

"Bahkan kalau hujan logikannya kan pasti tempias karena tidak ada dinding dan makam beliau paling dipinggir, tapi tidak pernah kena hujan," ungkapnya.

"Malah dua makam ini (sambil menunjuk makam dua murid Syekh Ahma Al Magribi) yang kena hujan. Itulah kami aneh," imbuhnya.

Kini, kompleks makam tersebut menjadi salah satu tujuan wisata religi di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Menurut penuturan Aping peziarah datang dari berbagai daerah pasca Lebaran Idul Fitri. Mereka berdoa sekaligus mengenang sejarah masuknya Islam di Bumi Tenguyun.

Tidak ada retribusi, tidak ada larangan bagi siapaun untuk berkunjung ke salah satu makam bersejarah ini.

"Pernah ada dari Bali juga ziarah kesini. Tapi tidak melarang siapapun mau datang, mau itu islam atau non muslim. Semua bisa mendokan beliau," tandasnya.

Di tengah kesederhanaan makam yang teduh dan hening yang dikelilingi pohon jati dan bambu ini,  kisah tentang Syekh Ahmad Al Maghribi terus hidup dari generasi ke generasi menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas keislaman masyarakat pesisir Bulungan.

(*)

Penulis : Desi Kartika Ayu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.