Sosok Dwi Sasetyaningtyas Alumni LPDP Disentil Wamen, Bangga Anak jadi WN Inggris, Cukup Aku WNI
Rusaidah February 23, 2026 04:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima beasiswa negara dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), disentil Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie.

Dwi Sasetyaningtyas menjadi sorotan setelah mengunggah video di Instagram dan Threads miliknya.

Dalam video tersebut, Dwi memperlihatkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi British citizen.

“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujarnya dalam unggahan tersebut.

Bangga anak jadi WN Inggris, Dwi Sasetyaningtyas mendapat sentilan dari Wamen Stella Christie.

Stella menilai kontroversi tersebut mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan.

Baca juga: Sosok Bripda Dirja Pratama, Anak Polisi Tewas Dianiaya Senior, Satu Tersangka Ditetapkan

“Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan."

"Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya,” ujar Stella kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026).

Ia menegaskan, beasiswa negara adalah bentuk utang budi. Namun, menurutnya solusi bukan dengan memperketat sistem melalui pembatasan berlapis. 

“Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa,” kata Stella.

Setelah viral dan tuai banyak cibiran, Dwi Sasetyaningtyas pun menghapus dan akhirnya minta maaf.

Sosok Dwi Sasetyaningtyas

Tyas adalah Sarjana di Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia lanjut studi S2 di Delft University of Technology, Belanda, mengambil jurusan Sustainable Energy Technology. 

Beasiswa LPDP itu didapatkannya untuk studi di tahun 2015 dan lulus tahun 2017.

Tyas juga sudah berada di Indonesia mulai tahun 2017-2023.

Selama menunaikan kewajiban sebagai awardee, Tyas menginisasi penanaman 10 ribu pohon bakau di berbagai pesisir pantai di Indonesia. 

Dia mewadahi ibu rumah tangga untuk bisa berpenghasilan dari rumah serta turut andil dalam penanggulangan bencana Sumatra hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia adalah founder dari @sustaination @ceritakompos @bisnisbaikclub.

Selama ini ia juga vokal mengkritisi pemerintah.

Namun kembalinya Tyas ke Inggris karena mendampingi suami yang bekerja sebagai konsultan periset atau Senior Research Consultant di University of Plymouth.

Terkait kalimat Tyas, ia menjelaskan bahwa hal itu pelampiasan rasa kesal sebagai WNI.

"Ungkapan cukup aku aja yang WNI anakku jangan adalah bentuk rasa kecewa, marah, kesalku sebagai WNI terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat."

"Jujur, kalo aku sih capek jadi WNI. Tapi sebagai penerima beasiswa uang rakyat, sudah seharusnya aku menyuarakan kepentingan rakyat," tulisnya dalam konten yang ia bagikan di Instagram.

Baca juga: Sosok AKP Arifan Efendi, Kasat Narkoba Polres Toraja Utara Ditangkap Diduga Bekingi Narkoba

Suami Tyas juga Alumni LPDP

Kasus ini lantas menyeret suami Tyas.

Seorang warganet membagikan fakta bahwa Aryo, suami Tyas juga ternyata penerima beasiswa LPDP.

Hal itu diketahui dari tulisan AP di dalam tesisnya yang menyebutkan berterima kasih kepada pembiayaan LPDP. Informasi akan tesis AP ini terbuka, bisa diakses publik.

Sementara sebelumnya, Dwi mengaku suaminya bukan penerima beasiswa LPDP.

Netizen kembali meradang dengan pengakuan yang berbeda ini.

Apalagi ada dugaan bila AP belum menuntaskan kewajiban sebagai awardee LPDP hingga 8 tahun lamanya.

Terkait Aryo, pihak LPDP juga sudah menelusurinya.

Baca juga: Awal Mula Bripda MS Aniaya Pelajar MTs di Tual Maluku hingga Tewas, Kapolri Janji Transparan

"Yang bersangkutan (AP) diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya setelah menamatkan studi," tulis di unggahan tersebut lagi.

Saat ini LPDP melakukan pendalaman internal terkait dugaan belum menyelesaikan masa pengabdian tersebut.

LPDP juga tengah melakukan pemanggilan kepada AP untuk meminta klarifikasi, serta akan melakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa apabila terbukti bahwa kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi.

"LPDP berkomitmen untuk menegakkan aturan secara adil, konsisten, dan bertanggung jawab kepada seluruh awardee dan alumni, serta terus menjaga integritas institusi dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia," pungkas LPDP.

Kronologi Kejadian

Polemik bermula dari video yang diunggah di Instagram dan Threads miliknya.

Dalam video tersebut, Dwi memperlihatkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi British citizen.

“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujarnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan itu segera viral dan memicu respons keras dari warganet. Banyak yang menilai narasi tersebut kurang bijak disampaikan oleh seorang awardee LPDP, mengingat beasiswanya dibiayai negara.

Polemik pun berkembang. Tak hanya isi konten yang diperdebatkan, kehidupan pribadi Dwi dan suaminya ikut dikulik, termasuk soal kewajiban pengabdian sebagai penerima beasiswa LPDP.

Dwi sendiri tercatat sebagai Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, mengambil jurusan Sustainable Energy Technology dengan beasiswa LPDP pada 2015 dan lulus pada 2017.

Selama masa pengabdian di Indonesia pada 2017–2023, Dwi menginisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir, memberdayakan ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatera, hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

LPDP Buka Suara

Sejak video itu viral, Tyas sudah membuat pernyataan permohonan maaf melalui unggahan di media sosial.

Sementara LPDP memberikan klarifikasi dan teguran kepada yang bersangkutan.

"LPDP menyayangkan terjadinya polemik di media sosial yang dipicu oleh tindakan salah satu alumni, Saudari DS."

"Tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada seluruh penerima beasiswa," tulis LPDP di akun resminya @lpdp_ri melalui tayangan di Threads dan cerita Instagram, pada Sabtu (21/2/2026).

LPDP menjelaskan, bahwa Dwi Sasetyaningtyas telah menyelesaikan studi S2 dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017. Serta telah menuntaskan seluruh masa pengabdian sesuai ketentuan.

Sehingga LPDP tidak lagi memiliki perikatan hukum dengan pihak DS.

"Meskipun demikian, LPDP akan tetap berupaya melakukan komunikasi dengan Saudari DS untuk mengimbau agar yang bersangkutan dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, memperhatikan sensitivitas publik, serta memahami kembali penerima beasiswa LPDP mempunyai kewajiban kebangsaan untuk mengabdi kepada negeri," tulis LPDP lagi.

Disentil Wamen Stella

Polemik ini juga mendapat perhatian Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie.

Stella menilai kontroversi tersebut mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan.

“Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan."

"Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya,” ujar Stella kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026).

Ia menegaskan, beasiswa negara adalah bentuk utang budi. Namun, menurutnya solusi bukan dengan memperketat sistem melalui pembatasan berlapis.

“Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa,” kata Stella.

Stella menambahkan, rasa terima kasih kepada Indonesia tidak selalu diwujudkan dengan segera pulang.

Dalam beberapa kasus, bertahan di luar negeri hingga mencapai posisi berpengaruh justru dapat memberi manfaat lebih luas.

“India adalah contoh nyata: sejumlah warganya menduduki posisi puncak di Silicon Valley, seperti Sundar Pichai, dan dari sanalah tercipta aliran investasi serta lapangan kerja bagi negaranya,” ujarnya.

Sebagai diaspora yang lama berkiprah di luar negeri, Stella mengaku selalu bangga menyatakan identitasnya sebagai orang Indonesia.

Ia juga mendorong penerima beasiswa fokus memberi manfaat bagi individu-individu di Tanah Air.

“Bagi para orangtua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak."

"Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh!” tegasnya.

Di keluarganya, kata Stella, bukan hanya anaknya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi juga suaminya yang berasal dari Polandia.

(Bangkapos.com/Kompas.com/TribunnewsMaker.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.