Bripda DP Tewas Tak Wajar, Ternyata Dianiaya Sesama Polisi yang Senior, Kapolda Sentil Soal Motifnya
Murhan February 23, 2026 04:45 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kematian Bripda DP (19) terungkap. Sebelumnya, dia ditemukan meninggal dunia tak wajar.

Kini terungkap, Bripda DP dianiaya seniornya di Asrama. Adapun pelakunya yakni Bripda Pirman, pangkatnya sama-sama bripda.

Kini, status Bripda Pirman telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulsel.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, penyidik menemukan kesesuaian antara keterangan pelaku dan hasil pemeriksaan medis.

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan, keterangan Bripda P itu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan dengan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) terdapat kesesuaian.

"Kesesuaian itu dari keterangan memukul bagian kepala korban dan bagian tubuh lainnya, ini sudah sinkron," katanya dilansir Tribun-Timur di Mapolres Pinrang, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Resahkan Warga, Polisi Tak Berseragam Rampas Motor Pengendara di Jalan, Ngaku Perintah Kapolres 

Djuhandhani belum ingin mengungkap motif Bripda P melakukan tindak penganiayaan kepada Bripda DP.

Kata dia, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap lima anggota polri lainnya yang diduga terlibat dalam tindak penganiayaan itu.

"Tadi malam kita sudah lakukan konstruksi ulang, kita masih dalami motifnya. Untuk perkembangan, lima orang lagi saat ini masih dalam proses pemeriksaan, itu kita memerlukan bukti-bukti baik secara materil maupun secara lainnya," ungkapnya.

Kapolda menegaskan, kepada anggota yang terlibat akan diproses melalui dua jalur hukum sekaligus.

Selain pertanggungjawaban pidana di pengadilan umum, para pelaku juga akan menghadapi proses kode etik profesi untuk memberikan kepastian hukum secara kedinasan.

Langkah cepat ini diambil untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa Polda Sulsel berkomitmen pada transparansi.

"Kami akan buktikan bahwa dalam waktu kurang dari 1x24 jam, kami bisa mengungkap ini secara transparan. Disiplin etika akan kita tegakkan di Polda Sulsel," ucap Djuhandhani.

Terpisah ayah Bripda DP yakni Aipda Muhammad Jabir berterima kasih kepada Polda Sulsel yang bergerak cepat mengungkap dalang di balik kematian putranya.

"Iya tadi pak Kapolda bilang kalau sudah ada tersangka, tentu sebagai orang tua kami berterima kasih, kami hanya ingin keadilan," ujarnya.

Awal Mula Bripda DP Meninggal Tak Wajar

Diduga Bripda DP tewas dianiaya oleh seniornya di Asrama.

Bripda DP diketahui merupakan anggota Direktorat Samapta Polda Sulsel.

Keluarga menduga kuat kematian korban berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seniornya di dalam Asrama Ditsamapta Polda Sulsel, yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Biringkanaya.

Kecurigaan keluarga menguat setelah menemukan sejumlah luka lebam pada tubuh korban. 

Bripda DP sendiri diketahui berasal dari Pinrang, Sulawesi Selatan. Ia baru lulus pendidikan kepolisian pada tahun 2025 dan belum genap satu tahun berdinas di Polda Sulsel.

Sebagai informasi, Bripda atau Brigadir Polisi Dua merupakan pangkat terendah dalam golongan Bintara Polri.

Bripda DP merupakan putra kedua dari pasangan Aipda Muhammad Jabir dan Sumarni. Ayah korban adalah anggota aktif Polri yang telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun.

Aipda Muhammad Jabir mengungkapkan, dirinya pertama kali menerima kabar bahwa sang anak ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di asrama, sebelum akhirnya dilarikan ke RSUD Daya Makassar.

Namun, nyawa Bripda DP tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.

Dengan pengalaman panjang sebagai anggota kepolisian, Jabir mengaku mengenali tanda-tanda kekerasan pada tubuh anaknya.

"Pemeriksaan awal ada luka memar di perut dan leher. Indikasi (kekerasan) karena masih sementara autopsi di dalam dan ada videonya luka memar di perut sebelah kanan," ucapnya, dikutip dari TribunMakassar.com.

Ia pun secara tegas menduga adanya penganiayaan yang dilakukan oleh senior korban di lingkungan Polda Sulsel dan meminta agar kasus tersebut diusut hingga tuntas.

"Kami akan proses minta keadilan, apabila ada penganiayaan kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku penganiaya kejadian tadi pagi," katanya.

Untuk kepentingan penyelidikan, jenazah Bripda DP kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Makassar guna menjalani proses autopsi. Ayah korban kembali menegaskan adanya sejumlah luka mencurigakan di tubuh almarhum.

"Ada luka memar di perut, di sini (dada dekat leher) hitam, sama mulut keluar darah terus," imbuhnya.

Sementara itu, Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy memastikan pihaknya akan menangani kasus ini secara serius dan transparan. Ia menegaskan bahwa seluruh prosedur pemeriksaan akan dilakukan secara profesional.

"Kita Bid Propam mendalami, makanya jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut, baik visum luar maupun visum dalam," tandasnya.

Menurut Zulham, penyelidikan akan dilakukan secara terbuka untuk memastikan kebenaran peristiwa yang terjadi.

"InsyaAllah kita akan ungkap kalau memang ada kejadian di luar dari kejadian umum atau mencurigakan, atau kekerasan disitu kita akan luruskan," lanjutnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Tribuntimur.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.