SURYA.CO.ID, SURABAYA - Fenomena Generasi Z yang cenderung menghindari posisi manajerial tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi tren global.
Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan dampak serius bagi perusahaan, mulai dari kekosongan kepemimpinan hingga potensi krisis suksesi di masa depan.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin, menjelaskan bahwa dalam dunia manajemen fenomena ini dikenal sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management.
Baca juga: 1 Tahun Eri-Armuji Periode Kedua: Beasiswa Tembus 21 Ribu, Gen Z Dapat Dana RW
Menurutnya, bagi Gen Z, jabatan manajerial bukan lagi dipandang sebagai prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima.
“Bagi Gen Z, menduduki sebuah jabatan manajerial bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima,” jelas Elsye pada SURYA.CO.ID, Senin (23/2/2026).
Elsye Tandelilin sebut ada sejumlah dampak yang muncul akibat hal tersebut
“Dapat terjadi penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis dan eksekusi teknis dalam perusahaan,” paparnya.
Fenomena ini juga berdampak pada kualitas lingkungan kerja.
Ketergantungan yang tinggi terhadap manajer senior berpotensi memicu kelelahan kerja (burnout), yang dalam jangka panjang dapat melemahkan fondasi manajerial organisasi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Elsye merekomendasikan perusahaan menerapkan pendekatan Individual Contributor (IC) guna menciptakan keseimbangan antara kontribusi dan insentif yang diterima karyawan.
Ia menekankan pentingnya sistem kompensasi berbasis kinerja dan kontribusi, tanpa harus memaksa karyawan menerima jabatan manajerial demi kenaikan gaji.
“Jangan memaksa karyawan yang kompeten untuk menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji, namun hadirkan sistem kompensasi yang didasarkan atas kinerja, kontribusi, atau prestasi. Mengingat Gen Z sangat menghindari pekerjaan administrasi, lakukan otomatisasi dengan bantuan kemajuan teknologi,” tegas Kepala Laboratorium Manajemen Sumber Daya Manusia Prodi Manajemen Ubaya tersebut.
Lebih lanjut, ia menilai transformasi juga perlu dilakukan pada level pimpinan tertinggi perusahaan.
Kepemimpinan yang empatik, menurutnya, perlu dibentuk melalui pelatihan agar peran manajemen bergeser dari pengawas menjadi fasilitator.
Elsye juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara pimpinan dan karyawan.
Menurutnya, Gen Z tidak hanya ingin menerima perintah, tetapi juga didengar dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
“Ciptakan komunikasi dua arah karena Gen Z tidak hanya ingin diperintah, namun juga didengar. Mereka lebih termotivasi bila pendapat mereka dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkasnya.