BANGKAPOS.COM, BANGKA – Momentum Ramadan tahun 2026nini membawa berkah tersendiri bagi Azizah, pemilik Warung Jajanan Hafiz di Jalan Jendral Sudirman, Kota Toboali Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.
Setiap sore menjelang berbuka, lapak sederhananya di Samping Dapur Leni dipadati pembeli yang berburu aneka takjil. Tak hanya menjajakan makanan ringan, Azizah justru menonjolkan kuliner lokal khas Bangka sebagai menu andalan.
Di atas meja panjangnya, tersaji puluhan jenis takjil. Mulai dari gorengan, aneka kue tradisional, hingga menu berat khas Bangka seperti laksan, tekwan, mie kuah ikan, dan jongkong.
Aroma kuah ikan yang gurih berpadu dengan wangi santan dan gula merah dari jongkong menciptakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang melintas.
Sebagian jajanan tersebut dibuat sendiri sejak pagi hari bersama keluarga. Sementara lainnya merupakan titipan dari pelaku usaha kecil di sekitar.
Kolaborasi ini membuat pilihannya semakin beragam, sekaligus membantu pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lain ikut merasakan lonjakan penjualan selama Ramadan.
Azizah mengatakan, selama Ramadan permintaan meningkat drastis dibanding hari biasa. Jika di luar bulan puasa ia berjualan dalam skala terbatas, kini ia menambah variasi dan jumlah produksi.
“Ramadan memang momen paling ramai. Alhamdulillah, omzet bisa tembus Rp1 juta rupiah lebih per hari,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Senin (23/2/2026).
Menurutnya di antara semua menu, kuliner lokal menjadi primadona. Laksan misalnya, menjadi jajanan yang paling cepat habis.
Makanan berbahan dasar adonan ikan dan sagu ini disajikan dengan kuah santan kental berwarna kemerahan. Kuahnya dimasak dari campuran santan, bumbu rempah, dan ikan yang dihaluskan, menghasilkan rasa gurih dengan sentuhan pedas ringan. Teksturnya kenyal dan lembut, cocok disantap hangat saat berbuka.
Selain itu ada tekwan, sajian berkuah bening yang juga berbahan dasar ikan dan sagu. Bedanya, tekwan disajikan dengan kuah kaldu udang yang ringan namun kaya rasa.
Di dalamnya terdapat potongan bengkuang, jamur kuping, dan irisan daun bawang yang memberi sensasi segar. Tekwan banyak dipilih pembeli yang ingin menu berbuka yang tidak terlalu berat tetapi tetap mengenyangkan.
Menu favorit lainnya adalah mie kuah ikan. Hidangan ini memadukan mie kuning dengan kuah kaldu ikan yang gurih.
Potongan ikan segar menjadi topping utama, dipadukan dengan sayuran dan bawang goreng. Rasanya cenderung lebih ringan dibanding laksan, namun tetap kaya cita rasa laut yang khas.
Sementara untuk pencuci mulut, jongkong menjadi buruan. Kue tradisional berbahan tepung beras ini memiliki dua lapisan warna hijau dari daun pandan dan putih dari santan.
Teksturnya lembut dan sedikit kenyal, dengan siraman gula merah cair yang manis legit. Jongkong menjadi pilihan pas untuk menutup santapan berbuka.
“Laksan, mie kuah ikan, dan jongkong adalah tiga menu yang paling banyak diburu setiap sore. Bahkan bisa sudah habis sebelum azan magrib berkumandang,” jelas Azizah.
Menariknya, jajanan yang dijual di Warung Jajanan Hafiz dibanderol dengan harga yang ramah di kantong. Beragam takjil ditawarkan mulai dari Rp1.000 hingga Rp5.000 per porsi, tergantung jenisnya. Gorengan dan kue-kue tradisional menjadi pilihan paling terjangkau.
Sementara menu seperti jongkong dijual Rp2.000 per cup, laksan dan tekwan dijual Rp1.000 per buah. Sementara mie kuah ikan tetap dijual dengan harga yang masih terbilang murah untuk ukuran menu berbuka Rp5.000 per bungkus.
Harga yang bersahabat ini membuat semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bisa membeli takjil sesuai kebutuhan tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Bagi Azizah, berjualan di bulan suci bukan sekadar mencari keuntungan. Ia ingin memastikan kuliner lokal tetap dikenal dan dicintai.
Di tengah menjamurnya makanan kekinian, ia memilih konsisten menyajikan cita rasa tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.
“Ramadan menjadi ruang terbaik untuk mengingatkan kembali untuk mengenalkan jajanan lokal kepada generasi muda,” pungkasnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)