TRIBUNJAKARTA.COM, TAMANSARI - Viral sejak pandemi Covid-19, pedagang kolak di Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat ternyata sudah generasi ketiga.
“Ini emang usaha keluarga, ini saya udah generasi ketiga. Pertama bibi saya, terus ya bibi gitu ya, berarti saya yang terakhir generasi ketiga,” kata Tri (48) saat berjualan kolak di Mangga Besar, Senin (23/2/2026).
Tri mengatakan, keluarganya memang sudah sejak tahun 1990-an berjualan kolak di Mangga Besar setiap bulan Ramadan.
“Kalau saya sendiri, saya baru ke Jakarta tahun 1991. Di situ sudah mulai jualan di sini," kata dia.
Meski sudah puluhan tahun berjualan kolak, Tri hanya membuka lapaknya saat bulan Ramadan.
Di luar Ramadan, ia berjualan es doger di Karawang bersama anggota keluarga lainnya yang berpencar di beberapa lokasi.
Namun ketika Ramadan tiba, seluruh keluarga kembali berkumpul di Mangga Besar untuk berjualan kolak bersama.
"Karena kalau hari biasa mah rasanya kayak kurang pas kalau jualan kolak," tuturnya.
Adapun seluruh tim yang membantu berjualan kolak viral itu kini berjumlah lima orang.
"Iya ini keluarga semua satu kampung. Makanya saya suruh bantuin biar ngelayaninnya cepet," kata Tri.
Tri mengaku mulai merasakan lonjakan pembeli sejak 2021 saat masa pandemi Covid-19.
“Yang mulai viralnya tuh tahun 2021 pas lagi covid. Saya juga nggak menyangka. Biasanya yang beli 4-5 orang, tiba-tiba ramai banget,” tuturnya.
Sejak saat itu, dagangannya kerap diliput berbagai media dan konten kreator. Dampaknya terasa signifikan pada penjualan.
“Alhamdulillah ada kemajuan semenjak ada yang viralin itu,” ujarnya.
Kini, dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari 400 porsi kolak hanya dalam kurun waktu dua jam atau sebelum Magrib.
"Alhamdulilah. Sehari bisa bawa omzet kotor Rp 2 sampai 3 juta," kata Tri.
Tri menyebut kolaknya memiliki banyak varian isi dan menggunakan bahan berkualitas.
Isi kolaknya antara lain biji salak, pisang, labu, ubi, singkong, kolang-kaling, pacar cina, sagu rangi, hingga tape.
“Ini kolak paling lengkap lah,” ujarnya.
Meski harga gula merah belakangan naik signifikan, ia memilih tidak menaikkan harga jual yakni di angka Rp 20 ribu.
“Gula merah yang naik. Dari 180 ribu sekarang 200 lebih, 220 per dus. Tapi harga tetap, enggak kita naikin,” katanya.