Pria Bershotgun Terobos Rumah Donald Trump, Tewas Ditembak Secret Service
Saifullah February 23, 2026 11:35 PM

Penembakan terhadap seorang pria bersenjata di Resor Mar-a-Lago, kediaman Donald Trump di Florida, kembali menyoroti meningkatnya ancaman keamanan politik di Amerika Serikat. 

Pria berusia awal 20-an itu tewas ditembak oleh Secret Service (Paspampres Amerika Serikat) setelah mencoba menerobos gerbang utara dengan membawa shotgun dan jeriken berisi bahan bakar.

Menurut Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, petugas sempat memberi peringatan agar pelaku meletakkan senjata. 

Namun, pria tersebut justru mengangkat shotgun ke posisi menembak sehingga memaksa aparat melepaskan tembakan.

Trump sendiri dilaporkan tidak berada di lokasi karena sedang berada di Washington DC.

Insiden ini segera memicu perdebatan politik.

Gedung Putih melalui Sekretaris Pers, Karoline Leavitt menuding Partai Demokrat sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Hal itu karena government shutdown parsial telah mengganggu anggaran Kementerian Keamanan Dalam Negeri, induk Secret Service.

Demokrat menolak pendanaan baru hingga ada perubahan kebijakan deportasi massal yang dijalankan Pemerintahan Trump.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana isu keamanan presiden dan pejabat publik di AS kini semakin terkait erat dengan tarik-menarik politik anggaran. 

Keamanan fisik tokoh negara menjadi bagian dari pertarungan kebijakan yang lebih luas.

Rangkaian Kekerasan Politik

Kasus Mar-a-Lago bukanlah insiden tunggal. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tokoh politik dan publik di AS menjadi sasaran serangan.

Pada 2024, Trump sempat terluka di telinga akibat penembakan saat kampanye di Pennsylvania, sementara seorang pengunjung tewas.

Ryan Routh dijatuhi hukuman seumur hidup atas rencana pembunuhan Trump di lapangan golf Florida.

Selain Trump, kekerasan juga menyasar tokoh lain. 

Influencer konservatif, Charlie Kirk ditembak mati di Utah.

Lalu, legislator Demokrat, Melissa Hortman dan suaminya dibunuh di rumah mereka.

Hingga rumah Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro yang nyaris dibakar.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan eskalasi kekerasan politik yang semakin mengkhawatirkan.

Insiden di Mar-a-Lago menegaskan bahwa ancaman terhadap tokoh politik di AS bukan lagi kasus terisolasi, melainkan bagian dari pola kekerasan yang terus berulang.

Keamanan pejabat publik kini menghadapi tantangan besar di tengah polarisasi politik yang tajam.

Lebih dari sekadar masalah keamanan pribadi, peristiwa ini mencerminkan rapuhnya iklim demokrasi Amerika. 

Ketika perbedaan politik berubah menjadi ancaman fisik, maka stabilitas negara ikut dipertaruhkan.

Mar-a-Lago menjadi simbol bahwa politik AS sedang berada dalam fase penuh risiko.

Di mana keamanan dan demokrasi berjalan beriringan namun sama-sama terancam.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.