Membuka Lembaran Cerita di Roomah Osing Coffee, Ikuti Trip Menyusuri Kebun Kopi
M Syofri Kurniawan February 24, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kabut turun perlahan di perbukitan Desa Genting, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Udara sore itu dingin, seolah mengajak siapa pun untuk melambatkan langkah.

Di balik rimbun pepohonan dan kebun yang menghijau, sebuah rumah lawas bergaya pedesaan berdiri bersahaja.

Dinding kayu, atap sederhana, dan halaman kecil menyambut tamu tanpa hiruk pikuk. Itulah Roomah Osing Coffee, sebuah kedai kopi mungil yang tumbuh sunyi di lereng perbukitan.

Di tengah udara dingin yang menyelimuti kulit, aroma kopi hangat menguar dari dapur kecil. Panorama pedesaan yang tenang membuat siapa pun betah berlama-lama.

Namun, Roomah Osing Coffee tidak hanya menjual kopi dan kudapan. Di tempat ini, secangkir kopi menjadi pembuka percakapan, dan setiap tegukan menyimpan pelajaran.

Bagi Firman, pemilik kedai, kopi bukan hanya soal rasa pahit atau aroma yang menggoda.

Di baliknya ada perjalanan panjang, dari biji yang ditanam petani, dipetik di kebun, diolah, disangrai, lalu diseduh. 

Karena itulah, saat Ramadan tiba, ia membuka ruang belajar yang berbeda, trip edukasi gratis menyusuri kebun kopi.

Senin (23/02/2026) sore, beberapa pengunjung berkumpul di teras kedai.

trip ke kebun kopi
BERBAGAI CERITA - Firman pemilik Roomah Osing Coffe membagikan pengalaman dan edukasi mengenai jenis kopi kepada peserta trip di kebun kopi yang tak jauh dari kedaii, Senin (23/02/2026). Kebun kopi tersebut terletak di Desa Genting Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.

Mereka datang dari berbagai tempat, sebagian dari Kota Semarang, sebagian lagi dari daerah sekitar. 

Firman memimpin perjalanan menuju kebun kopi di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.

Langkah mereka menyusuri jalan setapak yang diapit tanaman hijau. Hening sesekali pecah oleh tawa kecil dan suara dedaunan yang bergesek ditiup angin.

Tak sampai tiga menit berjalan, rombongan tiba di kebun kopi pertama, robusta.

Daun-daunnya tampak rimbun, buah kopi menggantung di dahan, sebagian sudah memerah. Firman memetik satu buah merah menyala, lalu menunjukkannya kepada peserta.

“Ini kopi robusta. Salah satu jenis kopi yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa robusta dikenal dengan rasa pahit yang kuat karena kandungan kafeinnya tinggi.

Tanamannya lebih tahan terhadap hama dan penyakit, sehingga produktivitasnya tinggi. Karena itulah robusta menjadi andalan perkebunan rakyat di banyak daerah.

Robusta tumbuh optimal di dataran rendah hingga menengah, sekitar 200-800 meter di atas permukaan laut.

Firman membagikan keranjang plastik kecil kepada peserta. Mereka dipersilakan memetik buah kopi merah yang matang.

Tangan-tangan awam mulai menjelajah ranting, memilih cherry merah satu per satu.

Beberapa tampak kagum, seolah baru menyadari bahwa kopi yang biasa diminum berasal dari buah kecil seperti ini.

“Biji robusta lebih kecil dan bulat. Warnanya cenderung lebih pucat dibanding arabika,” jelas Firman.

Dari segi rasa, robusta memiliki karakter pahit, earthy, cokelat, dan kacang, dengan body yang tebal. Ia juga bercerita tentang masa tanam dan panen.

Tanaman robusta mulai berbuah pada usia 2,5 hingga 3 tahun.

Panen raya biasanya terjadi setahun sekali, umumnya antara Mei hingga September, dengan puncak pada Juni hingga Agustus. 

Di beberapa daerah, panen bisa bergeser ke April atau Oktober, tergantung curah hujan dan ketinggian wilayah.

“Yang dipetik sebaiknya buah merah. Itu yang menghasilkan kualitas biji terbaik,” ujarnya.

Dari kebun robusta, rombongan kembali berjalan. Jalur berikutnya sedikit menanjak.

Tanah lembap dan aroma dedaunan basah menemani langkah mereka. 

Tak terlalu jauh, kebun kopi arabika menanti di dataran yang lebih tinggi.

Di sana, Firman kembali bercerita di mana arabika paling banyak dikonsumsi di dunia karena rasanya lebih halus dan aromatik.

Arabika tumbuh optimal di dataran tinggi, sekitar 800-1.500 meter di atas permukaan laut. 

Tanamannya lebih sensitif terhadap perubahan cuaca dan hama, sehingga membutuhkan perawatan lebih intensif.

Biji arabika berbentuk lonjong dengan garis tengah bergelombang.

Dari segi rasa, arabika dikenal memiliki tingkat keasaman lebih tinggi dengan karakter yang beragam, dari fruity, floral, citrus, hingga caramel.

Obrolan berlangsung cukup lama di kebun ini.

Para peserta bertanya tentang perbedaan rasa, tentang cara panen, hingga tentang bagaimana kopi bisa sampai ke kedai.

Kebun kecil itu berubah menjadi ruang kelas tanpa dinding, tempat belajar berlangsung di bawah langit terbuka.

Sekitar satu jam perjalanan, rombongan kembali ke kedai dengan melewati pemukiman warga. Keranjang kecil mereka berisi buah kopi merah yang baru dipetik.

Senyum tampak di wajah-wajah yang lelah namun puas.

Trip edukasi ini telah berlangsung hampir dua tahun terakhir. Biasanya, akhir pekan menjadi waktu paling ramai.

“Yang ikut kebanyakan dari luar daerah,” ujar Firman sambil duduk di teras kedai.

Baginya, kedai kopi bukan hanya tempat minum, melainkan ruang edukasi dan ruang berbagi cerita.

Barista bukan sekadar peracik minuman, tetapi juga pencerita tentang asal-usul biji kopi, teknik sangrai, hingga metode seduh.

“Dari kopi, orang bisa belajar tentang pertanian, ekonomi lokal, dan lingkungan,” katanya.

Kedai kopi juga menjadi tempat bertemunya berbagai kisah.

Di sana, orang berbagi pengalaman hidup, ide usaha, hingga gagasan komunitas.

Banyak komunitas tumbuh dari obrolan santai di meja kopi, komunitas literasi, seni, hingga UMKM.

Di sudut lain, seseorang bisa duduk sendiri sambil membaca atau menulis.

Kedai menjadi ruang refleksi, tempat dialog terjadi, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

Kartika, warga Kota Semarang, adalah salah satu peserta trip sore itu. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti edukasi kopi.

“Biasanya ke kedai ya cuma pesan minum. Tapi di sini beda. Saya dapat ilmu tentang jenis kopi,” katanya.

Pemandangan sekitar yang masih hijau dan udara yang sejuk membuat pengalaman itu terasa lengkap.

Menunggu waktu berbuka puasa sambil belajar tentang kopi terasa lebih bermakna.

Selama Ramadan, Roomah Osing Coffee buka mulai pukul 15.00 WIB. 

Pengunjung yang ingin mengikuti trip edukasi gratis diminta melakukan reservasi melalui akun media sosial kedai.

Di tempat ini, kopi tidak lagi sekadar minuman.

Ia menjadi jembatan antara alam, manusia, dan cerita.

Di tengah sunyi perbukitan Sumowono, secangkir kopi menjelma menjadi ruang belajar, ruang perjumpaan, dan ruang untuk memahami kehidupan dengan lebih pelan. (BudI Susanto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.