Dua Rumah Rata dengan Tanah Terdampak Tanah Bergerak di Gunungpati Semarang
M Syofri Kurniawan February 24, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Fenomena tanah bergerak kembali melanda wilayah RT 03 RW 06, Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Pergerakan tanah yang terjadi secara bertahap sejak awal Januari 2026 hingga Rabu (18/2/2026) ini mengakibatkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah.  

Pergerakan tanah itu bahkan membuat posisi rumah warga bergeser hingga sejauh 10 meter.

Sedikitnya tiga hingga empat rumah terdampak tanah bergerak di Deliksari.

Kondisi terparah dialami oleh dua rumah yang kini sudah rata dengan tanah.

Sementara itu, beberapa rumah lainnya mengalami kerusakan pada bagian belakang bangunan serta area pekarangan karena berada dalam satu jalur pergerakan tanah.

Salah seorang warga, Legiman, menceritakan detik-detik robohnya rumah salah satu tetangganya.

“Oh. Kan itu angin kencang sama hujan itu. Akhirnya saya tengok rumahnya Pak Feri yang roboh,” kata Legiman, Senin (23/2/2026). 

Legiman menceritakan bahwa peristiwa robohnya rumah tersebut terjadi, pada pukul 01.00, saat hujan deras melanda wilayah tersebut.

Beruntung, pemilik rumah sudah mengungsi lebih dulu ke rumah orang tuanya di kawasan Semarang Barat karena merasa takut dengan tanda-tanda pergerakan tanah yang sudah dirasakan sejak berbulan-bulan sebelumnya. 

Melihat rumah tetangganya roboh, Legiman langsung berinisiatif mengamankan jaringan listrik untuk mencegah korsleting atau bahaya bagi anak-anak di sekitar lokasi kejadian.

Ia mengaku sempat ingin menyelamatkan barang-barang di dalam rumah, namun niat itu diurungkan karena mendengar suara pergerakan bangunan yang terus berlangsung. 

“Saya langsung ngelepas meteran dulu. Memindah karena kabelnya kan panjang. Nanti kalau rubuh kan kena anak kecil. Ah, takutnya itu," ucap Legiman. 

Legiman yang sudah tinggal di kawasan tersebut sejak 1987 mengungkapkan, karakteristik tanah di Deliksari memang dikenal sangat labil.

Fenomena tanah bergerak ini bukan hal baru, namun kembali terulang dengan dampak yang cukup parah pada tahun ini akibat faktor cuaca ekstrem.

“Dari 1987 saya pindah sini. Jadi labil (tanah) ini memang dari 1987 sampai sekarang,” katanya. 

Tanah labil

Ketua RT 03 RW 06 Deliksari, Yuari, mengatakan,  di RT-nya terdapat 52 KK.

“Kemarin yang kena dampak tanah longsor itu ada tiga sampai empat rumah,” ujar Yuari. 

“Kondisinya itu dua sudah rata sama tanah. Yang lain kena sedikit-sedikit, bagian belakang rumah sama pekarangannya. Jadi sejalur itu,” sambungnya. 

Yuari menjelaskan, para pemilik rumah yang terdampak saat ini terpaksa meninggalkan hunian mereka dan mengungsi ke rumah kerabat di wilayah yang lebih aman.

Menurut Yuari, wilayah Deliksari memang dikenal memiliki kondisi tanah yang labil, meskipun dalam kurun waktu hampir satu dekade terakhir situasi relatif aman. 

“Kalau sini daerahnya tanah gerak, labil. Sudah mungkin hampir 10 tahun baru sekarang lagi. Dulu pernah, tapi hampir 10 tahun terakhir baru kali ini lagi,” ujarnya. 

Ia menduga, curah hujan tinggi disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Semarang dalam beberapa waktu terakhir menjadi pemicu utama tanah kembali bergerak.

Akibat risiko ini, mayoritas warga setempat memilih membangun rumah dengan konstruksi semipermanen untuk meminimalisasi kerugian jika sewaktu-waktu bencana kembali terjadi. 

“Kebanyakan semipermanen. Karena kalau dibikin permanen juga sayang, tanahnya labil,” kata Yuari. 

Terkait kerugian materiil, Yuari memperkirakan setiap rumah yang terdampak mengalami kerugian bervariasi, mulai dari Rp 20 juta hingga lebih dari Rp 50 juta, bergantung pada tingkat kerusakan bangunan. 

Bantuan darurat berupa logistik dan terpal pun telah disalurkan oleh BPBD, PMI, serta pihak kelurahan dan kecamatan.

Mengenai langkah jangka panjang seperti relokasi, Yuari menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah setempat.

Diskusi awal antara warga dan instansi terkait sudah mulai dilakukan untuk mencari solusi terbaik bagi para korban. 

“Belum ada keputusan. Baru kemarin diskusi sama dinas-dinas terkait. Kalau warga ya inginnya bagaimana yang terbaik. Kalau mau relokasi juga ya,” ujarnya. (Kompas.com/Tribunnews) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.