Masjid Taqwa Sekayu Semarang Ada sebelum Masjid Demak Berdiri,  Arief Upayakan Sejarah Tetap Terjaga
M Syofri Kurniawan February 24, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah rapatnya permukiman Kampung Sekayu, Semarang Tengah yang terletak di jalan Sekayu Masjid Nomor. 328 RT 05 RW 01 Sekayu, Semarang Tengah berdiri Masjid Taqwa Sekayu, yang menyimpan jejak penyebaran Islam di Kota Semarang.

Bukan sekadar tempat ibadah, kawasan Sekayu dulunya merupakan simpul pertahanan dan logistik pada masa akhir Kerajaan Majapahit hingga lahirnya Kesultanan Demak.

Ketua Dewan Takmir Masjid Taqwa Sekayu, Achmad Arief, menjelaskan, sejak awal wilayah Semarang sudah dikenal sebagai pelabuhan strategis yang ramai.

“Keberadaan pelabuhan di pesisir Semarang ini sudah dikenal sebagai penghubung antarpulau nusantara dan bangsa asing. Mereka datang ke sini untuk berdagang, terutama rempah-rempah,” kata Achmad Arief, Senin (23/2).

Pada satu masa, Sunan Gunung Jati yang mengutus muridnya, Kiai Kamal, dari Cirebon ke Sekayu.

“Awalnya di sini belum ada masjid. Hanya tempat singgah. Salat bisa dilakukan di mana saja. Baru kemudian berkembang jadi pusat aktivitas,” jelasnya.

Achmad Arief menuturkan, kondisi geografis Sekayu kala itu sangat berbeda dengan sekarang. Wilayah di belakang masjid yang kini padat bangunan dulunya adalah laut dan sungai.

“Bagian belakang masjid itu dulu laut. Ke arah kanan itu bekas Sungai Riban,” katanya.

Letak strategis itulah yang membuat Sekayu dipilih sebagai pusat pengumpulan kayu untuk pembangunan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Nama Sekayu, kata Achmad Arief, berasal dari fungsinya sebagai sentral pengumpulan kayu, Pekayuan. Material kayu dikirim dari berbagai daerah Ambarawa dan Ungaran di selatan, Kendal–Weleri di barat, Grobogan dan Kedungjati di timur, hingga kawasan Solo.

“Kayu-kayu itu dikumpulkan di sini, lalu dibawa para santri menggunakan getek bambu menyusuri sungai sampai ke Morodemak. Dari sana diangkut ke Demak untuk membangun kerajaan Islam,” ujarnya.

Menurutnya, Demak dipilih sebagai pusat kerajaan karena faktor pertahanan. Jika terjadi penyerangan dari laut, kapal musuh akan terjebak sebelum masuk ke pusat kekuasaan.

Sejarah Masjid Taqwa Sekayu, diakui Achmad Arief, banyak disusun dari tradisi lisan hikayat dari ulama ke ulama yang kemudian diperkuat dengan kajian akademik. Masjid Taqwa Sekayu sendiri, lanjut Achmad Arief, dibangun pada tahun 1413. Fakta itu telah melalui proses kajian dan survei.

“Ini sudah diteliti. Tahun 2010 pejabat Dirjen Kementerian Agama, tim cagar budaya, sampai media nasional datang ke sini. Semua kami tunjukkan,” katanya.

Masjid ini bahkan disebut lebih tua dari Masjid Agung Demak, dan dinyatakan sebagai salah satu masjid tertua di Jawa Tengah.

“Benderanya itu bukan simbol biasa. Karena dulu ini pusat pertahanan dan perjuangan,” jelasnya.

Masih Asli

Beberapa peninggalan bersejarah masih dipertahankan hingga kini, antara lain saka guru, mustaka di puncak atap, mihrab, pintu kayu tebal dengan engsel kuno, serta sumur tua.

“Saka itu dulu sempat dibuka. Tapi banyak orang dari luar kota datang malam-malam, zikir di situ. Akhirnya kami tutup demi ketertiban,” ujarnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini telah mengalami enam kali renovasi, namun unsur utama tetap dijaga keasliannya. Semula bangunan masjid masih sangat sederhana. Tampilan masjid yang sekarang ini adalah hasil pemugaran ke-6 yang direnovasi total pada 17 Juni 2006-21 Juli 2009.

Di sekitar masjid terdapat makam yang diyakini sebagai makam Kiai Kamal. Proses penataan makam dilakukan dengan pertimbangan keagamaan dan arsitektur.

“Masjid tidak boleh berada tepat di atas makam. Maka dipindahkan dengan cara yang sangat hati-hati, malam hari, dan hanya diketahui beberapa orang,” katanya. (Rezanda Akbar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.