Legenda Sunan Pandanaran di Kota Semarang, Mendarat Singgah di Pulau Tirang
khoirul muzaki February 24, 2026 08:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Menyusuri sejarah kota Semarang tidak bisa lepas dari nama Ki Ageng Pandanaran I atau Sunan Pandanaran.
Ia merupakan tokoh agama yang dikenal sebagai pendiri kota Semarang atau orang yang "babat alas" di wilayah tersebut.

Jejak keberadaan Sunan Pandanaran masih bisa dijumpai sampai sekarang melalui makamnya di kompleks masjid Ki Ageng Pandanaran, Jalan Mugas Nomor 6, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Ketika Tribun menyambangi makam tersebut pada Senin (23/2/2026) siang, kompleks makam itu tampak lengang. Langit Semarang saat itu mendung dan masih dalam suasana ramadan.

Akses jalan menuju ke lokasi makam berada persis di samping masjid Ki Ageng Pandanaran. Ketika langkah kaki memasuki kawasan makam itu, pengunjung bakal melewati dua gapura Jawa yang terdapat tulisan Jawa kuno.

Menurut penuturan juru kunci makam, gapura pertama bertuliskan Tumindak Suci Bakal Mukti (Orang yang bertindak benar akan mencapai kemuliaan". 

Gapura kedua, Manunggaling Ngarsa Memuji Marang Gusti (Manusia yang menyatukan kehendak adalah mereka yang selalu mengingat Tuhan).

Tulisan aksara Jawa juga tersemat di atas pintu masuk pendopo makam berupa Wediya marang diri sendiri (Takutlah jika menjadi orang yang tidak jujur, tidak bermoral, dan tidak baik bagi diri sendiri).

Sebelum masuk ke pintu pendopo, peziarah akan melawati jalan sepanjang kurang lebih 10 meter. Di sisi kanan kiri jalan itu terdapat tanaman pandan yang sangat lekat dengan penyebutan Sunan Pandansari.

Aroma pandan yang menyapa hidung sebagai tanda langkah kaki berada dekat dengan makam Sunan Pandansari yang berada di dalam area pendopo.

Di dalam pendopo terdapat berbagai papan informasi bertuliskan silsilah dari Sunan Pandanaran dan berbagai lukiskan mulai dari pengawal Sunan Pandanaran hingga tokoh-tokoh yang merawat makam tersebut.

Di pendopo itulah para peziarah biasanya mengaji atau mengirimkan doa. Di sudut ruangan pendopo, terdapat satu gentong peninggalan dari Sunan Pandanaran yang diyakini air di dalamnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Untuk lokasi makam Sunan Pandanaran berada di satu ruangan tertutup. Di dalam ruangan itu terdapat tiga makam yakni Sunan Pandanaran, Pangeran Madiyo Pandan atau Maulana Ibu Abdul Salam yang merupakan ayahnya. Satu makam lagi yakni istri sunan Pandanaran, Nyi Ageng Sejanila atau Endang Sejanila.

Belakang dari ruangan berisi tiga makam itu terdapat museum peninggalan Sunan Pandanaran. Namun, ruangan museum itu dibuka hanya satu sekali yakni saat acara jamasan pada saat haul Sunan Pandanaran yang diadakan pengelola makam. Haul Sunan Pandanaran tahun 2026 merupakan haul ke 524.

Beranjak dari bangunan pendopo yang menyatu dengan ruangan makam Sunan Pandanaran, di samping pendopo terdapat makam keturunan dan kerabat sunan Pandanaran di antaranya makam Anak ketiga, Nyi Ngilir atau Nyai Arang.

Makam itu tidak beratap seperti makam pada umumnya. Makam itu hanya dipayungi pohon rambutan. Penjaga makam menyebut, hal itu disengaja karena Nyai Arang menyukai angin semilir sehingga makamnya berada di tempat terbuka.

Juru kunci Makam Sunan Pandanaran Semarang, Suwarno (60) silsilah Ki Ageng Pandanaran pendiri Kota Semarang merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya yang makamnya berada di belakang masjid Demak.

Ki Ageng Pandanaran yang dikenal sebagai Ki Ageng Pandanaran I atau Ki Ageng Pandan Aran atau P. Made Pandan memiliki garis keturunan dari Raden Patah Bintoro I yang merupakan kakeknya dan Pangeran Madiyo Pandan atau Maulana Ibu Abdul Salam adalah ayahnya.

"Ki Ageng Pandanaran memiliki istri Nyi Ageng Sejanila atau Endang Sejanila yang selepas masuk Islam berganti nama menjadi Siti Fatimah," katanya kepada Tribun.

Dari pernikahan itu, lanjut dia, mereka memiliki enam anak meliputi Ki Ageng Pandanaran II atau Pangeran Kasepuhan atau Sunan Tembayat atau Bayat. Sunan Bayat sempat menggantikan ayahnya menjadi Bupati Semarang dan menjadi tokoh penyebar agama khususnya di wilayah Bayat, Klaten. Sunan Bayat dimakamkan di Bayat.

Anak kedua, Pangeran Kanoman atau Pandanaran III yang dimakamkan di Imogiri Yogyakarta. Anak ketiga, Nyi Ngilir atau Nyai Arang yang makamnya berada satu komplek dengan orangtuanya di Semarang. Tiga anak lainnya, Pangeran Wotgalih. pangeran Bojong dan Pangeran Sumedi.

"Ketiga makam tokoh tersebut berada di tiga tempat berbeda, Pangeran Wotgalih di Imogiri, pangeran Bojong di Semarang dan Pangeran Sumedi di Tembayat," paparnya.

Babat Alas Semarang 

Suwarno mengatakan, Sunan Pandanaran merupakan tokoh yang "babat alas" atau pendiri Kota Semarang.

Pandanaran pertama kali datang ke kota Semarang tiba di pulau Tirang. Wilayah ini merupakan lokasi daratan pertama karena saat itu Jalan Pandanaran dan Simpang Lima masih berupa rawa-rawa.

"Tahun persisnya datang ke sini kurang hafal, kemungkinan 15-16 Masehi, yang jelas dia menyebarkan agama di Semarang yang kala itu masyarakatnya masih banyak yang memeluk agama Hindu dan Buddha," bebernya.

Ki Ageng Pandanaran yang berguru ke Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga berusaha menyebarkan agama Islam ke kawasan Semarang sempat bersinggungan Pendeta Pragota yang bergama Hindu.

Menurut Suwarno, Pendeta Pragota pada satu waktu mengadakan sayembara beradu kesaktian dengan Sunan Pandanaran.

Hadiah yang bisa mengalahkan Pendeta Pragota adalah anaknya sendiri yakni Sejanila. Sayembara itu lantas diikuti Sunan Pandanaran yang akhirnya bisa menumbangkan kekuatan dari Pendeta Pragota saat bertarung di Bukit Brintik, Bergota.

"Saat adu kesaktian, Pragota mengakui kalah sakti dan mengizinkan putrinya menikah dengan Ki Ageng Pandanaran. Terus Sejanila masuk Islam yang awalnya agamanya Hindu," paparnya.

Selepas itu, Sunan Pandanaran menguasai kawasan tersebut. Kemudian, ia meminta kepada kerajaan Demak untuk meminta memimpin daerah tersebut. Permintaan itu diajukan karena wilayah Semarang masih dikuasi Demak.

"Dinamailah kawasan itu Semarang, karena banyak pohon asem yang jarang-jarang atau bahasa jawanya arang-arang yang pada masa itu banyak ditemukan di wilayah Semarang yang saat ini jadi jalan Ahmad Yani, Jalan Pandanaran dan Kawasan Tugu Muda," bebernya.

Mengutip penelitian Eko Punto Hendro, antropolog dari Undip Semarang dalam tulisannya bertajuk "Pelestarian Kawasan Konservasi di Kota Semarang" yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), 2015, menuliskan, Semarang diduga telah muncul pada sekitar abad 15, ditandai dengan menetapnya Ki Pandan Arang (Sunan Pandanaran) pada tahun 1398 Saka.

Tome Pires seorang apoteker Portugis yang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara pada pesisir utara pulau Jawa sekitar tahun 1513 M mencatat telah mengunjungi beberapa kota di wilayah itu. Di antara kota-kota yang dikunjunginya ialah Camaram (Semarang) yang berpenduduk 3.000 orang. 

Ki Ageng Pandan Arang merupakan putra dari Panembahan Sabrang Lor (Sultan Kedua dari Kesultanan Demak). Pada awalnya beliau babat alas (bubak) membuka hutan di suatu tempat yang sekarang bernama Kampung Bubakan.

Setelah Ki Ageng Pandan Arang I wafat, maka posisi pemerintah diserahkan pada anaknya yang bermana Pangeran Mangkubumi (atau disebut juga Ki Ageng Pandanaran II – Sunan Bayat).


Jejak Peninggalan


Menurut Suwarno, ada beberapa jejak peninggalan Sunan Pandanaran yang masih ditemukan hingga sekarang yakni sejumlah senjata seperti keris, tongkat, tombak, gentong dan lainnya.

Untuk tombaknya dipasang di atas pendopo yang kini menjadi bangunan makam. Tombak ditaruh di atas cerucuk pendopo atas inisiatif para ulama. "Tombak dipasang atas pendopo. Yang naruh para ulama-ulama sini. Ya sebagai penangkal musibah," katanya.

Adapula peninggalan berupa gentong yang ditaruh di pendopo makam Sunan Pandanaran. Gentong itu selalu berisi air yang diambil di sumur kawasan makam.

Suwarno mengatakan, air gentong itu seringkali diambil oleh peziarah karena diyakini bisa menjadi berkah. "Iya di antaranya bisa menyembuhkan berbagai penyakit," katanya. (Iwn)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.