Mengenal Tradisi Beli Baju Baru Jelang Lebaran untuk Bakdan di Solo Raya, Warisan Mataram Islam
Hanang Yuwono February 24, 2026 09:32 AM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ada tradisi unik di Solo Raya, Jawa Tengah, di tiap akhir Ramadan.

Biasanya saat akhir Ramadan atau jelang Lebaran, suasana pusat perbelanjaan di Solo Raya mulai ramai.

Warga dari Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, hingga Klaten berburu pakaian baru untuk dikenakan saat Hari Raya Idul Fitri.

Baca juga: Sejarah Es Cao, Kuliner Legendaris yang jadi Salah Satu Hidangan Buka Puasa Populer di Solo Raya

Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun yang melekat kuat di masyarakat.

Bagi warga Solo Raya, membeli baju baru bukan sekadar mengikuti tren, tetapi bagian dari persiapan menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Ramai Pasar dan Pusat Perbelanjaan

Setiap menjelang Lebaran, kawasan Pasar Klewer, pusat grosir batik, hingga mal di Solo dipadati pembeli.

Banyak keluarga sengaja menyisihkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk membeli busana baru, terutama untuk anak-anak.

Tradisi ini juga didukung pedagang yang menawarkan potongan harga besar-besaran.

TOKO BAJU DI SOLO - Potret toko CikCik UMS Solo, tempat belanja baju murah langganan mahasiswa.
TOKO BAJU DI SOLO - Potret toko CikCik UMS Solo, tempat belanja baju murah langganan mahasiswa. (Instagram @cikciksolo_style)

Tak hanya pakaian muslim, batik dan busana tradisional khas Solo juga banyak diburu untuk dikenakan saat silaturahmi.

Tradisi Sejak Era Kesultanan

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, disebutkan bahwa tradisi baju baru Lebaran sudah ada sejak abad ke-16, tepatnya pada masa Kesultanan Banten.

Tradisi serupa juga berkembang di wilayah Kerajaan Mataram Islam yang wilayah budayanya meliputi Yogyakarta dan Surakarta.

Kala itu, masyarakat menyiapkan pakaian terbaik untuk merayakan berakhirnya Ramadhan, baik dengan membeli maupun menjahit sendiri.

Catatan dari orientalis Belanda Snouck Hurgronje pada awal abad ke-20 juga menggambarkan kebiasaan umat Islam membeli pakaian baru saat Idul Fitri, disertai tradisi saling berkunjung dan jamuan makan.

Baca juga: Kenapa Puasa di Solo Raya Disebut Siyam? Ini Sejarah dan Maknanya

Simbol Kesucian dan Pembaruan Diri

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, menjelaskan bahwa pakaian saat Idul Fitri merupakan simbol kesucian.

Awalnya, umat Islam dianjurkan mengenakan pakaian bersih saat salat Id sebagai tanda kembali fitri setelah sebulan penuh berpuasa. Seiring waktu, pakaian bersih kemudian dimaknai sebagai pakaian baru.

Di Solo Raya, orang tua biasanya memprioritaskan membelikan baju baru untuk anak-anak.

Selain untuk salat Id, pakaian tersebut dikenakan saat sungkeman dan berkunjung ke rumah kerabat.

 Tradisi, Bukan Kewajiban

Dalam ajaran Islam, yang dianjurkan adalah memakai pakaian terbaik saat hari raya, bukan wajib pakaian baru.

Artinya, tradisi membeli baju baru lebih merupakan kebiasaan budaya yang berkembang dari semangat tampil bersih, rapi, dan menghormati momen sakral.

Di Solo Raya, tradisi ini tetap bertahan karena menjadi bagian dari kegembiraan Lebaran—bersama mudik, opor ayam, ketupat, dan silaturahmi keluarga besar.

Baju baru mungkin hanya simbol, tetapi maknanya mencerminkan harapan baru, niat memperbaiki diri, dan semangat kembali ke fitrah di Hari Raya Idul Fitri.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.