Kompresor Rusak, 3 Nozel SPBE Terkendala, Diskopukmperindag Kotim Tegaskan Elpiji 3 Kg Tak Langka
Sri Mariati February 24, 2026 12:05 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Isu kelangkaan elpiji 3 kilogram yang sempat dikeluhkan warga Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), akhirnya mendapat penjelasan dari pemerintah daerah.

Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan gas melon, terlebih di bulan Ramadhan saat kebutuhan memasak meningkat, mulai dari menyiapkan sahur hingga berbuka puasa.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kotim Johny Tangkere, menegaskan kondisi tersebut bukanlah kelangkaan, melainkan gangguan distribusi akibat kerusakan alat pengisian di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Pelangsian.

“Bukan kelangkaan. Kalau kelangkaan itu barangnya tidak ada. Ini barangnya ada, cuma karena ada kerusakan kompresor, jadi pengambilannya dialihkan ke Pangkalan Bun dan itu memerlukan waktu,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Johny menjelaskan, sebelumnya kompresor di SPBE sempat mengalami kerusakan sehingga seluruh proses pengisian tidak berfungsi maksimal. 

Saat ini kompresor telah kembali normal, namun masih ada kendala pada nozel pengisian.

Dari total 12 nozel yang tersedia, dua nozel masih disegel pihak kepolisian dan satu nozel lainnya rusak serta dalam proses perbaikan. Dengan demikian, saat ini hanya sembilan nozel yang dapat beroperasi.

“Sekarang sembilan nozel sudah berjalan normal. Mudah-mudahan dengan sembilan nozel ini distribusi bisa kembali normal mulai hari ini,” katanya.

Akibat gangguan tersebut, sejumlah agen sebelumnya harus mengambil pasokan hingga ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, sebagai langkah darurat agar stok elpiji di Kotim tidak semakin menipis.

Namun proses pengambilan dari luar daerah memerlukan waktu lebih lama, termasuk antrean pengisian, sehingga distribusi ke pangkalan di Sampit sempat terlambat.

""Teman-teman agen itu mengambil di Pangkalan Bun, tentu memerlukan waktu dan antre. Itu yang membuat di beberapa titik terasa sulit, tapi tidak sampai parah,” jelasnya.

Johny juga memastikan gangguan tersebut murni faktor teknis dan tidak ada unsur kesengajaan dari pihak mana pun.

“Namanya alat bisa saja rusak. Tidak ada unsur kesengajaan,” tegasnya.

Terkait harga, ia menegaskan pengambilan gas dari luar daerah tidak akan memengaruhi harga resmi elpiji subsidi di tingkat agen maupun pangkalan.

Menurutnya, harga di agen tetap mengikuti ketentuan sekitar Rp22 ribu per tabung, dan tidak boleh dibebankan tambahan biaya kepada masyarakat.

Jika ditemukan harga melambung hingga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per tabung di tingkat pengecer, masyarakat diminta segera melaporkannya ke dinas agar dapat ditindaklanjuti.

“Kalau menemukan ada yang jual sampai Rp40 ribu atau Rp35 ribu, laporkan ke kami. Nanti kami yang melakukan langkah penertiban,” ujarnya.

Baca juga: Elpiji 3 Kg di Sampit Langka, SPBE Pelangsian Terganggu Mulai Ada Nozzel Rusak hingga Disegel Polisi

Baca juga: Kepala Operasional SPBE PT Niaga Jaya Makmur Angkat Bicara Isu Pengurangan Takaran Elpiji 3 Kg

Ia menambahkan, SPBE di Pelangsian merupakan satu-satunya fasilitas pengisian elpiji di Kotim. Karena itu, jika terjadi gangguan, daerah terdekat seperti Pangkalan Bun akan menjadi lokasi penyangga distribusi.

Pemerintah daerah berharap dengan sembilan nozel yang kini sudah beroperasi, distribusi elpiji dapat kembali lancar dan kebutuhan masyarakat selama Ramadhan tetap terpenuhi.

“Dengan sembilan nozel ini saya percaya tidak akan membuat kelangkaan lagi. Mudah-mudahan hari ini sudah normal,” tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.