SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Jaranan sentherewe, kesenian tradisional khas Mataraman, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kabupaten Tulungagung.
Pengakuan ini diserahkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indarparawansa, kepada Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, di Taman Krida Budaya Malang, Minggu (22/2/2026).
Penetapan WBTB menjadi bukti pengakuan atas sejarah dan keberlangsungan seni tari rakyat yang hidup di masyarakat.
Baca juga: Lima Kuliner dan Budaya Gresik Diganjar Sertifikat WBTBI, Ini Pesan Gubernur Jawa Timur
“Pengakuan ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Tulungagung. Jaranan sentherewe akhirnya diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda,” ujar Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo kepada SURYA.co.id, Selasa (24/2/2026).
Menurut Gatut Sunu, jaranan sentherewe lahir di tahun 1958.
Tarian tradisional ini bukan sekadar hiburan, namun juga simbol semangat, keberanian, dan harmoni masyarakat.
Bupati juga menyatakan komitmen untuk mendukung pelestarian dan regenerasi pelaku seni, agar kesenian ini tetap lestari.
“Kita jaga dan lestarikan warisan budaya ini agar Tulungagung tidak hanya maju, namun juga berbudaya,” tegasnya.
Lanjutnya, kesenian jaranan sentherewe adalah identitas dan kekuatan budaya masyarakat Tulungagung.
Identitas budaya ini harus dijaga agar tetap berkelanjutan eksistensinya.
Jaranan sentherewe diyakini lahir di Dukuh Sukorejo, Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.
Ada yang menyebut, jaranan sentherewe lahir karena rasa bosan para jaranan pegon yang menekankan unsur teatrikal.
Namun ada pula yang menyebut, jaranan sentherewe lahir dari jaranan klasik atau sering disebut jaranan Jawa, sehingga lebih tua dari jaranan pegon.
Hal ini biasa dilihat bentuk tarian tradisional yang lebih dekat dengan jaranan Jawa, serta unsur ritual yang kuat.
Sentherewe diyakini berasal dari kata senthe, jenis tanaman talas yang bikin gatal, dan rewe atau rawe, tanaman merambat dengan bulu yang menyebabkan gatal.
Gerakan jaranan sentherewe dinamis, enerjik, bahkan cenderung liar mirip orang yang gatal kena senthe dan rewe.
Banyak hentakan kaki yang kuat, dengan ekspresi garang dari para penari.
Musiknya juga cepat dan menghentak mengikuti gerakan yang enerjik.
Alat musik yang dipakai kendang, kenong, gong, slompret, kadang ditambah angklung.
Nuansa magis sangat kental, unsur trance atau disebut ndadi menjadi bagian pertunjukan.
Hal ini tidak lepas dari keberadaan jaranan yang menjadi bagian ritual di desa.
Saat ini jaranan sentherewe berkembang luar biasa, dengan munculnya banyak kelompok kesenian jaranan.
Dari segi kostum juga banyak mengalami perubahan, yang dulunya sederhana, kini kelihatan lebih berwarna mirip jaranan pegon.