TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebanyak 15 Deteni warga negara Filipina kini telah menghuni Rudenim atau Rumah Detensi Imigrasi Manado, berlokasi jalan Ring Road, Kelurahan Malendeng, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (24/2/2026).
Mereka diserahterimakan dari kantor Imigrasi Palu ke Rudenim Manado pada Selasa (24/2/2026) pagi.
Kisah mereka bak film. Seperti khayalan sutradara handal, tapi nyata.
Para WNA asal Filipina ini terdampar di lautan selama 13 hari.
Hanya makan biskuit seadanya serta minum air hujan.
Mereka bukan pelaut handal. Hanya orang biasa. Bahkan delapan diantaranya adalah anak anak dengan mayoritas balita. Yang termuda masih berusia 9 bulan.
Enam WNA lainnya adalah wanita.
Hanya satu orang pria.
Namanya Banjil.
Ia ditemui Tribunmanado.com di Rudenim Manado, Selasa (24/2/2026).
Banjil mengaku bukan nelayan. Hanya pekerja serabutan di daerah asalnya.
Rudenim Manado berada di jalan Ring Road, Kelurahan Malendeng, Kecamatan Paal Dua, kota Manado, provinsi Sulut.
Dari Bandara Samratulangi berjarak sekira 7 kilometer.
Jaraknya dari Kantor Gubernur Sulut sekira 5 kilometer.
Banjil tahu sedikit bahasa Melayu.
Awalnya ia segan.
Tapi setelah memberanikan diri, ia bicara panjang lebar.
Banjil bercerita, mereka pergi ke sebuah wilayah di Malaysia untuk menghadiri kenduri.
Rombongan memakai perahu besar. "Jumlah awalnya 17 orang," kata dia.
Bencana terjadi saat mereka mau balik dari Malaysia ke Filipina.
Perahu mereka dihantam angin deras. "Kayu keras dan tajam menghantam perahu dan alami kerusakan," kata dia.
Dimulailah periode bertahan hidup yang di luar nalar.
Banjil mengaku hanya makan sedikit. "Semua jatah biskuit diberikan pada anak anak," kata dia.
Untuk minum, kata dia, mereka gunakan air hujan.
Saat hujan turun, Banjil mengumpulkan kain sarung sebagai wadah menampung air hujan.
Sebagian besar jatah air tampungan diberikan untuk anak - anak.
"Saya sendiri hanya minum empat kali," katanya.
Makanan dan air bisa mereka bagi. Tidak demikian dengan hujan dan panas.
Perahu itu tak punya bagian atas.
"Jadi kalau panas, kepanasan, hujan ya kehujanan," katanya.
Saat diwawancarai, ia berkali kali mengelap wajahnya. Wajah tersebut legam layaknya terbakar. "Ini sisa dari panas yang melekat di tubuh kami, untungnya kami dirawat pihak Imigrasi Palu dengan baik," katanya.
Situasi kian gawat. Anak anak mulai melemah. Ia pun demikian.
Dalam keadaan itu ia mengambil keputusan yang tersulit dalam hidupnya, memerintahkan sang anak mencari pertolongan dengan cara berenang di laut lepas.
"Dua orang berenang, seorang diantaranya adalah sang anak, dan kabar terakhir mereka selamat," kata dia.
Ujar dia, upaya di atas upaya adalah berdoa.
Banjil selalu berdoa dan ia pun mengajak semua orang di perahu untuk berdoa.
Doa itu manjur.
Suatu hari datanglah dua nelayan dari Buol Sulawesi Tengah.
"Dan kami diselamatkan, syukur pada Allah," katanya.
Lalu, mereka dibawa oleh Imigrasi Palu, dirawat hingga pulih.
Ia berterima kasih pada semua penolongnya. "Hanya Allah yang akan membalas ini semua," kata dia.
Baca juga: Wajib Tahu, Ini Feng Shui Rumah untuk Setiap Shio Agar Menarik Keberuntungan
Sebanyak 15 Deteni warga Filipina diserahterimakan secara resmi dari Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Palu ke Rudenim Manado, Selasa (24/2/2026) pagi.
Sebelumnya mereka tiba dari Palu pada Senin (23/2/2026) sore.
Prosesi serah terima ditandai dengan penyerahan dokumen dari Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Palu Muhammad Akmal kepada Kepala Rudenim Manado Widhi Mosakajaya.
Akmal menuturkan, kelima belas warga Filipina itu terdampar selama 13 hari sejak tanggal 26 Januari 2026.
"Mereka dari Malaysia, hendak kembali ke Filipina, lantas terbawa arus ke perairan Indonesia dan terdampar di sana," kata dia.
Sebut dia, lima belas orang tersebut didominasi anak anak.
Jumlah mereka delapan. Sebagian besar balita.
"Wanita dewasa ada enam, sementara pria dewasa hanya satu orang," kata dia.
Bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama 13 hari di atas perahu, di tengah lautan yang ganas, dengan makanan yang terbatas?.
Sebut Akmal, itu hanya tanda tanya.
"Mungkin yang kuasa yang menyelamatkan," kata dia.
Dikatakan Akmal, para warga negara Filipina itu telah menjalani perawatan dan dinyatakan sehat.
Kepala Rudenim Manado Widhi Mosakajaya menuturkan, pihaknya segera berkoordinasi dengan Konjen Filipina.
"Ini untuk memastikan kewarganegaraan mereka," kata dia.
Menurut dia, kelima belas WNA ini dibawa ke Manado karena Palu masih berada di wilayah kerja pihaknya.
Dikatakannya, para WNA akan ditampung sesuai prosedur.
"Kami akan beri makan tiga kali sehari dan lainnya," kata dia. (Art)
(TribunManado.co.id/Art)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini