NS Ungkap Perilaku Ayahnya ke Teman di Pesantren Jadi Curhat Terakhirnya Sebelum Tewas di Sukabumi
Kharisma Tri Saputra February 24, 2026 04:45 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Sempat membongkar perilaku ayah kandungnya ke teman di pesantren, anak yang tewas di Sukabumi, NS (13).

NS bahkan menangis kepada ibu temannya sebelum pulang ke rumahnya dan berakhir meninggal dunia.

Ia mengaku bingung harus mengadu kepada siapa.

Sebagai kenang-kenangan, NS bahkan sempat memberikan sarung kepada temannya.

Hal itu seolah menjadi firasat bahwa dirinya akan kenapa-kenapa saat pulang ke rumahnya.

NS selama ini tinggal di pesantren karena ayah dan ibu tirinya selalu ribut.

Ia juga ternyata pernah dianiaya oleh ibu tirinya setahun yang lalu.

AYAH KORBAN - (KANAN) Anwar Sabiti (38), ayah NS (12) terpukul atas kepergian putranya diduga dianiaya oleh ibu tiri. Ia menyesal  bercerai dan membawa NS ke istri baru
AYAH KORBAN - (KANAN) Anwar Sabiti (38), ayah NS (12) terpukul atas kepergian putranya diduga dianiaya oleh ibu tiri. Ia menyesal bercerai dan membawa NS ke istri baru (Youtube/CURHAT BANG Denny Sumargo)

Hal itu membuat NS merasa lebih senang tinggal di pesantren, di bandingkan rumahnya sendiri.

Namun karena mendekati bulan Ramadan, semua santri pulang dulu ke rumah masing-masing.

Belum lama di rumahnya, NS malah didapati tubuhnya melepuh, dan meninggal dunia di hari kedua puasa Ramadan 2026.

Sebelum dibawa ke rumah sakit, NS rupanya sempat mengusap pipi sang ayah, Anwar Satibi, sambil meminta maaf.

Saat itu kondisi NS sudah tubuh NS sudah melepuh, namun sang ayah masih membiarkannya semalaman bahkan bangun kesiangan.

Baru keesokan harinya NS dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia pada Jumat (20/2/2026).

Menurut ayah angkat Anwar Satibi, Isep Mahesa, tindakan NS meminta maaf kepada sang ayah itu seperti curahan hati yang ia pendam selama ini.

"Ya mungkin merasa gimana ya, mengesalkan orangtua mungkin," kata Isep dikutip dari Youtube Denny Sumargo, Selasa (24/2/2026).

Sebab menurut Isep, bukan cuma ibu tirinya yang galak dan sering marah kepada NS.

Sang ayah, Anwar Satibi juga merupakan sosok yang termpramental.

"Karena mungkin ini (Anwar) juga kan sering marah sama anak. Mungkin anak juga merasa banyak salah mungkin ya. Padahal yang salah orangtuanya dalam mendidik," tuturnya.

Ia lalu mengatakan kalau NS di pesantren sempat mengadu ke temannya sambil menangis.

Dalam curhatannya itu, NS menyebut kalau ayah dan ibu tirinya itu jahat dan galak.

"Kemarin pun di pesantren, sampe sempet nangis mengadu kepada temannya, 'saya bingung mengadu ke siapa, karena orangtua saya itu jahat' katanya, 'galak'," tutur Isep.

Tak cuma itu saja, ia juga rupanya sempat menyampaikan pesan-pesan sebelum meninggalkan pesantren.

"Jadi mungkin kedua-duanya itu karena sering bertengkar masalah anak, sampai titip pesan ke ustaz. Pasti anak itu merasa bingung melihat orangtua ribut terus," tandasnya.

Bukan cuma ke temannya, NS juga bahkan sampai curhat ke orangtua temannya.

"Di pesantren dia cerita sama temannya, sama ibu temannya, ada pesan (video) yang sudah dikirimkan ke kepolisian," katanya lagi.

NS juga seperti sudah punya firasat kalau dirinya akan tidak baik-baik saja.

"Bahkan sampai meninggalkan sarung, jadi ngasih sarung, ada apa itu, ke temannya. Sebelum meninggal itu sampai ngasih sarung, buat kenangan katanya," ucap Isep lagi.

"Saya ada videonya, saya dikirim dari Pak ustaz, makanya pak ustaz nangis. Saya juga ikut nangis," ungkapnya.

Menurut Isep, soal kejanggalan sikap NS sebelum meninggalkan pesantren ini belum ia ceritakan pada Anwar.

Namun semua bukti-buktinya sudah ia serahkan ke pihak kepolisian.

"Sebetulnya ini orangtuanya soal kejadian di pesantren sebelum meninggal, ngasih sarung, ngasih pesan-pesan, ayahnya ini belum tahu ya. Sampai saat ini belum saya kasih tahu. Jadi obrolan saya dengan guru di pesantren. Makanya saya sedih, ada apa ini anak. Sampai bikin kenang-kenangan ngasih sarung," tuturnya.

Anwar pun tidak membantah apa yang disampaikan oleh Isep, namun ia menyebut kalau sikapnya yang galak ke anak itu sebelum NS masuk pesantren.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.