TRIBUNLOMBOK.COM – Memasuki waktu sore di bulan Ramadhan, lapak-lapak takjil di sudut Kota Bima mulai ramai dipadati pembeli.
Di antara deretan gorengan dan es buah, ada satu camilan tradisional yang hampir tak pernah absen dari kantong belanjaan warga, kue mata pisang.
Kudapan berbahan dasar ubi kayu ini menjadi salah satu takjil paling dicari karena perpaduan teksturnya yang lembut serta rasa manis alaminya yang sangat cocok untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Nama mata pisang sendiri diambil dari tampilannya yang unik. Saat adonan dipotong-potong, irisan pisang kepok yang berada di bagian tengah muncul menyerupai pupil mata.
Bentuknya yang cantik dengan baluran parutan kelapa putih di sekelilingnya menjadikannya primadona di meja makan saat azan Magrib berkumandang.
Beberapa penjual kerap menambahkan pewarna makanan seperti merah atau biru untuk mempercantik tampilan, namun versi warna kuning alami dari ubi kayu tetap menjadi yang paling diburu karena kesan tradisionalnya yang kuat.
Baca juga: Wangi Serabi Pandan Penaraga yang Bikin Nagih Jelang Berbuka
Dibalik rasanya yang lezat, pembuatan mata pisang membutuhkan ketelatenan ekstra. Ubi kayu diparut halus, dibumbui dengan gula dan garam, lalu dibentuk menyerupai lontong dengan isian pisang kepok di tengahnya.
Adonan ini kemudian dibungkus rapi dan dikukus selama kurang lebih satu jam. Proses pengukusan yang lama inilah yang menciptakan tekstur legit dan lembut yang khas, berbeda dengan camilan berbahan ubi lainnya.
Warga Bima memiliki cara favorit dalam menikmati takjil ini. Mata pisang yang telah dipotong-potong biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut segar yang memberikan sensasi gurih.
"Paling enak kalau dinikmati bersama es serut atau es buah. Tekstur kenyalnya pas sekali untuk takjil berbuka," ujar salah satu warga saat ditemui di pasar tradisional.
Bagi Anda yang sedang berburu takjil di Bima, mata pisang sangat mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional maupun dijajakan oleh penjual keliling di kampung-kampung dengan harga yang sangat terjangkau. Kehadiran kue legendaris ini seolah menjadi pelengkap wajib bagi suasana Ramadhan di Tanah Bima.