TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Suasana berbuka puasa di Masjid Aceh Sepakat Medan tahun ini terasa berbeda dibandingkan Ramadan sebelumnya.
Jika biasanya hidangan berbuka dilengkapi kuah beulangong khas Aceh, tahun ini menu tersebut ditiadakan pada Ramadan 1447 Hijriah atau Ramadan 2026 sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Aceh yang tengah dilanda musibah.
Ketua I Yayasan Aceh Sepakat, Hasbi Mustofa, mengatakan panitia sengaja menyederhanakan sajian berbuka dan lebih memfokuskan pengumpulan dana bantuan kemanusiaan.
Hidangan yang disiapkan hanya berupa bubur kanji rumi khas Aceh, kue-kue ringan, serta minuman seperti teh dan air mineral.
“Tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Kita lebih fokus mengumpulkan dana untuk membantu saudara-saudara di Aceh yang sedang terkena musibah,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Selama ini, kuah beulangong dikenal sebagai menu ikonik berbuka puasa di Masjid Aceh Sepakat setiap Ramadan.
Masakan khas Aceh yang dimasak dalam kuali besar tersebut biasanya menjadi daya tarik utama karena disajikan dalam jumlah besar dan dinikmati bersama jamaah serta masyarakat umum.
Tradisi memasak kuah beulangong bahkan telah menjadi simbol kebersamaan warga Aceh di perantauan, sekaligus mempererat silaturahmi lintas masyarakat yang datang untuk berbuka bersama di masjid tersebut.
Namun pada Ramadan tahun ini, panitia memilih meniadakan menu tersebut agar anggaran dapat dialihkan untuk kegiatan sosial dan bantuan kemanusiaan.
Meski tanpa kuah beulangong yang biasanya menjadi menu utama, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Panitia menyiapkan bubur kanji dari 30 kilogram beras yang dimasak dalam dua blangong besar.
Satu tong dibagikan kepada masyarakat sekitar dan warga yang singgah untuk dibawa pulang, sementara satu tong lainnya khusus untuk jamaah yang berbuka di area masjid.
Hasbi menyebutkan, sedikitnya sekitar 400 orang hadir untuk berbuka puasa bersama di pekarangan masjid. Ia memastikan seluruh jamaah tetap kebagian hidangan berbuka meski jumlah pengunjung cukup ramai dan antrean panjang sempat terjadi.
“Alhamdulillah semuanya cukup dan kebagian,” katanya.
Menurutnya, cita rasa bubur kanji tetap dipertahankan seperti tahun-tahun sebelumnya, mulai dari racikan bumbu hingga tim memasak yang masih sama.
Tradisi kuliner khas Aceh tersebut tetap dijaga sebagai identitas kebersamaan masyarakat Aceh di perantauan selama Ramadan.
Selain menyediakan hidangan berbuka, panitia juga menggalang dana yang nantinya akan disalurkan sepenuhnya untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Aceh.
Bantuan akan dikumpulkan sepanjang Ramadan, sementara bentuk penyalurannya masih akan dibahas lebih lanjut.
“Dana yang terkumpul nanti semuanya kita kirim ke Aceh sebagai bentuk kepedulian kita,” pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)