Usai Viral Penerima LPDP Ogah Anaknya Jadi WNI, Kini Tasya Kamila Pamer Kontribusinya Sebagai Alumni
Desi Triana Aswan February 24, 2026 09:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Tasya Kamila tak tinggal diam saat ramainya polemik penerima LPDP yang enggan anaknya jadi Warga Negara Indonesia (WNI). 

LPDP adalah beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang didanai dari uang rakyat beserta anggaran negara. 

Wanita yang disapa Tyas itu membuat konten yang menunjukkan dirinya bangga lantaran sang anak berhasil mendapatkan kewarganegaraan Inggris.

Sontak saja, video yang diunggahnya memicu reaksi tajam dari publik. 

Sampai namanya viral, dan kini pihak pemerintah menuntut pertanggungjawaban Tyas. 

Sikap dari salah satu alumni ini berimbas pada banyak alumni lainya. 

Salah satunya adalah publik figur, Tasya Kamila. 

Ia adalah penerima beasiswa LPDP. 

Baca juga: Arie Kriting Komika Berdarah Wakatobi Ikut Kesal ke Alumni LPDP Viral: Memang Kalau WNI Kenapa?

Tasya melanjutkan pendidikannya di Universitas Columbia. 

Kesempatannya kuliah di luar negeri dengan modal beasiswa tak disia-siakan begitu saja. 

Setelah jadi alumni, Tasya memutuskan untuk pula. 

Bukan seperti alumni LPDP viral gegara diduga hina negara itu. 

Tak tanggung-tanggung, Tasya lantas melaporkan pencapaiannya tersebut setelah menjadi alumni. 

Ia membongkar semua kontribusinya usai kuliah hingga wisuda menggunakan uang dari rakyat dan negara tersebut. 

Netizen awalnya ramai menggeruduk media sosial Tasya. 

Pasalnya, ia diketahui menjadi salah satu penerima beasiswa LPDP. 

Namun, kebanyakan aktivitas Tasya saat ini lebih fokus pada rumah tangganya. 

Menanggapi hal tersebut, Tasya pun angkat bicara memberikan klarifikasi melalui akun Instagram @tasyakamila.

Dalam unggahannya, ia mengawali dengan menjelaskan bahwa pertanyaan serta kecurigaan publik merupakan hal yang wajar. Tasya pun memaparkan latar belakang pendidikannya.

"Buatku, kalian berhak bertanya soal ini! Sebagai sesama rakyat, yang membayar pajak, aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau 'investasi' kita menghasilkan output yag baik buat bangsa," tulis Tasya.

"Background. Aku berkuliah S2 di Columbia University, Amerika Serikat mengambil jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy pada tahun 2016–2018. Sedari mendaftar LPDP, aku sudah bekerja di bidang industri kreatif sebagai penyanyi, aktor, public speaker, dan figur publik.

Alasan berkuliah dengan jurusan tersebut: memiliki ketertarikan di bidang lingkungan hidup dan perumusan kebijakan publik karena sejak tahun 2005 sudah mengemban tugas sebagai Duta Lingkungan Hidup.

Selain itu aku punya cita-cita untuk jadi Menteri, seenggaknya harus punya ilmu policymaking dong hehe. Tujuan perkuliahan: memperoleh ilmu, skill, koneksi/network untuk bisa memanfaatkan platform ku sebagai figur publik agar bisa menjadi jembatan antara pemerintah (policymaker) dan masyarakat umum (public), terutama di bidang keberlanjutan (sustainability)," terangnya.

Lebih lanjut, pelantun lagu "Anak Gembala" ini juga merinci sejumlah pencapaiannya selama masa studi. Termasuk lulus tepat waktu dan aktif di organisasi pemuda internasional di bawah naungan PBB.

Selain itu, Tasya juga aktif mengembangkan proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, NTT, memanfaatkan sumber daya kampus, serta magang di Kementerian ESDM. Pun dengan bentuk tanggung jawabnya selama masa bakti LPDP 2n+1 pasca lulus pada 2018-2023.

Di akhir penjelasannya, Tasya menekankan bahwa kontribusi tidak selalu berbentuk pekerjaan formal di kantor. Termasuk dirinya yang saat ini memilih menjadi influencer sambil fokus sebagai ibu rumah tangga.

"Di zaman sekarang, aku rasa ada banyak cara dan kesempatan bagi kita untuk berkontribusi kepada negeri. Baik itu secara konvensional (seperti bekerja di kantor), maupun secara modern (seperti menjadi influencer yang bisa menggerakan semangat hingga suatu aksi bisa menjadi policy, and vice versa).

Siapapun kita, memiliki tempat untuk berkontribusi, asal kita mengusahakannya. Termasuk kami, para Ibu Rumah Tangga ," pungkasnya.

Menanggapi polemik penerima LPDP yang kini viral, Tasya Kamila pun menjelaskan kontribusi serta dedikasi yang dilakukannya sebagai alumni. Ia merinci semuanya melalui rekap dalam unggahan akun Instagramnya. 

Alumni LPDP Viral Pamer Status Kewarganegaraan Anaknya

Sosok Dwi Sasetyaningtyas mendadak viral di media sosial buntut video curhatannya yang berisikan kekecewaannya menjadi seorang Warga Negara Indonesia (WNI).

Namun yang jadi sorotan publik adalah fakta bahwa Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya adalah penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang kini sedang tinggal di Inggris.

Publik pun geram dengan pernyataan Dwi Sasetyaningtyas yang menyebut ingin agar anak-anaknya memiliki paspor WNA yang kuat.

Meskipun Dwi Sasetyaningtyas sudah melaksanakan kewajiban masa pengabdiannya sebagai penerima beasiswa LPDP, tapi sang suami Arya Iwantoro yang tercatat sebagai penerima LPDP untuk studi magister dan doktoral di Utrecht University, Belanda, belum menuntaskan kewajiban pengabdiannya.

Viralnya video Dwi Sasetyaningtyas pun berujung pada sanksi untuk sang suami, yakni sanksi pengembalian dana yang didapat dari LPDP selama masa studi.

Viralnya kasus Dwi Sasetyaningtyas juga membuat LPDP melakukan penelitian kepada 600 orang penerima beasiswa LPDP.

Menurut Direktur Utama (Dirut) LPDP, Sudarto, ada sebanyak 44 penerima LPDP yang tercatat mangkir atau tidak kembali ke Indonesia setelah melakukan masa studinya di luar negeri.

Sudarto menyebut dari 44 penerima LPDP itu, ada delapan orang yang mendapat sanksi. 

Sanksi yang diberikan kepada alumni LPDP yang melanggar aturan di antaranya adalah pengembalian dana beasiswa, beserta bunga.

Serta dilakukan pemblokiran untuk mengikuti program LPDP selanjutnya. 

Ketentuan tersebut juga telah disepakati penerima beasiswa sejak awal melalui perjanjian resmi.

Sementara itu, untuk 36 penerima LPDP lainnya masih dalam proses klarifikasi.

“Kami sudah melakukan penelitian terhadap lebih dari 600 awardee, dan dari jumlah tersebut yang sudah ditetapkan sanksi termasuk pengembalian ada 8 orang, sementara 36 lainnya sedang dalam proses,” kata Sudarto dalam konferensi pers APBN KiTA Edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026), dilansir Kompas TV.

Lebih lanjut Sudarto menegaskan, LPDP akan terus melakukan pengawasan terhadap seluruh penerima beasiswa. 

Ia memastikan setiap kasus akan diproses secara objektif dan proporsional, mengingat dana LPDP merupakan dana publik yang harus dipertanggungjawabkan.

Sudarto mengaku kecewa dengan perilaku alumni LPDP seperti Dwi Sasetyaningtyas, yang tidak mencerminkan nilai kebangsaan.

Padahal selama ini LPDP selalu menanamkan nilai integritas dan etika kebangsaan kepada seluruh penerima beasiswa LPDP.

"LPDP tentu sangat menyayangkan ya terjadinya isu tersebut, yang dipicu oleh perilaku salah satu alumni LPDP, tentu tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas etika dan juga kebangsaan, yang selalu ditanamkan oleh LPDP kepada penerima beasiswa LPDP," ungkap Sudarto.

Menkeu Purbaya Minta Alumni LPDP Jaga Sikap

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ikut menanggapi soal ramai kasus alumni penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas yang pamer anak jadi WNA.

Menkeu Purbaya mengharapkan para penerima LPDP ini bisa lebih menjaga sikap.

Purbaya mengaku tak masalah jika mereka merasa tidak senang dengan negara atau pemerintahan Indonesia, tapi Purbaya tetap tak membenarkan untuk menghina negara sendiri.

"Saya harapkan ke depan teman-teman yang dapat pinjaman LPDP, ya kalau mau enggak senang, ya enggak senang, tapi jangan menghina-hina negara lah," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa 2026, Jakarta, Senin (23/2/2026), dilansir Kompas TV.

Menkeu Purbaya mengingatkan, beasiswa LPDP ini didapat dari pajak rakyat dan sebagian utang yang memang disisihkan untuk memperbaiki kualitas SDM Indonesia.

Untuk itu jika LPDP ini ujungnya hanya dipakai untuk menghina negara, maka Purbaya menilai lebih baik penerima LPDP tersebut diblacklist saja.

Tak cukup sampai disitu, uang yang diterima dari LPDP juga akan diminta kembali beserta dengan bunganya.

"Jangan begitu, kita itu uang dari pajak dan sebagian dari utang yang kita sisihkan untuk memastikan SDM kita tumbuh."

"Tapi kalau dipakai untuk menghina negara ya kita minta uangnya dengan bunganya. Kalau gitu nanti saya akan blacklist dia di seluruh pemerintahan enggak akan bisa masuk," tegas Purbaya.

Terakhir, Purbaya menekankan, tidak masalah jika penerima LPDP ini tak bersikap patriotis usai menerima beasiswa dari negara.

Namun jangan sampai para penerima LPDP ini berujung menghina negara sendiri.

"Jadi jangan menghina negara Anda sendiri. Enggak apa-apa kalau enggak patriotis, tapi jangan menghina negara deh."

"Itu saya saya ingatkan kepada teman-teman yang lain dari LPDP," imbuh Purbaya.(*)

(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana) (Grid.id)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.