Laporan Wartawan Tribun Jabar Daniel Andreand Damanik
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ada pemandangan yang tak biasa di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Maulana Yusuf, Kota Bandung, pada Senin (23/2/2026) siang.
Di tengah umat muslim menjalankan ibadah puasa, GKI Maulana Yusuf, Kota Bandung, justru menjadi tuan rumah ngabuburit dan buka puasa bersama.
Sebelum Azan Magrib berkumandang, para tamu yang hadir terlebih dahulu melaksanakan diskusi terkait keberagaman dan toleransi.
" Acara ini utamanya mendorong kembali kebersamaan, setelah sekian lama para sahabat ini bergerak dalam isu toleransi dan perdamaian. Ini merupakan pertemuan sahabat lama, sekaligus sahabat baru demi mendorong kebersamaan sekaligus kolaborasi dalam gerakan dan kegiatan lintas iman," kata Pdt. Albertus Patty selaku perwakilan dari GKI Maulana Yusuf.
Baca juga: Penampakan 100 Kg Ganja di Polres Cimahi, Barang Haram dari Sumatera Siap Edar di Bandung Raya
Pada diskusi yang berlangsung hangat tersebut, Pdt. Albertus Patty menekankan tentang tantangan yang kian dinamis yang dihadapi terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam situasi politik global maupun lokal.
Sementara itu, Ustaz Miftah Rakhmat dari Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menegaskan pentingnya membuka ruang aman untuk berdiskusi secara terbuka.
"Ini penting untuk menjadi edukasi dan teladan bagi publik untuk memahami perbedaan pendapat dan keyakinan bisa tetap menjalin kebersamaan," ujar Ustaz Miftah.
Sementara akademisi dari Daikin University, Prof Greg Barton, mengkritisi situasi global tentang isu perdamaian dan keberagaman yang semakin pelik.
"Kemunculan pemerintahan dan rezim yang melanggengkan perang, kebencian maupun politik identitas, seperti yang kita lihat di Sudan,Afghanistan, Amerika Serikat, India atau isu perang Ukraina dan permasalahan Gaza sertatempat lain, menantang masyarakat sipil untuk semakin kritis sekaligus mengupayakan cara baru mendorong perdamaian," kata Greg.
Baca juga: Salah Satunya Persib, Dua Klub Liga Indonesa Masuk 10 Besar Klub Paling Bernilai di Asia Tenggara
Ia menilai persoalan yang terjadi bukan hanya tentang agama, namun kesempatan politis untuk memakai isu identitas, terutama agama dan etnisitas menjadikannya bias dan menyulitkan orang berpikir obyektif.
"Kita tentu tidak boleh asal optimis atau pesimis melihat situasi seperti ini, namun saya menilai posisi Indonesia saat ini masih berpeluang menjadi salah satu pelopor upaya perdamaian,'" katanya.
Momen Ramadhan, yang tahun ini juga bertepatan dengan Puasa Pra-Paskah umat Kristiani dan berdekatan dengan perayaan Imlek, dianggap menjadi momen kebersamaan yang bisa mendorong kerjasama untuk perdamaian.
Adapun tokoh lintas agama yang juga hadir, Wawan Gunawan yang merupakan penggiat perdamaian dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub), menekankan kebanyakan tantangan tersebut tak lepas dari figur tokoh yang memakai politik identitas atau mereka yang kurang tegas dalam membela keberagaman, khususnya kelompok yang termarginalkan.
"Semoga kelompok masyarakat sipil terus bergiat dalam membuka ruang perjumpaan, mengkampanyekan praktik baik toleransi serta mendorong kebijakan yang inklusif," ujarnya.
Pst. Yohanes Surono, OSC yang datang dari Komisi Hubungan Antar Kepercayaan Keuskupan Bandung juga setuju intensitas dialog lintas iman semakin sering dilakukan.
Upaya tersebut dinilai bisa menyelesaikan permasalahan bersama. eperti pelestarian lingkungan, pendampingan kasus kekerasan berbasis gender, pencegahan perdagangan orang, serta beberapa permasalahan relevan di Jawa Barat yang menuntut kolaborasi lintas identitas di masyarakat.
Lebih dari 50 orang pegiat lintas iman di wilayah Bandung Raya bertemu dalam acara buka puasa bersama tersebut.
Mereka berasal dari berbagai lembaga keagamaan Islam, Katolik, Kristiani, Buddha, Khonghucu, Baha’i dan Penghayat Kepercayaan.
Selain itu, hadir juga komunitas penggerak perdamaian seperti Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS), Jakatarub, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bandung, Initiative of Changes (IofC), serta sejumlah akademisi dan jurnalis. (*)