TRIBUNNEWS.COM - Bodo/Glimt membuat kejutan besar dengan menyingkirkan Inter Milan dengan agregat 5-2 untuk melaju ke 16 besar Liga Champions, Rabu (25/2/2026).
Skor agregat 5-2 itu dibuat lewat dua kemenangan meyakinkan. Bodo/Glimt menang 3-1 di leg pertama dan melanjutkannnya dengan kemenangan 1-2 di kandang Inter Milan di San Siro.
Keberhasilan Bodo/Glimt ini menjadi sorotan besar. Klub kecil dari Norwegia ini muncul di tengah dominasi klub-klub raksasa Eropa dengan anggaran miliaran euro.
Bodo/Glimt berasal dari kota Bodø, Norwegia utara di dalam Lingkar Arktik, - wilayah yang bisa dikatakan paling pelosok diantara kontestan Liga Champions lainnya.
Betapa tidak, dari ibukota Norwegia, Oslo, masih membutuhkan 16 jam perjalanan ke utara untuk mencapai kota tersebut.
Dilansir Independent, Bodo/Glimt adalah tim paling utara yang pernah tampil di Liga Champions. Kota ini hanya memiliki penduduk sekitar 55 ribu jiwa.
Kalaupun semua penduduk kota itu datang ke Italia memenuhi San Siro, stadion kandang Inter itu masih akan banyak kursi kosongnya, mengingat kapasitarnya 75 ribu lebih.
Ini sangat kontras dengan markas mereka, Aspmyra Stadion, yang hanya berkapasitas sekitar 9.000 penonton dengan lapangan rumput sintetis, jauh dari kemewahan stadion elite Eropa.
Secara rekam jejak sejarah klub, tak kalah mencengangkan. Mereka bermain di divisi dua Norwegia pada 2017.
Hanya dalam waktu kurang dari satu dekade, mereka menembus level tertinggi sepak bola Eropa, Liga Champions.
Musim lalu, mereka membuat kejutan dengan menjadi tim Norwegia pertama yang mencapai semifinal Liga Europa.
Kini, tim asuhan Kjetil Knutsen ini melanjutkan peningkatan luar biasa mereka dengan lolos ke babak 16 besar Liga Champions, dan sebagai debutan di turnamen tersebut.
Yang menarik, tim Knutsen saat ini sejatinya sedang dalam masa istirahat karena liga utama Norwegia berakhir pada 30 Novermber 2025.
Saat ini Norwegia sedang musim dingin, dan kompetisi baru akan dilanjutkan saat musim semi tiba di bulan April.
Namun hebatnya, selama periode istirahat itu, Bodo/Glimt telah mengalahkan Manchester City, Atletico Madrid, dan menyingkirkan raksasa Italia Inter Milan.
Bodo/Glimt membawa keunggulan dua gol ke San Siro setelah kemenangan menakjubkan 3-1 di Norwegia, di mana mereka telah mengembangkan rekor luar biasa di rumput sintetis Stadion Aspmyra.
Kemudian, pada Rabu (25/2) dinihari WIB, mereka berhasil melewati tekanan yang cukup lama sebelum Jens Petter Hauge menghukum kesalahan Manuel Akanji untuk membungkam San Siro.
Saat Bodo/Glimt mulai bermain dengan percaya diri, Hakon Evjen menambahkan gol kedua yang luar biasa melalui serangan balik, membuat Inter menghadapi tantangan berat meskipun Alessandro Bastoni berhasil memperkecil kedudukan.
Kemenangan agregat 5-2 tidak hanya menandai krisis di Inter, juara Eropa tiga kali, dan sepak bola Italia secara keseluruhan, tetapi juga akan mengguncang dunia olahraga.
Kemenangan ini membuat Bodo/Glimt menjadi tim pertama Norwegia yang berhasil menang di babak gugur Piala Eropa atau Liga Champions sejak musim 1987-88.
Kebangkitan Bodo/Glimt tak lahir secara instan. Sejak 2018, tim ini ditangani oleh pelatih Kjetil Knutsen.
Di tengah berbagai tawaran dari klub-klub besar, Knutsen memilih bertahan dan membangun proyek jangka panjang.
Ia menekankan budaya kolektif, kedekatan antar-pemain, dan mentalitas proses. Filosofinya sederhana: kemenangan bukan tujuan tunggal, melainkan hasil dari kerja bersama yang tulus.
Pendekatan mental juga jadi bagian penting perjalanan mereka. Seorang mantan pilot tempur yang menjadi pelatih mental membantu mengubah pola pikir tim sejak masih di divisi dua.
Fokusnya bukan hasil instan, tetapi konsistensi dan kepercayaan pada proses.
Salah satu simbol kebangkitan mereka adalah Jens Petter Hauge.
Ia sempat hijrah ke AC Milan dan mencoba peruntungan di liga top Eropa, namun akhirnya kembali ke kampung halamannya.
Di Bodo, ia menemukan kembali identitas dan kebersamaan yang menjadi kekuatan utama klub.
Musim ini, Hauge menjadi salah satu top skor tim di Liga Champions. Gol-golnya, termasuk saat membungkam Inter di San Siro, menjadi bukti bahwa talenta bisa tumbuh subur di luar pusat-pusat kekuatan sepak bola dunia.
Sebelum sensasi Liga Champions musim ini, Bodo/Glimt sudah memberi sinyal kebangkitan.
Pada 2021, mereka mempermalukan AS Roma asuhan Jose Mourinho dengan skor 6-1 di ajang Eropa. Itu pertama kalinya tim Mourinho kebobolan enam gol dalam satu laga Eropa.
Mereka juga mengalahkan Celtic, Olympiacos, dan Lazio dalam perjalanan di kompetisi Eropa beberapa musim terakhir.
Di level domestik, Bodo/Glimt menjuarai liga Norwegia untuk pertama kalinya pada 2020, lalu mengulanginya pada 2021, 2023, dan 2024.
Namun panggung Eropalah yang benar-benar mengangkat nama mereka ke level global.
Kini, mereka menjadi tim pertama di luar lima liga besar Eropa (Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, Prancis) sejak Ajax era 1971-72 yang mampu mencatat empat kemenangan beruntun atas klub dari lima liga elite tersebut.
Di tahun itu, Ajax kemudian juga memenangkan Piala Eropa pada musim itu.
Empat laga terakhir Bodo/Glimt yakni:
Keberhasilan Bodo/Glimt bukan sekadar cerita tentang skor dan agregat. Ini adalah kisah tentang:
Di tengah komersialisasi dan ketimpangan finansial sepak bola modern, Bodo/Glimt mengingatkan bahwa fondasi, kebersamaan, dan keyakinan masih bisa menantang dominasi uang dan nama besar.
(Tribunnews.com/Tio)