TRIBUNNEWS.COM – Mantan pemain AC Milan, Jens Petter Hauge, menjadi salah satu aktor penting di balik keberhasilan Bodo/Glimt menyingkirkan Inter Milan pada leg kedua play-off 16 besar Liga Champions 2025/2026.
Dalam laga yang digelar Rabu (25/2/2026) dini hari WIB, Hauge mencetak satu gol dalam kemenangan 2-1 Bodo/Glimt atas Inter di kandangnya. Hasil tersebut memastikan wakil Norwegia melangkah ke babak 16 besar.
Menghadapi tekanan besar di markas Inter, Bodo/Glimt tampil disiplin dan efektif. Meski kalah dalam penguasaan bola, mereka mampu memaksimalkan peluang yang didapat.
Hauge menjadi pembeda lewat gol pembuka pada menit ke-58, yang membuat Inter semakin tertekan. Dan Hakon Evjen pun melengkapi kemenangan Bodo/Glimt sebelum Alessandro Bastoni memperkecil kedudukan.
Berkat hasil ini, Bodo/Glimt akan menghadapi pemenang antara Manchester City atau Sporting CP di babak 16 besar.
Pengundian fase 16 besar Liga Champions 2025/2026 dijadwalkan berlangsung pada Jumat (27 Februari) mulai pukul 18.00 WIB.
Usai pertandingan, Hauge tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
“Rasanya luar biasa! Ini sangat besar," kata Jens Petter Hauge, dikutip dari UEFA.
"Saya hampir kehabisan kata-kata. Itu adalah pertandingan yang sangat sulit, tetapi kami bersatu."
"Kami berlari untuk satu sama lain dan berjuang untuk setiap bola. Meskipun kami tidak banyak menguasai bola, kami sangat efisien ketika kami maju dan mulai menyerang," tambahnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa emosionalnya kemenangan tersebut, terlebih mengingat Inter merupakan salah satu kekuatan besar Italia dan Eropa.
Baca juga: Sorotan Tersingkirnya Inter Milan di Liga Champions: Cermin Kemerosotan Sepak Bola Italia
Jens Petter Hauge sejatinya pernah merasakan atmosfer Derby della Madonnina saat masih berseragam AC Milan pada musim 2020/2021.
Pada musim tersebut, Milan menghadapi Inter Milan sebanyak tiga kali, dua pertemuan di Liga Italia dan satu laga di Coppa Italia.
Hasilnya kurang memuaskan bagi Rossoneri, dengan dua kekalahan dan hanya satu kemenangan di kompetisi domestik.
Namun, dalam tiga pertemuan itu, Hauge tak mendapatkan kesempatan tampil. Ia lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan dan belum benar-benar merasakan panasnya rivalitas di atas lapangan.
Kini, cerita berubah drastis.
Bersama Bodo/Glimt, Hauge justru tampil sebagai pahlawan saat menyingkirkan Inter Milan di ajang Liga Champions.
Performa impresifnya menjadi pembeda dalam duel penting tersebut, sekaligus menghadirkan semacam “balas dendam” pribadi setelah dulu hanya menjadi penonton dari bangku cadangan.
Transformasi Hauge dari pemain pelapis di AC Milan menjadi figur kunci di Bodo/Glimt menunjukkan perkembangan karier yang signifikan.
Jika dulu ia hanya menyaksikan Inter berjaya dari sisi lapangan, kini ia menjadi aktor utama yang mengakhiri perjalanan Nerazzurri di panggung Eropa.
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, mengungkapkan kekecewaannya setelah timnya gagal melaju ke babak 16 besar Liga Champions 2025/2026.
Dalam konferensi pers usai laga, Chivu menegaskan bahwa para pemainnya sudah memberikan segalanya di atas lapangan, meski hasil akhir tidak berpihak kepada Nerazzurri.
Chivu menilai tim lawan tampil sangat terorganisir dan disiplin sepanjang pertandingan.
“Kami sudah berusaha sekuat tenaga melawan tim yang sangat terorganisir. Kami tidak berhasil mencetak gol pembuka, dan mereka merasa nyaman secara mental. Tidak ada yang bisa saya katakan kepada para pemain saya; mereka sudah berusaha semaksimal mungkin dengan seluruh energi yang mereka miliki," kata Chivu.
Menurutnya, kegagalan mencetak gol lebih dulu membuat Inter kehilangan momentum dan memberi keuntungan psikologis kepada lawan.
Chivu juga menyoroti perbedaan intensitas antara dua babak permainan.
“Kami memberikan yang terbaik untuk mencoba mencetak gol di babak pertama," kata pelatih Inter itu.
"Di babak kedua, mereka memiliki lebih banyak energi dan mencetak gol. Kami kecewa karena kami berusaha untuk lolos. Selamat kepada mereka, mereka pantas untuk lolos.”
Ia mengakui bahwa timnya mulai kehabisan tenaga setelah jeda, yang akhirnya dimanfaatkan lawan untuk mencetak gol penentu.
Bagi Chivu, kekalahan ini terasa menyakitkan bukan hanya karena hasil pertandingan, tetapi juga karena Inter harus mengakhiri perjalanan mereka di kompetisi elite Eropa.
“Kami kecewa, baik karena kekalahan maupun karena tersingkir. Mungkin jika kami mencetak gol pertama, kami akan memberi tekanan pada mereka," kata pelatih berusia 45 tahun itu.
Mereka bermain sangat baik dalam hal bertahan, dalam hal mengontrol ruang. Kami kehabisan tenaga di babak kedua, lalu kebobolan dua kali. Selamat kepada mereka," tambahnya.
Meski demikian, Chivu tetap menunjukkan sikap sportif dengan memberikan ucapan selamat kepada lawan yang dinilainya pantas melaju ke fase berikutnya.
Kini, Inter harus segera bangkit dan mengalihkan fokus ke kompetisi domestik setelah mimpi di Liga Champions musim ini resmi berakhir.
(Tribunnews.com/Ali)