TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah polemik yang menyeret para awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), penyanyi sekaligus aktivis lingkungan Tasya Kamila turut angkat suara.
Tasya menegaskan bahwa kontribusi seorang penerima beasiswa tidak semestinya berhenti ketika masa bakti formal telah usai.
Menurutnya, bentuk pengabdian bisa terus berlanjut melalui berbagai cara dan inisiatif nyata di masyarakat.
Belakangan ini, publik diramaikan dengan polemik yang menyeret nama awardee LPDP.
Perdebatan soal komitmen kembali ke Tanah Air hingga sejauh mana kontribusi nyata para penerima beasiswa negara memicu diskusi panas di media sosial.
Di tengah sorotan tersebut, penyanyi sekaligus figur publik Tasya Kamila memilih untuk tak berdiam diri.
Lewat Instagram pribadinya, Tasya memaparkan secara terbuka laporan kontribusinya selama masa bakti sebagai alumni awardee LPDP periode 2018–2023. Ia mengawali dengan pengakuan jujur yang menyentil nurani.
“Hai semua, sering kali aku ditanya soal apa kontribusiku sebagai alumni awardee beasiswa LPDP. Apalagi belakangan ini isu LPDP menjadi polemik. Buatku, kalian berhak bertanya soal ini!” tulisnya.
Sebagai sesama pembayar pajak, Tasya mengaku memahami ekspektasi publik. Baginya, dana pendidikan dari APBN adalah bentuk investasi rakyat yang harus dipertanggungjawabkan dengan hasil nyata bagi bangsa.
Tasya menempuh studi S2 di Columbia University, Amerika Serikat, mengambil jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy pada 2016–2018. Sejak awal keberangkatannya, ia telah menegaskan komitmen untuk kembali ke Indonesia dan menjalani masa bakti.
Namun baginya, pengabdian bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. “Kontribusi kepada negeri tidak berhenti di masa bakti. Ini perjalanan dan komitmen seumur hidup,” ungkap ibu dua anak tersebut.
Isu lingkungan dan keberlanjutan menjadi medan perjuangan utama Tasya. Melalui yayasan Green Movement Indonesia, ia menggerakkan berbagai program akar rumput:
Edukasi pilah sampah dan kompos dari rumah lewat media sosial dan workshop
Pembentukan komunitas peduli lingkungan dengan lebih dari 500 relawan
Kolaborasi dengan perusahaan FMCG dan ritel menghadirkan dropbox sampah kemasan
Keterlibatan dalam program carbon offset, ekonomi sirkular, reboisasi, dan penanaman mangrove
Ia juga dipercaya menjadi Duta Lingkungan Hidup serta tergabung dalam Dewan Pertimbangan Kalpataru 2022.
Sebagai figur publik, Tasya memanfaatkan platformnya untuk menjembatani komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia bekerja sama dengan berbagai kementerian seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi.
Perannya bukan sekadar wajah kampanye, melainkan juga sebagai penyampai pesan kebijakan dan edukator publik agar masyarakat lebih memahami program negara.
Di sektor pendidikan dan pemberdayaan pemuda, kontribusi Tasya pun tak kalah besar. Ia telah menghadiri lebih dari 100 acara sebagai pembicara, mengunjungi sedikitnya 50 universitas dan sekolah, serta menjangkau lebih dari 10.000 pemuda Indonesia.
Konten edukasi seputar beasiswa dan pengalaman studi S2 yang ia bagikan bahkan ditonton lebih dari satu juta kali di YouTube. Saat masih menjadi mahasiswa, ia juga aktif di forum internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mewakili pemuda Indonesia dalam berbagai forum global di New York.
Tak melupakan akar kariernya, Tasya tetap aktif di industri kreatif. Pada 2023, ia merilis lagu “Apa Kabar” bersama Arrasya yang meraih lebih dari 10 juta views di YouTube dan membawanya meraih penghargaan di Anugerah Musik Indonesia Awards 2024.
Ia juga konsisten berbagi konten parenting, tumbuh kembang anak, dan kesehatan demi mendukung visi Generasi Emas Indonesia.
Di balik semua itu, Tasya menyimpan kisah personal yang mengharukan. Ia tetap menyelesaikan studinya dengan IPK 3,75 meski harus menghadapi kepergian sang ayah dan tak bisa pulang karena masa ujian. Baginya, mampu bertahan secara mental dan menyelesaikan kuliah di tengah duka adalah pencapaian tersendiri.
Menutup unggahannya, Tasya menyampaikan, “Izinkan aku melaporkan apa saja yang sudah ku lakukan selama periode masa bakti LPDP dalam berkontribusi pada bangsa.”
Di tengah derasnya kritik terhadap para awardee, keterbukaan Tasya menjadi refleksi bahwa akuntabilitas bukan sekadar kewajiban formal melainkan panggilan moral.
Bagi Tasya, LPDP bukan hanya beasiswa. Ia adalah amanah. Dan amanah itu, tegasnya, berlaku seumur hidup.
***
(TribunTrends.com)