Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI TIMUR- Tak semua perjalanan hidup dimulai dari kepercayaan diri. Sebagian justru berangkat dari keraguan atau keresahan, bahkan ketakutan untuk sekadar berbicara.
Hal itu yang pernah dirasakan oleh Lania Octorra, seorang dosen public speaking di Universitas Islam Empat Lima (UNISMA), Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, yang kini justru terbiasa berdiri di depan kelas, hingga menyampaikan ilmu dengan penuh keyakinan.
Namun siapa sangka, di balik kemampuannya berbicara di depan umum saat ini, Lania pernah berada di titik sebaliknya.
Ia mengaku, dulu adalah pribadi yang cenderung introvert dan tidak percaya diri saat harus berkomunikasi.
“Justru saya mengambil jurusan ilmu komunikasi itu berangkat dari keresahan. Saya merasa belum bisa berbicara atau berkomunikasi dengan lancar,” kata Lania kepada Tribun Bekasi sembari mengenang masa lalu, Selasa (24/2/2026).
Perempuan yang lahir pada 2 Oktober 1985 itu memilih jalur yang tak biasa.
Ketika banyak orang memilih jurusan kuliah sesuai minat, ia justru menantang dirinya sendiri dengan masuk ke dunia yang selama ini menjadi kelemahannya.
Langkah itu perlahan mengubah hidupnya.
Ketika duduk di bangku kuliah S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid Jakarta, Lania mulai menempa diri.
Ia tak hanya belajar teori, tetapi juga mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengikuti beragam ajang, termasuk pemilihan duta pariwisata.
Tahun 2004, menjadi awal keberaniannya, sebab ia memberanikan diri mengikuti ajang Abang Mpok Kabupaten Bekasi dan berhasil meraih juara kedua.
Tak berhenti di situ, satu tahun kemudian, ia kembali mencoba kompetisi dan kali ini berhasil menjadi juara pertama.
Prestasi itu membawanya melangkah lebih jauh ke tingkat Jawa Barat dalam ajang Mojang Jajaka.
“Alhamdulillah di sana saya mendapat juara harapan dua. Dari situ saya benar-benar bisa mempraktikkan ilmu yang saya pelajari,” ujarnya.
Lania bercerita, perjalanan tersebut menjadi titik balik. Rasa gugup yang dulu kerap menghantui, kini perlahan berubah menjadi kekuatan.
Proses belajar Lania tak berhenti hingga saat itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar magister administrasi.
Dirinya mengaku tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benaknya untuk menjadi pengajar.
Hingga sebuah peristiwa mengubah arah hidupnya.
“Yang ingin saya menjadi dosen itu sebenarnya almarhum papa. Jadi ini seperti meneruskan cita-cita beliau,” imbuhnya.
Lania menuturkan, kesempatan itu datang dari seorang rekan yang melihat potensinya sebagai praktisi komunikasi.
Sejak saat itu, Lania mulai mengajar public speaking di UNISMA.
Kini, sudah tiga tahun ia berdiri di depan mahasiswa.
Beragam pengalaman sekaligus menanamkan keberanian yang dulu ia cari.
Dalam metode pengajarannya, Lania memilih pendekatan yang berbeda, yakni dengan menekankan praktik dibanding teori.
“Sekitar 80 persen praktik, 20 persen teori. Supaya mereka terbiasa dan tidak takut lagi berbicara di depan umum,” paparnya.
Bagi Lania, ketakutan terhadap public speaking adalah hal yang wajar.
Bahkan, ia meyakini setiap orang pasti pernah merasa gugup.
Namun yang membedakan adalah apakah berniat berlatih atau tidak.
Melalui agenda mengajar, Lania ingin menghadirkan perubahan.
Ia ingin mahasiswa yang ditemui hari ini, bisa melampaui batas dirinya sendiri, seperti yang pernah ia lakukan.
Dirinya juga mengingatkan, di tengah perkembangan teknologi dan kehadiran kecerdasan buatan (AI), kemampuan komunikasi tetap menjadi hal yang tak tergantikan.
“Soft skill seperti public speaking itu akan selalu dibutuhkan, di mana pun dan kapan pun,” imbuhnya.
Di akhir perbincangan, Lania menyampaikan pesan sederhana namun bermakna, yakni 'You never know until you try'.
Sebuah kalimat yang bukan sekadar motivasi, melainkan cerminan perjalanan hidupnya dari seorang yang takut berbicara, hingga kini menjadi suara bagi banyak orang di ruang kelas.
Terlepas dari padatnya aktivitas, Lania kerap menyempatkan waktu untuk rutin berolahraga.
Olahraga yang ia pilih adalah dengan berlari.
Beberapa event lari pun diakuinya sudah diikuti.
Sembari menambah relasi baik dan komunikasi dengan khalayak luas, berlari dinilainya mampu menjadi solusi menjaga kesehatan untuk dirinya di tengah kesibukan bekerja.
Terlepas dari padatnya kegiatan lalu diisi berolahraga, waktu bersama keluarga pun juga dinilainya perlu diperhatikan.
Sebab ketika berumah tangga, kebahagiaan tak hanya lagi difokuskan kepada pribadi masing-masing, namun juga kepada anak, dan suami.
"Wajib itu olahraga, kalau saya lari, intinya bisa dapat menjaga kondisi tubuh dengan baik di tengah aktivitas padat, sehingga mood positif terus," tutupnya. (M37)