TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Atlet andalan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Sumatera Utara (Sumut), Nur Ferry Pradana, harus mengambil keputusan berat dalam kariernya. Sprinter spesialis T47 tersebut mengikhlaskan kesempatan mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Para Games 2026 yang akan digelar di Aichi-Nagoya, Jepang, pada Oktober mendatang.
Peraih tiga medali emas pada ajang ASEAN Para Games di Thailand itu memilih absen dari pemanggilan Pelatnas demi memprioritaskan pemulihan cedera lutut yang masih membekas.
Di balik gemilangnya torehan tiga emas untuk Indonesia, Ferry ternyata menyimpan perjuangan besar. Ia mengalami cedera lutut serius sekitar 40 hari sebelum keberangkatan ke Thailand. Cedera tersebut bahkan memaksanya menjalani penanganan medis intensif hingga sehari sebelum turun bertanding.
Namun dengan tekad kuat dan semangat juang tinggi, Ferry mampu menahan rasa sakit dan tampil luar biasa. Ia sukses merebut emas dari nomor 100 meter T47, 200 meter T47, dan 400 meter T47. Prestasi itu terasa semakin istimewa karena diraih dalam kondisi fisik yang jauh dari kata ideal.
“Masih (dipanggil Pelatnas) karena MoU-nya sampai Paralimpiade. Tapi sekarang saya mau fokus pemulihan dulu setelah cedera di ASEAN Para Games. Setelah pemulihan ini, saya pasti akan kembali lagi,” ujar Ferry kepada Tribun Medan.
Saat ini, ia masih menunggu jadwal pertemuan dengan dokter untuk menentukan waktu operasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan sebelumnya, cedera yang dialaminya berada di lapisan tulang rawan lutut kaki kiri dan direkomendasikan untuk menjalani tindakan operasi demi pemulihan maksimal.
“Rencananya operasi di bagian tulang rawan lutut kiri. Dari dokter sebelumnya memang disarankan harus operasi. Sekarang masih menunggu jadwal karena dokternya masih ada kesibukan,” jelasnya.
Ferry memperkirakan masa pemulihan pascaoperasi bisa memakan waktu enam hingga sepuluh bulan. Artinya, ia hampir pasti melewatkan tahapan awal Pelatnas menuju Asian Para Games 2026.
“Kalau operasi, kemungkinan sekitar enam sampai sepuluh bulan saya harus cuti. Sementara nanti juga ada pemanggilan Pelatnas lagi untuk persiapan Asian Para Games di akhir tahun,” katanya.
Meski mencoba tegar, Ferry tak menampik adanya rasa kecewa dalam dirinya. Asian Para Games merupakan ajang bergengsi dengan level persaingan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ASEAN Para Games.
“Pasti ada rasa kecewa. Antusias menghadapi Asian Para Games itu lebih besar karena kompetisinya juga lebih tinggi. Seharusnya bangga dan senang bisa ikut, tapi kondisi memang tidak memungkinkan,” ungkapnya.
Asian Para Games 2026 sejatinya akan menjadi penampilan ketiganya di ajang tersebut. Pada edisi 2018 di Jakarta, ia meraih dua medali perak dari nomor 100 meter dan 400 meter. Kemudian di Hangzhou, China, Ferry kembali menyumbang satu perak dan satu perunggu dari nomor yang sama.
Kini, fokus utamanya adalah kesembuhan total agar bisa kembali ke lintasan dengan performa terbaik.
“Harapan saya proses pemulihan berjalan lancar, mulai dari operasi sampai rehabilitasi. Supaya keinginan saya untuk kembali ke lintasan bisa tercapai dan saya bisa membawa nama baik NPC Sumut dan Indonesia di kancah internasional lagi,” pungkasnya.
(Cr29/tribun-medan.com)