Puasa 12 Jam, Tapi Tubuh Tetap Kuat: Dokter Ginjal Bongkar Cara Tubuh Bertahan
Acos Abdul Qodir February 25, 2026 08:17 PM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang masih bertanya-tanya, bagaimana tubuh bisa tetap berfungsi normal saat puasa 12 jam tanpa makan dan minum?

Apakah benar tubuh “kekurangan gula”? Apakah berbahaya jika tidak ada asupan selama belasan jam?

 
Mekanisme Adaptasi Tubuh

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi, dr. Yulia Wardhani, Sp.PD, Subsp. GH. (K), menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme adaptasi yang cerdas.

“Puasa itu durasi waktunya sekitar 12 sampai dengan 14 jam ya. Tentunya akan berbeda-beda di masing-masing negara, kalau untuk kita di iklim tropis kemungkinan besar hanya sampai di 12 jam,” ungkap dr Yulia dalam talkshow kesehatan virtual Kementerian Kesehatan, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, selama periode itu tubuh mengalami perubahan hormonal dan metabolisme. Namun kabar baiknya, perubahan tersebut pada orang sehat justru bersifat fisiologis dan menguntungkan.

 
Tubuh Tidak Mendapat Gula, Lalu Apa yang Terjadi?

Saat puasa, tubuh tidak menerima glukosa dari makanan. Artinya, tidak ada gula yang masuk dari luar. Namun tubuh tidak serta-merta “kehabisan energi”.

“Pada saat asupan glukosa ini tidak didapatkan dari luar atau dari makanan, maka dia akan mencari asupan glukosa yang bisa didapat dari tubuh itu sendiri,” imbuhnya.

Sumber pertama yang dipakai adalah cadangan glukosa di hati (liver).

Organ ini memang menyimpan gula sebagai stok darurat, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 12–14 jam puasa.

Artinya, tubuh tidak langsung mengambil energi dari lemak dalam jumlah besar.

 
Proses Alami dan Terkontrol

Karena itu, pada orang sehat, penurunan gula darah selama puasa umumnya ringan dan segera diadaptasi tubuh.

Kondisi gula darah yang sangat rendah biasanya hanya terjadi pada individu dengan gangguan medis tertentu, seperti pasien diabetes yang menggunakan obat tertentu.

Selain makanan, cairan juga dibatasi selama puasa.

Namun, bukan berarti tubuh langsung mengalami masalah. 

Yang berubah sebenarnya adalah “jendela minum”. Kebutuhan cairan tetap sama, tetapi pemenuhannya hanya bisa dilakukan saat berbuka, sebelum tidur, dan sahur.

Jika asupan cairan di waktu tersebut tidak dikelola dengan baik, barulah risiko kekurangan cairan bisa muncul.

Baca juga: Mengapa Vaksin HPV Diberikan Usia 11 Tahun? Pakar Jelaskan Alasan Ilmiah

 
Adaptasi pada Berbagai Usia

Perubahan hormonal pun ikut menyesuaikan, dan respons ini berbeda pada anak-anak, dewasa, hingga lansia.

Pada usia tertentu, adaptasi bisa lebih lambat sehingga perlu perhatian lebih dalam pengaturan cairan.

Namun secara umum, pada tubuh yang sehat, puasa 12 jam merupakan kondisi yang bisa diadaptasi dengan baik.

Artinya, selama dilakukan dengan persiapan dan pengaturan yang tepat, tubuh sebenarnya sudah “dirancang” untuk mampu bertahan tanpa asupan dalam durasi tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.