TRIBUNTRENDS.COM - Bripda Masias Victoria Siahaya (MS) oknum anggota Brimob ramai menjadi sorotan.
Bagaimana tidak, ia tega menganiaya pelajar di di Kota Tual, Maluku hingga tewas.
Korban merupakan pelajar berinisial AT yang baru berusia 14 tahun.
Kejadian miris tersebut terjadi di sekitar kampus Uningrat, Kelurahan Ketsoblak, Kota Tual.
Awalnya ada anggota Brimob yang berpatroli mengejar anak-anak yang konvoi motor.
AT sejatinya bukan bagian dari kovoi tersebut. Ia hanya sedang mengendarai motor biasa.
Bripda Masias kemudian memukul AT menggunakan helm hingga terjatuh dari motor.
AT sempat dilarikan ke rumah sakit dan disebut sebagai korban terserempet mobil.
Pada akhirnya nyawa AT tak bisa diselamatkan.
Bripda MS kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam gelar perkara yang digelar Jumat (20/2/2026).
Kasus yang dialami AT memang menjadi perhatian nasional.
Tak sedikit yang kemudian menyampaikan rasa keprihatinan.
Baca juga: Brimob Aniaya Siswa hingga Tewas, Komisi III DPR: Jangan Sampai Ada Pihak yang Coba Menutupi Fakta
Di tengah ramainya sorotan terhadap kasus AT, anggota pemadam kebakaran (Damkar) Khairul Umam membuat konten perihal penggunan helm.
Namun, ia malah menerima teror usai membuat konten tersebut.
Dalam video, Khairul menjelaskan helm dirancang untuk melindungi kepala bukan untuk melukai kepala.
Konten itu diduga disalahartikan sebagai sindiran terhadap kasus dugaan kekerasan oleh aparat kepolisian, di mana seorang pelajar SMP meninggal dunia setelah dipukul menggunakan helm.
Khairul mengaku mendapat dua kali teror melalui chat pribadi Whatsapp pada Selasa (24/2/2026) malam dan Rabu (25/2/2026) pagi.
Awalnya, pengirim pesan mengaku sebagai penggemarnya, baik sebagai komika maupun petugas Damkar.
“Jadi terornya tuh di Whatsapp semua. Seperti yang saya bikin di story, ya awalnya dia ngaku jadi sebagai fans lah gitu-gitu segala macem,” ucap Khairul saat dihubungi Kompas.com, Rabu.
Dalam pesan pertama, pengirim meminta Khairul berhati-hati dan menyarankan agar ia menjaga keselamatannya.
“Ternyata ujung-ujungnya malah bilang saya harus pakai helm, jaga keselamatan saya, suruh minta sowan sama orangtua saya gitu-gitu,” kata Khairul.
Pesan kedua bernada serupa, disertai kalimat yang membuatnya merasa terancam.
Baca juga: Pelajar Tewas Dipukul Helm Brimob, Ketua BEM UGM Kritik Prabowo: Tidak Menjamin Keberpihakan Rakyat
“Ya halus-halus sih halus-halus gitu. Soalnya sempet juga dia ngomong, 'tunggu saya, ada kejutan buat kamu',” kata dia.
Menurut Khairul, pengirim pesan juga menyebut alamat lengkap rumahnya dan rumah istrinya, serta mengetahui nama orangtuanya.
“Alhamdulillah untuk saat ini buat keluarga sih masih aman-aman aja ya. Meskipun dia tuh nyampein alamat lengkap rumah saya dan rumah istri saya. Untungnya dia nggak tau alamat rumah orangtua saya," imbuh dia.
Khairul menegaskan, konten yang dibuatnya murni bertujuan edukasi dan hiburan.
“Saya mah cuma bilang pake helm itu gunanya untuk apa, melindungi kepala, bukan untuk melukai kepala warga. Kalau kayak gini, ya maksudnya iya karena kontennya emang buat lucu-lucuan dan buat funny aja gitu,” katanya.
Ia juga menegaskan tidak ada narasi dalam kontennya yang menyebut atau menyinggung institusi tertentu. Ia mengaku tak bisa mengontrol pemahaman setiap orang atas konten yang Khoirul buat.
“Kalau misalnya emang ada yang ngerasa tersinggung gini, saya sih yang saya pelajarin ya, maksudnya yang bisa saya kontrol adalah apa yang saya buat dan apa yang saya bikin. Ketika respons dari orang lain itu kan saya enggak bisa kontrol,” kata dia.
“Saya adakah narasi atau caption saya adakah narasi-narasi yang memang mengarah ke sana atau ada narasi-narasi yang menyebutkan instansi atau segala sesuatunya? Itu kan tidak. Karena saya pun kerja pakai helm,” tutur Khairul.
(TribunTrends.com)(Kompas.com/Ruby Rachmadina)