TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Orang tua siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengeluhkan pilihan menu kering yang dibagikan selama Ramadan.
Mereka menilai menu yang diberikan belum memenuhi aspek gizi penerima manfaat.
Keluhan tersebut salah satunya disampaikan Haksoro (45), warga Sawangan, Kabupaten Magelang.
Ia mengaku anaknya yang masih duduk di bangku TK mulai menerima menu kering sejak hari pertama masuk sekolah usai libur awal Ramadan dari SPPG Gondowangi, Sawangan, Senin (23/2/2026).
Menurut Haksoro, pada hari pertama anaknya mendapat roti, susu UHT, dan pisang.
Kemudian pada hari kedua, menu yang diberikan berupa tiga butir kurma, dua telur rebus, dan roti tawar.
Dia mengatakan, menu yang dibagikan pada hari berikutnya dinilai kurang layak yakni berupa kentang mustofa, kurma, dan jeruk.
“Nah hari ini sama ada yang lucu. Masak menunya kentang Mustofa. Kentang dipotong-potong, diiris kecil-kecil, terus lima butir telur puyuh dan jeruk,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Haksoro menjelaskan, menu tersebut merupakan paket untuk kategori anak TK dengan nilai anggaran sekitar Rp8 ribu per porsi.
Namun, ia menilai jika dihitung secara kasar, nilai makanan yang diterima tidak mencapai angka tersebut.
“Menu yang TK kecil ya Rp 8 ribu. Tapi, kalau saya menghitung sama istri nggak nyampai Rp 8 ribu. Dengan nominal buah harga Rp 2 ribu misalnya, hitungan kami paling kencang hanya Rp 5 ribu,” sambungnya.
Selain itu, ia juga mempertanyakan komposisi gizinya.
Dia mencontohkan, pada menu kentang Mustofa, kentang yang digoreng justru lebih banyak mengandung lemak ketimbang karbohidrat.
Sementara telur puyuh dinilai memiliki kadar kolesterol tinggi.
Haksoro juga menyinggung penggunaan bahan pangan, seperti susu UHT yang menurutnya masih melalui proses pengolahan.
Ia pun mempertanyakan apakah program tersebut lebih berorientasi pada penyesuaian anggaran atau benar-benar memperhatikan kandungan gizi.
“Kentang ada karbohidrat, tapi kalau kentang sudah diproses goreng berarti lebih banyak lemaknya ketimbang karbohidrat. Terus puyuh itu kan kolesterol tinggi,” ujar Haksoro.
Menurutnya, tujuan utama MBG seharusnya bukan sekadar memberi makan, tetapi memastikan kecukupan nutrisi bagi anak.
“Kandungan gizinya kan nggak masuk kalau segitu. Namanya programnya saja Makan Bergizi Gratis (MBG), jadi itu kan harus ada makanan bergizinya,” katanya.
Ia berpendapat penggunaan bahan lokal seperti susu segar dari daerah sekitar bisa lebih mendukung ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas gizi.
Meski demikian, ia mengakui bahwa menu MBG di luar Ramadan sebelumnya cukup baik karena memuat unsur sayur, lauk, dan buah. Ia berharap selama Ramadan pun tetap ada inovasi menu yang lebih layak.
"Kalau modelnya kayak begitu (menu kering) roti tawar dianggap karbohidrat. Padahal jelas ada gluten segala macam, terus fungsinya ahli gizi di dapur SPPG apa. Kalau dia tidak menghitung jumlah kandungan gizi dalam satu porsi,” ujar dia.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Magelang, Nrangwesthi Widyaningrum menjelaskan, menu yang diberikan telah disusun dengan mempertimbangkan sumber gizi.
Ia menyebutkan, menu hari pertama berupa roti isi kacang merah sebagai sumber karbohidrat dan protein nabati, susu UHT sebagai protein hewani, serta pisang sebagai sumber serat.
Sementara untuk menu kentang Mustofa, telur puyuh rebus, dan jeruk, masing-masing disebut mengandung karbohidrat, protein hewani, vitamin, dan serat.
“Menu kentang Mustofa (mengandung) sumber karbohidrat pengganti nasi, telur puyuh rebus sumber protein hewani dan jeruk sumber serat dan vitamin. Kentang mustofa Rp 3 ribu, telur puyuh rebus 5 butir Rp 2,5 ribu dan Rp 2,5 ribu,” kata dia.
Westhi juga menjelaskan bahwa perencanaan menu menyesuaikan harga dari koperasi setempat.
Oleh karena itu, pihak SPPG sebelumnya mengacu pada harga pasar dalam menentukan harga pokok penjualan (HPP).
“Untuk pemesanan SPPG menyesuaikan harga koperasi. Karena pembayaran ada di belakang setelah invoice atau tagihan keluar dari koperasi. Biasanya sebelumnya SPPG menyesuaikan harga pasar untuk HPP yang direncanakan,” ujarnya.
Saat ini, SPPG Gondowangi, Sawangan, masih menyalurkan program MBG ke 38 sekolah dan tujuh posyandu, dengan total penerima manfaat mencapai ribuan peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. (tro)